Waktu terus berjalan, sampai tibalah waktu pulang sekolah, yang seperti biasa ditandai dengan berbunyinya bel tanda pulang sekolah.
Semua murid kemudian langsung bergegas pulang. Termasuk Liora, dia langsung bergegas pulang dengan mobil jemputannya yang sudah menunggu di depan sekolah.
“Liora!” panggil Gerald dari belakang.
Liora langsung menghentikan langkah kakinya, dan menatap ke arah Gerald yang berjalan menghampirinya.
“Ada apa?”
“Aku mau ngomong, sebentar.”
“Mau ngomong apa?”
Gerald terdiam.
“Kamu kok malah diem? Mau ngomong apa?”
Gerald menghela napas panjang. “Aku minta maaf ya.”
“Minta maaf, minta maaf buat apa?”
“Maaf, kayaknya aku belum bisa deh buat ketemu sama Papah kamu.”
“Loh! Kenapa?”
“Aku takut, kalau nanti Papah kamu tahu, kalau aku ini punya gangguan gynophobia. Aku nggak mau kalau aku sampe kelihatan gitu di depan Papah kamu.”
Mendengar perkataan Gerald barusan, membuat Liora langsung tersadar, jika Gerald memang belum sepantasnya bertemu dengan keluarganya, terutama Ayah dan Ibunya.
“Oh iya ya? Aku baru mikir ke sana. Aku kan punya Kakak cewek, nanti pasti kamu bakalan kelihatan gynophobia, karena pasti kamu harus cium tangan sama Kakak aku. Terus nanti pasti kita bakalan duduk deketan, nggak mungkin kita duduk pisahan kayak orang asing.”
“Nah! Aku juga baru mikir ke sana. Aku takut banget kalau sampe gangguan aku ini terjadi di hadapan orangtua kamu. Terus nanti orangtua kamu ngelarang aku buat berhubungan sama kamu, karena aku punya gangguan gynophobia, aku nggak mau kalau hal itu sampe terjadi.”
“Iya, kamu bener. Ini emang belum waktunya buat kamu ketemu sama orangtua aku. Waktu yang lebih baik supaya kamu bisa ketemu orangtua aku ya cuma, kalau kamu udah sembuh.”
“Maaf ya.”
“Nggak apa-apa, kok. Ngapain kamu minta maaf?”
“Ya maaf, karena aku nggak bisa menuhin permintaan Papah kamu buat ketemu.”
“Ya nggak apa-apa lah sayang. Ngapain kamu minta maaf? Nanti aku gampang kok tinggal cari alesan buat ngomong ke Papah.”
Gerald tersenyum. “Makasih ya. Kamu bisa ngertiin aku.”
“Always.” Liora pun tersenyum.
“Yaudah! Yuk pulang!”
Liora mengangguk. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju mobil jemputan mereka masing-masing. Tak lama kemudian, tibalah mereka di sana.
“Loh! Itu kan mobil Kak Arnold? Dia yang jemput gue?” ucap Gerald dalam hati, saat melihat kehadiran mobil Kakaknya.
“Sayang.” panggil Liora. “Aku pulang ya.”
“Iya.” balas Gerald. “Hati-hati di jalan ya.”
“Kamu juga.” Liora tersenyum, “Bye” lalu melambaikan tangannya kepada Gerald.
Gerald pun melambaikan tangannya kepada Liora. Setelah itu Liora memasuki mobilnya, dan dia memasuki mobil Arnold.
“Tumben Kakak yang jemput?”
“Hari ini Kakak selesai kuliah siang, jadi udah santai. Daripada gabut di rumah, jemput kamu aja, sekalian mau lihat kamu terapi di psikiater.”
“Oh gitu. Yaudah ayo!”
“Psikiater yang mana?”
“Psikiater Dokter Rendy. Kakak tahu?”
“Jelas, karena Kakak juga dulu di sana.”
“Oke.”
Arnold lalu langsung melajukan mobilnya menuju psikiater Dokter Rendy. Setibanya di sana, mereka langsung mendatangi Dokter Rendy untuk terapi pengobatan Gerald seperti biasa.
“Sore Dok.” sapa Gerald.
“Sore Dok.” sapa Arnold.
“Sore.” balas Dokter Rendy.
Arnold dan Gerald kemudian duduk menghadap Dokter Rendy.
“Hai Dok! Apa kabar?” tanya Arnold.
Dokter Rendy terdiam sejenak menatap Arnold. “Kamu, kayaknya saya pernah lihat kamu sebelumnya.”
“Saya Arnold Dok, pasien gangguan gynophobia Dokter Rendy, 4 tahun yang lalu.”
