Kemarahan Seorang Ibu

1108 Kata
“Assalamualaikum.” ucap Viona, yang baru saja tiba di dalam ruangan Guru. “Waalaikumsalam.” balas Pak Helmi dan semua Guru. “Mah!” isak Clara, yang langsung memeluk Ibunya saat Ibunya duduk menghampirinya. Viona menangis melihat Clara yang sedari tadi menangis, dia kemudian memeluk keponakannya juga, yaitu Devin. “Ibu Viona, Ibunya Clara, Tantenya Devin?” tanya Pak Helmi. “Iya Pak, saya Ibunya Clara, dan Tantenya Devin.” “Apa Ibu sudah tahu, kenapa saya memanggil Ibu Viona ke sini?” “Saya tadi dengar, dari Kakaknya Gerald dan Liora, katanya, Devin dan Clara sudah melakukan hal yang sangat jahat kepada mereka. Apa itu benar, Pak?” “Iya Bu, benar. Devin dan Clara, telah melakukan hal yang sangat jahat kepada dua teman mereka, yaitu Gerald dan Liora. Mereka telah menjebak Gerald dan Liora, sampai membuat mereka viral satu Indonesia, viral karena berbuat m***m di aula sekolah, padahal ini semua hanyalah candaan Devin dan Clara saja.” “Astaghfirullahaladzim!” Viona sangat terkejut, saat mengetahui bahwa Devin dan Clara memang telah melakukan hal yang sangat jahat, air matanya pun langsung mengalir deras. “Perbuatan mereka ini benar-benar sangat membuat Gerald dan Liora menderita, karena mereka telah dihujat dan dicaci oleh semua orang, padahal mereka tidak melakukan kesalahan sama sekali. Perbuatan Devin dan Clara juga sangat memalukan nama sekolah, dan membuat nama SMA Garuda Bangsa menjadi sangat tercemar.” “Lalu bagaimana Pak? Apa yang harus saya lakukan sekarang?” isak Viona. “Devin dan Clara memang sudah melakukan hal yang sangat jahat, yang merugikan banyak orang, tapi mereka sudah menebus kesalahan mereka, dengan membuat video klarifikasi. Mereka sudah mengklarifikasi semua kebenarannya, yang perlahan bisa membuat nama baik Gerald, Liora, dan SMA ini kembali normal. Saya selaku Kepala Sekolah, telah memaafkan kesalahan mereka, dan tidak akan mengeluarkan mereka dari sekolah ini. Tapi tidak dengan orangtuanya Gerald dan Liora, mereka sudah merasakan sakit hati karena perbuatan Devin dan Clara, sehingga mereka memutuskan untuk menjebloskan Devin dan Clara ke dalam penjara.” Viona melepas pelukan dari Devin dan Clara. “Saya, sebagai orangtuanya Devin dan Clara, memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kesalahan mereka yang sudah mencemarkan nama baik sekolah ini. Untuk keputusan orangtuanya Gerald dan Liora itu, saya paham, karena saya juga orangtua, jadi, saya tidak keberatan, jika memang Anak dan Keponakan saya ini harus menerima hukuman itu.” Devin dan Clara langsung terkejut, saat mendengar Viona yang tidak keberatan jika mereka masuk penjara. “Tante!” isak Devin. “Tante kok ngomongnya gitu sih? Bukannya belain kita! Kenapa malah ngedukung kita masuk penjara?” “Iya Mah!” isak Clara. “Kenapa Mamah nggak belain kita? Kenapa Mamah malah setuju kalau aku sama Devin masuk penjara?” “Devin Clara! Orangtua mana yang tidak sakit hati, melihat Anaknya diperlakukan jahat seperti itu?” isak Viona. “Mamah aja kalau denger kalian dimarahin sama Guru, Mamah itu ngerasa sakit hati, apalagi orangtuanya Gerald sama Liora yang tahu kalau Anak mereka dibuat viral sampai dihujat oleh satu negara, karena kesalahan yang tidak mereka lakukan? Kenapa kalian jahat banget sih? Kenapa kalian ngelakuin itu sama temen kalian sendiri? Kenapa? Apa yang udah mereka lakuin ke kalian sampe kalian tega ngelakuin hal yang jahat banget ke mereka kayak gitu? Apa salah mereka?” Devin dan Clara hanya bisa menangis