Murid Baru

1156 Kata
Jam menunjukan pukul 5 sore. Gerald memasuki mobil Anton setelah baru saja menyelesaikan terapi hariannya. “Udah?” tanya Anton dengan suara tersedu, dan mata yang berkaca-kaca. Gerald terdiam melihat Kakaknya. “Kakak habis nangis ya?” “Nggak.” “Bohong! Kakak habis nangis kan? Suara sama matanya jelas banget nunjukin kalau Kakak habis nangis.” “Kita pulang ya.” Gerald menahan tangan Anton. “Kakak kenapa? Kenapa nangis?” Anton terdiam sejenak menatap Gerald, sampai kemudian dia bersandar pada kursi mobil, lalu kembali meneteskan air matanya. “Kenapa Kak?” isak Gerald, yang kemudian menangis karena melihat Kakaknya menangis. “Kakak pasti keinget sama masa lalu Kakak ya? Masa lalu Kakak yang pernah masuk ke psikiater ini buat berobat nyembuhin gynophobia? Iya kan? Terus Kakak juga khawatir sama aku, karena aku harus ngalamin hal yang sama kayak yang Kakak alamin?” “Iya Gerald.” isak Anton. “Kakak bener-bener kepikiran sama itu semua. Kakak ngerasa nyesek banget nginget pengalaman pahit Kakak di tempat ini, dan, Kakak juga bener-bener khawatir sama keadaan kamu.” “Kak.” Gerald memegang tangan Anton dengan lembut. “Kakak nggak usah khawatir sama keadaan aku. Kakak denger sendiri kan tadi? Peluang aku buat sembuh lebih cepat, itu besar banget. Terus, Kakak juga nggak perlu nginget-nginget masa lalu Kakak! Karena, itu semua udah jadi masa lalu, Kakak udah sembuh sekarang, Kakak berhasil ngelewatin kepedihan itu. Sekarang Kakak semangat ya! Semangat buat masa depan Kakak. Jangan nangis kayak gini! Kalau Kakak nangis, aku jadi sedih lihatnya.” Anton menatap Gerald sejenak, lalu dia memeluk Adiknya itu dengan erat. Setelah itu, mereka melepas pelukan, kemudian menghentikan tangisan mereka dan mengusap air mata mereka. “Maafin aku ya, Kak. Aku udah bikin Kakak nangis.” “Kamu kalau ada apa-apa, bilang ya! Jangan dipendem sendirian. Kalau ada apa-apa bilang sama Kakak ya!” “Iya.” Gerald tersenyum. “Siap.” Anton pun tersenyum. “Yaudah, sekarang kita pulang ya! Ada kejutan loh buat kamu.” “Kejutan? Kejutan apaan, Kak?” “Ya ada lah, kalau dikasih tahu bukan kejutan dong namanya.” “Yaudah yuk pulang! Jadi nggak sabar sama kejutannya.” “Oke.” Anton lalu melajukan mobil menuju rumah. Setibanya di halaman rumah, Gerald melihat sebuah mobil biru yang begitu keren berada di halaman rumahnya Albert. “Wow! Keren banget tuh mobil! Itu mobil barunya Om Gino ya, Kak?” “Iya, lebih tepatnya mobil barunya Albert, buat sekolah.” “Wow! Keren banget!” “Mobil itu datangnya bareng, sama mobil baru yang Papah beliin buat kamu sekolah.” “Hah? Mobil buat aku sekolah?” Anton mengangguk sembari tersenyum. “Mana Kak?” “Sini!” Anton merangkul Gerald menuju bagasi rumah. Setibanya di sana, Anton langsung membuka gerbang bagasi tersebut. Setelah itu, Gerald langsung tersenyum senang saat melihat sebuah mobil merah yang begitu keren, lebih keren dari mobilnya Albert. “Wow! Ini sih lebih keren dari mobilnya Albert!” “Jelaslah keren!” ucap Raffi yang datang menghampiri mereka bersama Yulia. “Papah kan belinya mahal, spesial buat kamu sekolah.” Gerald tersenyum senang karena telah dibelikan mobil baru yang begitu keren oleh Ayahnya. “Ini serius buat aku, Pah?” “Ya iya dong sayang.” balas Raffi dengan penuh senyuman. Gerald langsung berlari memeluk Ayahnya dengan penuh senyuman senang. “Makasih Pah!” Raffi, Yulia, dan Anton tersenyum senang