Istirahat Bersama

1193 Kata
Bel istirahat berbunyi di SMA Garuda Pancasila. Semua murid langsung bergegas pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka masing-masing. “Gerald.” panggil Liora menghampiri Gerald. “Kantin bareng yuk! Ada yang mau aku omongin ke kamu.” “Boleh. Mau ke kantin yang mana?” “Kantin lantai atas aja. Kamu belum pernah ke sana kan?” “Oke. Ayo!” “Yuk!” Gerald dan Liora kemudian langsung pergi bersama menuju kantin di lantai atas sekolah. Setibanya di sana. “Kamu mau mesen apa?” “Kamu sendiri mau mesen apa?” “Aku mau mesen mie ramen, sama bobba strawberry.” “Samain aja kayak kamu.” “Oke. Kalau gitu aku pesen dulu ya, kamu tunggu di sini.” “Oke sayang.” Gerald lalu duduk di bangku kantin, sementara Liora pergi memesankan makanan. Setelah selesai memesan, dia kembali menghampiri Gerald. “Jadi, kamu mau ngomong apa?” tanya Gerald. “Kamu nggak kepo gitu, sama Papah kamu yang udah ngomong ke aku tadi pagi?” “Oh iya. By the way, tadi pagi Papah aku ngomong apa sama kamu?” “Papah kamu cuma minta tolong sama aku, supaya aku temenin kamu sampe kamu bener-bener sembuh dari gynophobia. Intinya, dia udah percaya sama aku.” “Serius Papah aku ngomong kayak gitu?” “Iya.” Gerald tersenyum. “Itu artinya, Papah udah ngasih lampu hijau buat hubungan kita. Jaga baik-baik ya sayang!” Liora tersenyum. “Iya, aku juga nggak nyangka banget, kalau Papah kamu bisa langsung percaya gitu aja sama aku. Oh iya, selain itu, ada juga yang mau aku omongin.” “Apa?” “Kemarin malem, waktu kamu jemput aku, Papah aku pengen ketemu sama kamu. Aku sih bilang janjinya selesai date, ajak kamu ke rumah. Tapi karena kamu lupa ngerjain PR, makanya nggak jadi.” “Terus, gimana reaksi Papah kamu?” “Dia ngebet banget pengen ketemu sama kamu. Hari ini kamu bisa nggak ke rumah aku, buat ketemu Papah?” “Nanti malem, bisa mungkin.” “Beneran?” “Aku usahain ya.” “Oke. Jangan lupa bawa martabak ya!” “Siap.” cengir Gerald. Dari belakang mereka, ada Clara yang sedang jajan di sana bersama Reva dan Vitta. Saat melihat Gerald yang berduaan bersama Liora seperti itu, benar-benar membuat hati Clara terasa sangat sakit. “Sakit banget sih rasanya! Harus ngelihat cowok yang gue sayang jadi milik orang lain!” ucap Clara dalam hati. “Lagian si Devin lama banget sih mau beraksinya! Pake acara harus nungguin pelajaran olahraga minggu depan segala. Padahal gue udah mau ngelihat mereka menderita sekarang juga!” “Oh iya, by the way tadi si Albert ke sekolah?” tanya Liora. “Iya, dia ikut Papahnya buat ngurus perpindahan sekolahnya. Ya sekalian sambil lihat-lihat sekolah baru katanya.” “Kapan mulai masuknya?” “Besok.” “Di kelas mana?” “Di kelas kita dong, karena dia maunya sekelas sama aku.” “Si Alexa suka ya sama dia beneran kayak yang udah kita duga?” ucap Liora sembari tersenyum. “Iya.” Gerald pun tersenyum. “Jelas dia pasti suka sama si Albert, kan dia tipenya Alexa banget.” “Kira-kira, Albert bakalan suka nggak ya sama Alexa?” “Pasti sukalah, kan katanya tipe cewek Albert itu yang cantik mirip bule. Alexa kan bule asli, jelas dia pasti suka sama Alexa.” “Ya, kita lihat aja besok.” “Tapi aku belum lihat orangnya kayak gimana? Ada fotonya nggak?” “Lihat aja besok sendiri.” “Ih! Penasaran aku tu.” “Lihat aja besok sendiri. Intinya, gantengan aku ke mana-mana.” cengir Gerald. “Ah kamu!” Liora pun tercengir. “Kalau ngomong suka bener.” “Haha.” Tak lama kemudian, Ibu kantin mengantarkan pesanan mereka, yaitu mie ramen dan minuman bobba strawberry. “Makasih Bu.” ucap Liora. “Sama-sama.” “Wih! Mantap! Sekolah berasa mall, ada mie ramen sama bobbanya dong.” ucap Gerald. Mereka lalu langsung menyantap makanan mereka itu. “Jelas! Ini kan SMA Garuda Bangsa, sekolah paling favorite di kota ini. Apa yang ada di sini, jelas nggak ada di sekolah yang lain.” “Salah satu nggak sih, bukan yang paling? Di kota ini kan ada SMA favorite juga, SMA Merdeka Harapan.” “SMA Merdeka Harapan emang favorite, tapi yang nomor 1 di kota kita itu, ya SMA kita ini.” “Setahuku, Garuda Bangsa sama Merdeka Harapan itu suka saling kejer tiap tahunnya. Kadang tahun ini, Garuda Bangsa di atas, tahun besok, Merdeka Harapan yang di atas.” “Menurut kamu, bagusan mana antara sekolah kita sama SMA Merdeka Harapan?” “Jelas bagusan, Merdeka Harapanlah.” “Loh! Kok gitu?” “Merdeka Harapan punya luas bangunan sekolah dua kali lipat dari SMA Garuda Bangsa. Merdeka Harapan, udah pernah dapet piala penghargaan dari luar negeri, di sana juga ada program beasiswa buat ngebantu siswa-siswi yang kurang mampu. Seragamnya keren, pendaftarnya selalu banyak, maka dari itu sekolahnya luas, sampe tiga tingkat sekolahnya.” “Kamu tahu itu dari mana?” “Dari Kakak aku. Dia alumni SMA Merdeka Harapan.” “Kalau menurut kamu, SMA Merdeka Harapan itu jauh lebih baik daripada SMA ini, kenapa kamu malah daftar ke sini? Bukan daftar ke sana?” “Sebenernya, aku nggak ada niatan sama sekali buat daftar ke SMA Garuda Bangsa ini. Aku dari awal naik ke kelas 9 dulu, aku udah ada rencana buat masuk ke SMA Merdeka Harapan. Tapi,” “Tapi apa?” “Tapi Papah aku, nyuruh aku buat masuk ke sekolah ini. Karena, Tevi sama Rival daftar ke sini, dan juga, karena Papahnya Rival itu kepala Sekolah di sini.” “Hubungannya apa sama mereka?” “Dulu, Papah pernah mergokin Kakak aku lagi pacaran pas sepulang sekolah. Di situ, Papah kecewa banget sama Kakak aku. Makanya, dia nggak ngizinin aku buat sekolah di Merdeka Harapan, dia lebih ngizinin aku buat sekolah di sini. Karena di sini, ada dua sahabat aku sejak SMP, sekaligus Kepala Sekolahnya itu kan Papahnya Rival, Pak Helmi, yang udah deket banget sama Papah. Jadi kalau aku sekolah di sini, Papah bisa mantau aktivitas aku dari Tevi sama Rival, dan juga Pak Helmi. Supaya aku nggak ngelanggar larangan Papah kayak Kakak aku.” “Oh gitu. Jadi aslinya, kamu nggak ada niatan buat sekolah di sini?” “Nggak.” “Tapi kamu bangga kan, bisa jadi murid SMA Garuda Bangsa?” “Nggak.” “Kok gitu sih?” “Karena aku cintanya sama SMA Merdeka Harapan. Impian aku cuma pengen masuk sana, tapi kenyataannya aku harus masuk ke sekolah ini. Emang sih, sekolah ini sekarang posisinya jauh lebih bagus dari SMA Merdeka Harapan, tapi hati aku tetep aja selalu mikirin SMA Merdeka Harapan.” “Nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa masuk SMA favorite yang kamu mau. Asalkan nanti, kamu bisa masuk universitas favorite kamu ya! Karena kalau SMA, sebenernya di mana aja sama, tapi kalau kuliah, ya kamu tahu sendirilah?” Gerald tersenyum. “Aku juga sih punya pemikiran gitu. Kok bisa samaan sih?” “Ya karena kita jodohlah.” “Aamiin.” Mereka saling tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN