Demi Kebaikan

1166 Kata
“Oh iya Bert.” ucap Gerald. “Kenalin, ini sahabat-sahabat gue, Rival sama Tevi.” Gerald memperkenalkan kedua sahabatnya kepada sepupunya itu. Rival dan Tevi lalu bersalaman tangan dengan Albert sebagai tanda perkenalan mereka. “Rival.” “Tevi.” “Nah, kalau yang itu, Elina, Alexa, sama bebep gue, Liora.” “Salam kenal ya guys.” ucap Albert kepada teman-teman barunya itu. “Salaman dong! Sebagai tanda perkenalan kita.” ucap Alexa, sembari menyodorkan tangannya kepada Albert. “Jangan!” dengan cepat, Liora langsung menjauhkan tangan Alexa dari Albert. “Loh! Kok jangan?” “Jangan! Nanti Albert pingsan.” ucap Gerald. “Pingsan? Maksud lo apaan?” “Tunggu deh Ger!” ucap Tevi. “Jangan bilang kalau Albert juga punya gynophobia kayak lo?” “Gynophobia, apaan tuh?” tanya Elina. Bel tanda masuk kelas berbunyi. “Udah bel tuh. Ke kelas sana kalian!” ucap Gerald. “Kok lo malah nyuruh kita doang sih?” tanya Elina. “Ya elo juga ke kelas dong.” “Gue sama Albert ada perlu dulu sama Bu Melly.” “Perlu apaan dah?” tanya Alexa. “Kepo lu! Sana kalian ke kelas! Gue sama Albert nanti nyusul.” “Yaudah guys. Yuk ke kelas!” ajak Liora. “Iya yuk!” balas Tevi. Liora, Alexa, Elina, Tevi dan Rival lalu melangkah menuju kelas. “Duh Ger!” ucap Albert. “Malu banget gue!” “Malu kenapa?” “Gue malu banget, kalau nanti murid-murid di sekolah ini tahu, kalau gue menderita gangguan gynophobia.” “Jujur gue juga malu! Malu banget! Tapi ya mau gimana lagi? Orang-orang di sekolah ini, harus tahu kalau kita itu punya gangguan gynophobia, supaya kita nggak bakalan kumat kalau lagi di sekolah.” “Kenapa sih kemarin Papah gue harus bilangin hal ini ke Guru?” “Ya jelas haruslah! Demi kebaikan kita. Udahlah yuk!” Gerald kemudian menarik tangan Albert, melangkah menuju ruangan Guru. Sementara itu, Liora, Alexa, Elina, Rival dan Tevi baru saja tiba di kelas mereka. “Si Gerald kok aneh banget sih tadi?” ucap Alexa. “Lo juga aneh Ra.” “Aneh kenapa, maksud lo?” “Tadi elo sama Gerald ngelarang gue buat jabatan tangan sama Albert, dibilangnya kalau gue sama Albert jabatan tangan, bakalan bikin Albert pingsan. Apaan coba? Aneh banget!” “Ya emang gitu kok kenyataannya. Kalau lo pegangan sama Gerald, itu bakalan bikin dia pingsan. Makanya gue ngelarang lo buat jabatan tangan sama Albert tadi.” “Ya emangnya apa yang bikin Albert pingsan kalau dia jabatan tangan sama gue? Lo pikir gue virus apa?” “Bukan git--” ucapan Liora langsung terhenti, saat melihat kedatangan Ibu Melly, Gerald, dan Albert ke dalam kelas. Gerald langsung duduk di bangkunya, sementara Ibu Melly berdiri di depan kelas bersama Albert. “Pagi Anak-Anak!” “Pagi Bu.” “Hari ini, kelas kalian kedatangan murid baru. Ayo! Perkenalkan diri kamu!” Albert menatap seluruh teman di kelas barunya. “Hallo semua.” “Hallo.” balas murid-murid di kelas tersebut. “Perkenalkan, nama saya Albert Riano. Saya pindahan dari Semarang. Salam kenal buat semuanya.” “Oke Albert, ada yang mau ditambahin lagi?” “Udah Bu.” balas Albert sembari tersenyum. “Oke. Sebelum kita memulai pelajaran, ada yang mau Ibu sampaikan dulu kepada kalian semua. Gerald, sini!” Gerald lalu kembali berdiri di sebelah Albert. “Nah, Anak-Anak, jadi, Albert ini sepupunya Gerald. Apa pandangan kalian tentang mereka berdua?” “Ganteng!” balas Liora dengan penuh senyuman. “Ya, terus?” “Keren!” ucap Alexa dengan penuh senyuman. “Tajir, haha!” cengir Elina. “Iya, itu yang