melihat Gerald yang kesenangan karena mendapat mobil baru. “Semangat sekolahnya ya sayang! Dirawat juga mobilnya.” ucap Yulia. “Siap Mah!” balas Gerald dengan penuh senyuman. Waktu terus berjalan. Hari pun berganti. Gerald dan Albert keluar dari rumah masing-masing dengan pakaian rapi yang sudah siap untuk bersekolah. “Morning Kak Gerald!” sapa Albert dengan penuh senyuman. “Dih!” Gerald tercengir. “Tumben lo manggil gue Kakak.” “Dijawab dulu dong sapaan gue.” “Morning juga Adek sepupu gue.” “Nah, gitu dong.” “Udah siap sekolah?” “Siap dong.” “Oke. Gas kuy!” “Gas!” Gerald dan Albert lalu langsung memasuki mobil masing-masing, setelah itu melaju bersama menuju sekolah. Sementara itu di parkiran SMA Garuda Bangsa. Sebuah mobil putih yang begitu mewah, baru saja tiba. Tak lama kemudian, Rival keluar dari mobil tersebut, karena dialah pemilik mobil mewah itu. Tak lama setelah itu, Tevi datang dengan motor ninja merahnya, lalu disusul oleh Liora, Alexa, dan Elina yang datang dengan mengendarai motor scoopy yang sama-sama berwarna merah. “Morning guys!” sapa Rival kepada teman-temannya. “Morning.” balas Liora, Alexa, Elina, dan Rival secara bersamaan. “OMG Val! Itu mobil lo?” tanya Elina. “Iya.” balas Rival dengan penuh senyuman. “Wah! Keren banget mobil lo!” ucap Liora. “Jelas dong! Orangnya aja keren.” “Pret!” cengir Alexa. “Maklum lah mobil lo keren, orangtua lo kan sultan banget.” ucap Tevi. “Motor lo juga bagus kok! Keren!” “Oh iya, ini kalian motornya kok bisa samaan gitu?” tanya Tevi. “Kebetulan doang ini.” jawab Alexa. “Kita nggak janjian mau beli motor yang sama kok.” “Iya, ini kebetulan doang.” ucap Elina. Tak lama setelah itu, pandangan mereka langsung tertuju pada mobilnya Gerald dan Albert yang baru saja tiba di parkiran. “OMG! Mobilnya keren banget!” ucap Alexa. “Iya, yang ini kelihatan lebih Anak muda banget ya?” ucap Elina. “Jadi maksud lo, mobil gue itu pantesnya buat yang tua gitu?” tanya Rival. “Bukan gitu ih. Maksud gue tuh, mobil elo kelihatannya mewah, kalau keren sih nggak terlalu. Nah, kalau yang dua itu, mewah sih nggak terlalu, tapi keren banget!” “Ngomong apa sih lu?” tanya Alexa. “Haha.” Liora tercengir. Gerald dan Albert kemudian keluar dari mobil mereka masing-masing, setelah itu mereka berjalan menghampiri teman-teman mereka itu. “Pagi guys!” sapa Gerald. “Pagi!” balas mereka semua. Alexa langsung terdiam terpana, saat melihat kedatangan Albert yang begitu keren. “Guys! Kenalin, ini sepupu gue, namanya Albert Riano. Dia murid baru di sekolah kita ini, dan mulai sekarang, dia bakalan resmi jadi murid di kelas kita.” “Hai guys! Salam kenal.” ucap Albert dengan penuh senyuman. “Hei Albert.” balas mereka semua. “Hai, ganteng!” sapa Alexa dengan pelan dan malu-malu. “Awww!” ucap Gerald dan Liora secara bersamaan, setelah melihat tingkah Alexa seperti itu. “Makasih. Kamu juga cantik kok.” balas Albert dengan penuh senyuman. Perasaan Alexa semakin berbunga-bunga saat mendengar Albert memujinya cantik. “Dih!” cengir Tevi. “Nyali lu gede juga ya Al? PDKT langsung sama cowok.” “Wah! Kayaknya bakalan ada yang jadian nih bentar lagi.” cengir Elina. “Bau-baunya sih iya. Baguslah! Biar gue sama Liora bisa ada temen buat double date.” cengir Gerald. “Kalian lagi ngomongin apa sih?” cengir Gerald. “Nggak. Kita nggak lagi ngomongin apa-apa kok.” cengir Liora.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN