Liora tersenyum mendengarnya.
“Syukur deh, aku ikut seneng ngedengernya.”
Gerald tersenyum. “Yaudah, kita jalan ya?”
“Iya.”
Gerald kemudian langsung melajukan mobilnya, menuju taman kota.
“Mau ke mana nih kita?”
“Kamu maunya ke mana?”
“Terserah kamu.”
“Aku mau ajak kamu ke taman kota. Tapi kalau kamu mau pergi ke tempat lain boleh kok.”
“Nggak ah, terserah kamu aja.”
“Loh? Emang kamu nggak mau pergi ke mana gitu?”
“Nggak.”
“Serius?”
“Mau ke mana aja, asal sama kamu, aku sih ayo-ayo aja.”
“Dih!” Gerald tercengir mendengarnya.
“Kok ketawa?”
“Ya lucu aja dengernya.”
“Jangan cengir-cengir kayak gitu! Nyetirnya harus fokus.” cengir Liora.
“Iya sayang iya.” Gerald lalu terdiam, fokus mengemudi mobil.
Liora menatap Gerald dengan penuh senyuman.
“Kenapa ngelihatin kayak gitu?”
“Kamu ganteng banget ih, keren lagi, pake style kayak gitu!”
“Hahah, jelas.” cengir Gerald.
“Tumben PD. Biasanya, cowok yang ngerasa ganteng, suka merendah buat ngeroket.”
“Aku kan pernah bilang sama kamu, kalau aku nggak suka sama tipe orang yang suka ngerendah. Makanya aku bangga aja sama diri aku sendiri, apapun keadaannya, aku tetep PD kalau aku ganteng.”
“Tapi kan kamu emang ganteng, itu faktanya.”
“Jadi kamu suka sama aku, karena aku ganteng?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Kepo.”
“Jelas dong! Aku pengen tahu, kamu suka sama aku dari apanya?”
“Mau tahu, atau mau tahu banget?”
“Mau tahu banget dong.”
“Oke deh, aku kasih tahu.”
“Jadi?”
“Jadi sebenernya, kegantengan kamu itu cuma bikin aku terpesona sama kamu, nggak bikin aku suka sama kamu.”
“Terus, yang bikin kamu suka sama aku, apa dong?”
“Karena kamu cowok pinter, makanya aku suka sama kamu. Apalagi pas denger kamu katanya juara terus waktu SMP, itu langsung bikin aku suka sama kamu.”
“Masa sih?” cengir Gerald. “Bukannya kamu suka sama aku karena aku ganteng ya?”
“Nggak ih. Aku suka sama kamu karena kamu itu cowok pinter.” cengir Liora.
“Tapi kata kamu, kamu suka sama aku waktu lihat aku di pantai Bali waktu itu. Kok sekarang alasannya jadi beda sih?”
“Nggak ah, aku nggak bilang suka. Aku bilangnya terpesona sama kamu.”
“Sayang kamu jangan munafik deh, kalau suka dari fisik ya bilang aja!”
“Kok kamu bilangnya gitu sih? Kok kamu bilang aku munafik? Nggak enak banget didengernya.”
Ucapan Gerald yang mengatakan jika Liora munafik, mendadak membuat Liora kesal.
“Yah! Kayaknya ucapan gue bikin Liora marah deh. Gue lupa, cewek itu kan sensitif, harusnya gue lebih bisa jaga omongan. Gerald-Gerald!” ucap Gerald dalam hati.
“Oh iya aku lupa! Kamu kan nggak pernah pacaran ya, jadi ya sekalinya pacaran kek gitu.”
“Kek gitu gimana maksudnya?”
“Ya kek gitu, planga-plongo, seenaknya aja kalau ngomong.”
“Yang, kok ngomongnya gitu? Sakit banget loh didengernya!”
“Ya kamu yang mulai duluan! Kamu pikir nggak sakit apa dibilang munafik! Najis banget!”
Gerald lalu menghentikan mobil di tepi jalan. Kemudian menatap Liora yang memalingkan wajah dengan kesal darinya.
“Yaudah aku minta maaf ya, aku nggak ada niatan kok buat bikin kamu kesel. Maafin aku ya.”
Liora kemudian menatap Gerald dengan tatapan penuh rasa kesal.
“Maafin aku.”
“Jangan diulangin lagi.”
“Iya, siap.” ucap Gerald dengan penuh senyuman.
“Yaudah ayo lanjut!”
“Senyum dulu dong! Mukanya jangan cemberut terus gitu!”