“Arnold?” Dokter Rendy mencoba mengingatnya. “Oh iya Arnold.” Sampai akhirnya dia mengingat jika Arnold adalah pasiennya yang pernah dia terapi sampai sembuh. “Udah dewasa ya kamu sekarang?” Dokter Rendy lalu tersenyum kepada Arnold.
Arnold pun tersenyum. “Iya Dok.”
“Berapa umur kamu sekarang?”
“Umur saya sekarang 20 tahun, dan sekarang saya udah bisa ngejalanin hidup saya dengan normal. Sekarang saya udah kuliah semester 3. Makasih ya Dok, atas bantuan Dokter, saya bisa sembuh dari gynophobia.”
“Alhamdulilah, seneng banget saya dengernya. Terus, ini, kamu Kakaknya Gerald apa gimana?”
“Iya, saya Kakaknya Gerald.”
“Ooh, pantesan. Faktor didikan orangtua, membuat kalian harus mengalami penderitaan yang sama.”
“Tapi saya bersyukur Dok, karena sekarang Papah kita udah ngebebasin kita. Hal itu bikin Adik saya nggak perlu ngerasain penderitaan yang saya alamin dulu. Ditambah lagi Adik saya punya pacar, jadi peluang untuk dia sembuh dengan cepat pasti ada.”
“Iya Arnold, kamu benar. Peluang untuk Gerald bisa sembuh lebih cepat, itu memang benar-benar besar sekali untuk terjadi.”
“Jadi, saya bisa sembuh dengan cepat Dok?” tanya Gerald.
“Ya Gerald, bisa sekali. Karena kamu, sudah tidak dibebani lagi oleh didikan orangtua kamu yang keras, dan kamu sudah memiliki support system, yaitu seorang pacar. Jadi besar sekali peluang untuk kamu bisa sembuh dalam waktu yang sangat cepat.”
“Kira-kira, dalam jangka waktu berapa lama, Dok?”
“Ya kurang lebih, satu bulanan.”
Arnold dan Gerald langsung tersenyum senang, saat mendengar Gerald bisa sembuh dalam kurun waktu kurang lebih dari satu bulan.
“Serius itu Dok?”
“Iya. Bahkan bisa lebih cepat dari itu, kalau pacar kamu bisa memberikan perhatian yang lebih baik buat kamu.”
Gerald tersenyum pada Arnold. “Kak, aku bisa sembuh cepet. Seneng banget dengernya!”
Arnold pun tersenyum. “Kakak juga seneng banget dengernya. Yaudah kalau gitu Dok! Lanjut buat terapi Gerald ya! Saya tunggu di mobil, sekaligus mau langsung urus administrasinya.”
“Loh! Kenapa nggak di sini aja?” tanya Gerald.
“Kakak pengen jajan dulu, laper.”
“Oh, oke.”
“Yaudah.” Arnold menepuk pelan bahu Gerald, kemudian melangkah ke luar ruangan.
Setibanya di luar ruangan, air matanya langsung menetes. Dia benar-benar merasa sangat sedih, sebab psikiater ini adalah tempat di mana dulu dia berjuang untuk melawan gangguan gynophobia, sendirian, tanpa ada yang menemani. Tanpa ada seorang kekasih, dan tanpa dampingan orangtua.
Sontak, dia langsung mengingat betapa pedihnya dirinya dulu saat mengalami penderitaan tersebut. Setiap hari dia harus berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang, dan setiap hari dia harus berobat jiwa sendirian.
Sekarang dia tidak menyangka, di saat dia sudah sembuh dari gangguan gynophobia, dia harus kembali menginjakan kakinya ke psikiater ini, untuk mengantar Adik kesayangannya yang mengalami hal yang sama dengannya.
“Ya Allah. Rasanya baru kemarin, aku nginjakin kaki di psikiater ini, dan didiagnosis gangguan gynophobia. Aku diem-diem berobat sendirian ke sini tanpa dampingan orangtua, karena mereka nggak pernah bisa ngertiin aku. Sekarang, aku harus kembali nginjakin kaki ke psikiater ini, buat nganter Adik aku yang ngalamin gangguan yang sama.” ucap Arnold dalam hati dengan air mata yang mengalir deras.
“Ya Allah. Hamba mohon! Sembuhkanlah Adik hamba Gerald, jangan biarkan dia memangalami kepedihan yang pernah hamba alami Ya Allah. Hamba tak tega jika harus melihat dia mengalami itu semua. Berikanlah kesembuhan untuk Adik hamba Ya Allah.”