terdiam. Mereka tak mau jujur, jika mereka melakukan kejahatan ini karena tak rela melihat Gerald dan Liora bahagia. “Perbuatan kalian itu bener-bener di luar batas Anak remaja. Jadi, kalian pantas dapetin hukuman yang setimpal, kalian pantes buat masuk penjara. Bahkan hukuman penjara aja nggak cukup buat kalian!” “Tante jahat! Tante nggak mau belain kita!” isak Devin. “Aku bakalan telepon Papah aku, Papah pasti bakalan belain aku, nggak kayak Tante!” “Silahkan Devin!” isak Viona. “Silahkan kamu telepon Papah kamu! Papah kamu juga nggak akan ngebelain kamu, karena kamu itu salah, dan kamu juga Clara! Kalian berdua itu bener-bener bikin malu keluarga kita! Kenapa sih kalian ngelakuin hal tercela kayak gitu? Siapa yang ngajarin kalian? Perasaan Mamah sama orangtuanya Devin nggak pernah ngajarin kalian buat jahat kayak gini? Ya Allah Devin Clara! Kalian bener-bener keterlaluan!” Viona menangis dengan perasaan yang sangatlah hancur. Dia benar-benar tak menyangka, jika Anak dan Keponakannya itu telah melakukan perbuatan yang sangatlah jahat. “Mamah!” Clara memeluk Ibunya, dan memohon agar Ibunya mau membelanya. “Mamah jangan gini! Mamah aku nggak mau masuk penjara Mah aku nggak mau!” “Pak, jadi kapan mereka mau diurus ke pihak yang berwajib?” “Nanti Bu, menunggu kabar dari orangtuanya Gerald dan Liora. Lebih baik sekarang Ibu bawa Devin dan Clara pulang dulu.” “Iya Pak. Tapi sebelum itu, sekali lagi saya mengucapkan banyak-banyak kata maaf atas perbuatan Devin dan Clara yang telah mencemarkan nama sekolah ini.” “Sudah Bu! Lebih baik sekarang Ibu bawa Devin dan Clara pulang!” Viona mengangguk. “Kalau begitu saya permisi Pak, Bu. Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” “Ayo!” Viona kemudian menarik tangan Devin dan Clara dengan kasar untuk bergegas pulang. Setibanya di dalam mobil, Viona menatap mereka dengan tatapan air mata dan juga amarah yang membara. “Kalian! KALIAN BENAR-BENAR KETERLALUAN!” teriak Viona. “KENAPA KALIAN MELAKUKAN PERBUATAN SEJAHAT INI HAH? KENAPA?” Devin dan Clara terdiam dengan penuh tangisan. “JAWAB!” “Mamah nggak perlu tahu!” isak Clara. “Mending sekarang Mamah majuin mobilnya, ayo kita pulang!” “Oh! Nggak mau jujur kalian? Apa harus dipukul dulu baru kalian mau jujur hah?” “Tante cukup!” isak Devin. “Tante, kita udah gede ya, kita udah SMA sekarang! Kita bukan anak kecil lagi. Kita udah dewasa, kita punya urusan pribadi kita sendiri, yang nggak seharusnya selalu dicampurin sama orangtua.” “Sok bijak banget kamu ngomong kayak gitu, Devin!” bentak Viona. “Hidup masih dibiayain orangtua aja sok-sok an bawa-bawa dewasa!” “Ya terus? Kedewasaan orang itu bisa dilihat, kalau dia udah mandiri gitu? Anak SMA juga udah dewasa, Tante. Di masa SMA ini, kita semua tumbuh dewasa, dan berlalu dari masa kecil.” isak Devin. “Diem kamu! Selagi hidup kalian masih numpang sama orangtua! Kalian itu teteplah Anak-Anak, kalian masih tanggung jawab orangtua! Jadi, setiap urusan kalian, itu jadi urusan orangtua juga. Kalau kalian udah bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari orangtua, itu baru namanya dewasa, dan urusan kalian jadi urusan kalian sendiri, bukan urusan orangtua kalian lagi. Percuma aja ya Mamah, Papah, sama orangtua kamu Devin, punya banyak harta, tapi punya Anak-Anak bodoh kayak kalian, apa gunanya? Percuma!” Viona benar-benar sangat marah kepada Devin dan Clara yang sudah membuat dirinya sangat malu, dan merasa sangat gagal menjadi orangtua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN