Albert langsung melepas pelukan dari Gerald, setelah mendengar ucapan Liora yang mengajak untuk memaafkan Devin dan Clara.
“Apa? Lo ngajak kita semua buat ngemaafin Devin sama Clara?”
“Iya.”
“Liora otak lo di mana sih? Mereka berdua udah bikin lo sama Gerald viral satu Indonesia loh, terus lo dengan gampangnya ngemaafin mereka gitu aja.”
“Seperti yang udah lo bilang barusan Albert, mereka udah bikin video klarifikasi, yang udah ngembaliin lagi nama baik gue sama Gerald dan juga nama baik sekolah ini. Mereka udah nebus kesalahan mereka dengan bikin video klarifikasi itu. Bagi gue, itu adalah bentuk permintaan maaf yang sangat terpuji, dan pantes banget buat dimaafin.”
“Gue emang setuju, kalau video klarifikasi yang udah mereka buat, adalah bentuk permintaan maaf yang sangat terpuji. Tapi kalau buat ngemaafin mereka gitu aja, kayaknya nggak deh.”
“Kenapa Albert?”
“Liora, tolong buka pikiran lo! Jangan setiap masalah yang udah ngerugiin orang, itu selalu selesai hanya dengan video klarifikasi minta maaf, itu tuh udah basi tahu nggak? Minta maaf itu emang baik, dan sangat terpuji, tapi setiap kesalahan, itu nggak bisa dimaafin gitu aja. Devin sama Clara tetep harus dapetin hukuman, supaya itu bisa ngasih efek jera ke mereka. Kalau kita ngemaafin mereka gitu aja, bisa aja mereka malah ngulangin kesalahan yang sama lagi. Ayo dong Liora! Berpikir dewasa! Ini bukan drama, jadi tolong jangan terlalu baik jadi orang! Lagi pula, kalaupun mereka dimaafin gitu aja, mereka nggak bakalan dimaafin gitu aja sama semua orang. Malah mereka bakalan dapetin cacian yang lebih sadis, karena mereka udah dimaafin gitu aja hanya dengan video klarifikasi minta maaf. Lo kayak yang nggak tahu soal kayak gituan.”
Liora langsung terdiam, setelah mendengar ucapan Albert barusan.
“Nah! Dengerin kata Albert, Liora!” ucap Gerald. “Itu pasti udah jelas kan buat kamu? Apa perlu diperjelas lagi?”
“Udahlah, daripada kita ngebahas hal ini terus, mending kita pulang!” ajak Silvia. “Yuk!” Silvia kemudian merangkul Liora, lalu melangkah pulang.
“Ayo pulang Gerald!” ajak Anton.
“Gue pulang duluan ya Bert!”
“Iya hati-hati di jalan.”
“Kita duluan ya Albert!” ucap Anton.
“Iya Kak.”
Anton pun kemudian merangkul Gerald, lalu melangkah pulang menyusul Silvia dan Liora yang sudah menunggu di depan mobilnya Anton.
“Kak Silvia.” panggil Gerald.
“Iya?”
“Kakak duduk di depan ya! Aku mau duduk di belakang sama Liora.”
“Oh, oke.”
Anton dan Silvia lalu duduk di depan, sedangkan Gerald dan Liora duduk di belakang. Setelah itu, mobil langsung melaju pulang.
“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Liora kepada Gerald yang sedari tadi terus menatapnya. “Kesel kamu sama aku? Karena aku udah belain Devin sama Clara?”
“Emang muka aku kelihatan kesel gitu ngelihat kamu?”
“Ya, nggak sih.”
“Ya terus, kenapa kamu bilang kalau aku kesel sama kamu?”
“Ya habisnya, kamu ngelihatin aku terus.”
“Kamu kan tahu kalau kamu cantik, jadi salah ya kalau aku ngelihatin kamu?”
Liora langsung terkesipu malu, setelah mendengar ucapan Gerald barusan. Begitupun dengan Anton dan Silvia yang terkekeh melihat keromantisan Adik-Adiknya itu.
“Apaan sih kamu?” ucap Liora dengan senyuman malu.
Gerald tersenyum melihat wajah Liora yang sangatlah imut.
“Oh iya, kalian pada laper nggak?” tanya Anton.
“Laper Kak.” jawab Liora. “Traktir makan dong!”
“Liora. Jaga sikap dong jangan gitu ah!” ucap Silvia. “Kamu kan udah dikasih uang jajan, ngapain minta traktir sama Kak Anton?”
“Ya emang kenapa? Salah ya kalau aku minta traktir sama calon Kakak Ipar aku?”
“Asik!” cengir Gerald.
“Haha.” Anton pun tertawa.
“Njir.” Silvia langsung terkekeh setelah mendengar ucapan Liora barusan.
“Hehe!” Liora tercengir.
“Yaudah, yuk mau makan apa? Kakak traktir.” ucap Anton.
“Nggak usah, Ton. Gue sama Liora bisa bayar sendiri, kok.”
“Nggak apa-apa Sil, santai aja. Sekalian ngerayain nama baik Adik-Adik kita yang udah kembali normal.”
“Tapi,”
“Udah nggak apa-apa. Yuk! Kalian mau makan apa?”
“Makan ayam geprek aja yuk!” ajak Gerald kepada Liora. “Udah lama banget aku nggak pernah makan ayam geprek lagi.”
“Boleh, ayo!”
“Makan ayam geprek aja, Kak.” balas Gerald.
“Iya.” ucap Liora.
“Ayam geprek? Oke gas.”
“Oh iya, Kak Silvia kok bisa kenal sih sama Kakak aku?” tanya Gerald. “Kalian kenal dari mana?”
“Kakak sama Kakak kamu itu, temen kuliah satu kelas.”
“Oh, jadi kalian satu kelas. Kakak kok nggak pernah nyerita sih kalau Kakak satu kelas sama Kak Anton?” ucap Liora.
“Ngapain Kakak nyeritain hal kayak gituan? Kakak aja baru tahu kalau Gerald itu Adiknya Anton.”
“Kakak juga baru tahu, kalau kamu itu Adiknya Silvia. Tadi kita panik bareng, waktu dapet telepon dari kalian yang nangis di sekolah. Yaudah deh kita berangkat bareng.” ucap Anton.
“Ooh gitu.” balas Gerald.
“By the way, kita mau ke tempat ayam geprek yang di mana nih?” tanya Liora.
“Yang di langganan Kakak sama Gerald aja, di deket alun-alun.”
“Emang ada tempat makan ayam geprek di deket alun-alun?” tanya Silvia.
“Ada. Enak banget loh ayamnya.” balas Anton.
“Baru tahu, kalau ada penjual ayam geprek di sana.” ucap Liora.
“Emang kalian nggak pernah ke alun-alun?” tanya Gerald.
“Jangankan ke alun-alun, makan malam bareng di rumah aja, jarang banget.” balas Liora.
“Hah? Kenapa?” tanya Anton.
“Karena Mamah sama Papah kita selalu sibuk sama urusan kantor, jarang banget ada di rumahnya. Paling kalau malem, suka dibawain makanan dari area deket kampus sama Kak Silvia. Soalnya kalau Mamah sama Papah nggak ada di rumah, kita nggak boleh pergi ke mana-mana.” jawab Liora.
“Tapi kalau orangtua kalian ada di rumah, kalian boleh main keluar?” tanya Gerald.
“Boleh.” jawab Liora.
“Kirain cuma kita doang ya, Kak? Yang nggak pernah dibolehin keluar rumah sama orangtua.” ucap Gerald.
“Udah ah, itu mah masa lalu. Jangan dibahas-bahas lagi!” balas Anton.
Setelah melewati perjalanan kurang lebih selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di area alun-alun. Kemudian, mereka tiba di depan tempat makan ayam geprek langganannya Anton dan Gerald.
“Dah sampe! Yuk!” ucap Gerald, setelah itu langsung keluar dari mobil. Liora lalu menyusulnya. “Yuk masuk!” dia dan Liora kemudian langsung memasuki tempat tersebut.
Silvia dan Anton pun lalu menyusul mereka.
“Di sini!” Gerald mengajak Liora untuk duduk di bangku yang berada di pojok, di dekat jendela.
“Lo duluan aja duduk sana!” ucap Anton kepada Silvia. “Biar gue yang mesenin makanannya.”
“Oke.”
Silvia kemudian langsung duduk bersama Gerald dan Liora.
“Mbak, pesen ayam gepreknya 4 porsi ya, sama jus mangganya 4.”
“Siap Mas, ditunggu ya.”
“Iya.”
Setelah memesan, Anton lalu duduk bergabung bersama yang lainnya.