Liora tersenyum. “Udah, ayo lanjut!”
“Bilang Ayang Gerald ganteng dulu!”
“Dih!” Liora tercengir.
“Ayo! Bilang Ayang Gerald ganteng, pake ucapan yang lembut! Baru nanti aku bakalan lanjut.”
“Ayang Gerald ganteng.” ucap Liora dengan lembut dan penuh senyuman.
“Aww!” Gerald tercengir sembari menyentuh dadanya. “Baper banget!”
Liora tercengir melihat tingkah kekasihnya itu. “Udah, aku udah ngelakuin yang kamu mau. Ayo sekarang lajuin lagi mobilnya! Nanti keburu malem.”
“Iya sayang iya.”
Setelah membujuk Liora agar berhenti marah, dan memaafkannya, Gerald langsung kembali melajukan mobil, menuju taman kota.
“Eh! Tadi kamu bilang kan, sepupu kamu, si Albert bakalan pindah ke sekolah kita?”
“Iya.”
“Dia ganteng juga nggak?”
“Gantenglah, sepupu aku. Dia juga keren banget! Soal style dia nggak pernah gagal.”
“Berarti si Albert itu lebih dominan ke keren ya?”
“Ya gitulah.”
“Hmm, baguslah.”
“Bagus apanya? Kamu mau deketin dia?”
“Ya nggaklah, aku kan udah punya kamu. Aku itu udah jadi perempuan paling sempurna di dunia ini, karena bisa dapetin cowok sesempurna kamu.”
Gerald tersenyum. “Lebay.”
Liora tercengir.
“Terus, kamu bilang bagus buat Albert, itu maksudnya apa?”
“Baguslah, berarti nanti dia bisa deket sama Alexa, kalau bisa sampe pacaran. Jadi nanti biar dia aja yang bantuin Albert buat sembuh dari gynophobia.”
“Kok jadi bawa-bawa Alexa sih?”
“Karena tipe cowok Alexa itu, cowok keren, yang pinter ngatur style. Terus kata kamu, sepupu kamu itu pinter banget stylenya, ya pasti Alexa bakalan suka sama dia.”
“By the way, Alexa itu ada keturunan bule ya?”
“Bukan ada lagi, emang dia keturunan bule.”
“Nurun dari siapa?”
“Dari Papahnya. Papahnya itu orang Jerman, nikah sama Mamahnya yang asli orang Jakarta. Makanya si Alexa mukanya bule banget, karena nurun dari Papahnya.”
“Kalau gitu, cocok banget dong dia sama Alexa. Soalnya, tipe cowok Albert itu, cewek yang mukanya bule. Si Alexa kan keturunan bule asli, udah pasti dia bakalan klepek-klepek deh sama si Alexa.”
“Wah, mantap nih! Mereka berdua sama-sama cocok sama tipe masing-masing. Semoga aja pas mereka udah ketemu nanti, mereka bakalan saling suka, terus saling jadian deh. Supaya nanti Alexa yang bakalan bantuin Albert buat sembuh dari gynophobia.”
“Emang kamu nggak mau gitu? Bantuin Albert buat sembuh juga?”
“Nggak gitu. Albert sama Alexa kan tipenya sama ya, jadi ya kita bantuin aja mereka buat jadian. Supaya Albert punya cewek istimewa yang bakalan bantuin nyembuhin gangguannya. Biarin aku fokus sama kamu, aku kan pacar kamu.”
“Iya juga sih, bener.”
“Jadi penasaran deh aku sama mukanya si Albert itu. Seganteng dan sekeren apa sih dia?”
“Dia juga mukanya agak kayak bule. Cool banget, putih banget kulitnya.”
“Kayak bule, apa emang keturunan bule?”
“Kayak bule, dia nggak ada keturunan bule, orang Kakek sama Nenek aku orang Indonesia asli.”
“Kayak kamu dong, kamu juga putih.”
“Dia lebih putih, bersih banget pokoknya. Skincarenya aja banyak banget di kamarnya.”
“Wih mantap! Tipe cowok yang sayang banget sama diri sendiri, makanya rajin banget ngerawat diri.”
“Ya tapi kalau cowok, buat apa sih putih-putih banget? Sawo mateng aja buat aku cukup.”
“Ya mungkin dia gantengnya harus putih. Beda sama kamu. Kalau kamu, mau gimana aja tetep ganteng.”
“Ah si cantik muji terus.” Gerald tercengir. “Bikin salting mulu dari tadi.”
“Haha.” Liora tercengir.