kalian tahu tentang mereka ya. Tapi sebenarnya, ada hal yang tidak kalian ketahui dari kedua teman kalian ini. Khususnya Gerald, yang sudah lama kalian kenal.” “Memangnya apa, Bu?” tanya Elina. “Gerald, dan Albert ini, mempunyai gangguan mental, yang bernama gynophobia.” “Gynophobia?” seisi kelas langsung heboh setelah mendengar Ibu Melly mengucapkan hal tersebut. “Gynophobia itu, apa Bu?” tanya Alexa. “Gynophobia, adalah suatu gejala yang membuat seorang laki-laki alergi terhadap perempuan! Jadi, dia akan selalu merasakan hal-hal yang membuat menderita, jika dia berdekatan, dan bersentuhan dengan perempuan.” “Hah? Emangnya ada penyakit kayak gitu, Bu?” tanya Alexa. “Ini bukan penyakit Alexa, tapi ini gangguan mental.” “Tapi, Gerald selama ini biasa-biasa aja kok, apalagi kalau deket sama Liora pacarnya. Nggak pernah dia kenapa-kenapa.” “Itu karena Liora, adalah perempuan yang spesial untuk Gerald, jadi dia akan merasa nyaman jika dia berada di dekat Liora. Tapi kalau untuk bersentuhan dengan Liora, atau dengan perempuan lain, Gerald tidak bisa. Dia akan langsung pingsan jika bersentuhan dengan perempuan.” “Tapi, setiap hari kalau kita pulang sekolah, Gerald suka cium tangan sama Guru perempuan, dan dia nggak pingsan.” “Gangguan gynophobia yang Gerald alami, hanya berlaku kepada perempuan muda yang seumuran dengannya, atau tak jauh umurnya. Tapi tidak untuk perempuan dewasa, seperti Guru-Guru, penjaga warung, dan perempuan dewasa lainnya.” “Ih! Itu beneran Ra? Gerald ngalamin gangguan kayak gitu?” tanya Alexa. Liora mengangguk. “Itu untuk Gerald, tapi untuk Albert, berbeda lagi.” “Beda gimana Bu? Maksudnya?” “Gangguan gynophobia Albert, sangatlah parah. Dia tidak bisa berdekatan dan bersentuhan dengan perempuan semua umur kecuali Ibunya, makanya Ibu ini jaga jarak sama Albert. Jadi mulai sekarang, Ibu minta tolong ya sama kalian, para murid-murid perempuan, untuk jaga jarak sama Gerald dan Albert. Jangan pernah sentuh-sentuh mereka, karena kalau kalian melakukan itu, mereka akan langsung jatuh pingsan dan ngalamin sakit-sakitan. Kalian paham?” “Paham Bu!” balas semua murid perempuan di kelas tersebut. “Oke Gerald, kamu boleh kembali duduk.” “Makasih Bu.” Gerald lalu kembali duduk di bangkunya. “Albert, kamu boleh duduk di sebelah Rival.” “Makasih Bu.” “Iya.” Albert kemudian langsung duduk sebangku dengan Rival. “Kalian kerjain soal yang Ibu kirim di group WA ya! Ibu tinggal dulu sebentar. Jangan pada berisik ya!” “Iya Bu.” Ibu Melly lalu pergi keluar kelas karena ada keperluan. Alexa menatap Albert dengan tatapan lesu, setelah itu terdiam bersandar pada kursi. “Kenapa lo? Kok mendadak lesu gitu mukanya?” “Nggak nyangka gue, kalau Albert punya gangguan gynophobia kayak gitu. Terus gimana caranya buat gue bisa deket sama dia?” “Bisa kok! Bahkan lo bisa jadian sama dia.” “Gimana caranya? Buat deket sama dia aja gue nggak bisa, nanti dia bisa pingsan.” “Kalau deketin doang nggak bakalan bikin pingsan kok. Asal jangan lo sentuh. Lo bisa kok deket sama Albert. Gue aja bisa deket sama Gerald, bahkan sampe jadian sama dia.” “Ya tapikan gynophobianya Albert lebih parah daripada Gerald. Elo juga kenapa nggak pernah nyeritain kalau Gerald punya gynophobia?” “Iya lo Ra, kenapa lo nggak pernah ngasih tahu tentang gangguan gynophobianya Gerald ke kita? Kita kan juga temennya Gerald.” ucap Elina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN