Insecure Alexa

1203 Kata
“Gue aja baru tahu kemarin dari Gerald. Gue juga dikasih tahunya mendadak sama dia.” balas Liora. “Tapi apa itu semua beneran ya? Kalau Gerald itu punya gangguan gynophobia? Perasaan selama ini dia suka deket sama temen-temen cewe, termasuk kita, nggak pernah kenapa-kenapa kok.” ucap Elina. “Iya, kelihatannya emang baik-baik aja. Tapi kenyataannya, Gerald itu nahan jantung yang berdegup ketakutan, keringetan, kepala pusing, dan sakit perut. Cuman dia nahan itu semua. Tapi kalau dia dipegang sama cewek, itu semua bakalan makin parah, dan dia nggak bakalan lagi bisa nahan itu semua.” jawab Liora. “Kalau kayak gitu, kasihan banget dong Gerald.” ucap Alexa. “Ih, ngeri! Kok bisa sih dia dapet gangguan kayak gitu?” “Ya, seperti yang udah kalian tahu. Orangtuanya Gerald kan keras, nggak pernah ngizinin Gerald buat deket sama cewek. Makanya Gerald menderita gynophpobia.” “Terus, Gerald bisa sembuh nggak?” tanya Alexa. “Bisa.” “Gimana caranya?” “Dengan tiga cara. Pertama, dengan terapi, kedua, obat-obatan, dan yang ketiga, gue.” “Elo? Gimana caranya lo ngobatin Gerald?” tanya Elina. “Terapi dan obat-obatan dari Dokter jiwa, itu sebenernya cuma pendukung doang buat Gerald. Hal terpenting supaya Gerald bisa sembuh, ya dengan dukungan dari cewek langsung, yaitu pacarnya, dan pacarnya Gerald kan gue. Jadi, gue adalah poin utama supaya Gerald bisa sembuh. Gue bakalan selalu nemenin Gerald, supaya perlahan dia bisa deket sama gue, dan bisa bersentuhan sama gue. Dengan gitu, dia pasti juga bakalan bisa berinteraksi normal sama cewek lainnya, sampe akhirnya gangguan gynophobianya sembuh.” “Yakin? Gerald bakalan sembuh sama lo?” tanya Alexa. “Ya yakinlah. Gue sama Gerald kan saling sayang. Terus, Papahnya Gerald juga udah percaya sama gue.” “Wih! Mantap!” ucap Elina. “Sekarang, Gerald udah bisa nyaman kalau deket sama gue. Tinggal dibiasain buat dia supaya bisa bersentuhan sama gue. Habis itu, perlahan demi perlahan, Gerald pasti bakalan bisa sembuh.” “Elo nyaman gitu pacaran sama cowok yang nggak bisa pegangan tangan sama cewek?” tanya Elina. “Ya nyamanlah, gue kan sayang sama Gerald.” “Terus kalau pacaran ngapain aja? Emang seru pacaran nggak pegang-pegangan tangan?” “Ya gitu deh. Intinya, gue sayang banget sama Gerald! Jadi gue nggak masalah sama kekurangannya dia.” “Yaiyalah, Gerald kan ganteng. Coba kalau dia jelek, mana mau lo sama dia.” “Ih apaan sih El? Kok lo ngomongnya gitu?” “El lo nggak usah munafik deh! Elo juga mandang fisik kan? Tipe lo cowok yang manis. Ribet lo ah!” ucap Alexa. “Dih! Gue kan cuma ngomong. Kenapa jadi bawa-bawa mandang fisik?” “Ya elo ngomongnya kayak gitu ke Liora. Sama aja lo ngatain dia mandang fisik.” “Udah-udah. Daripada kita ngerumpi terus, mending kita kerjain yuk tugasnya!” ajak Liora. “Kerja sama ya!” ajak Elina. “Iya, yuk!” balas Liora. “Bagi-bagi tugas, nomor berapa aja?” ucap Alexa. “Gini aja, gue nomor satu, Alexa nomor dua, Elina nomor tiga, terus nomor empatnya kita kerjain bareng-bareng.” ucap Liora. “Oke.” balas Alexa dan Elina secara bersamaan. Liora, Alexa, dan Elina kemudian langsung mengerjakan tugas dari Ibu Melly. Hanya dalam waktu kurang lebih dari sepuluh menit, mereka dapat menyelesaikan tugas tersebut. “Sedikit banget ya tugasnya?” ucap Alexa. “Banyak ngeluh! Sedikit ngeluh juga.” balas Elina. “Ih bukan gitu.” “Heh malah ribut lagi!” ucap Liora. “Dah ah gue mo nonton dulu.” Elina lalu menonton film di youtube. “Ra.” panggil Alexa. “Hmm?” “Kira-kira, Albert mau nggak ya sama gue?” “Emang lo serius? Lo suka sama Albert?” “Bukan cuma suka, gue udah jatuh cinta dan sayang banget sama dia.” “Kok bisa sih?” “Nggak tahu, sejak pertama kali gue ngelihat dia kemarin, gue bener-bener langsung jatuh cinta pandangan pertama sama dia. Soalnya dia bener-bener menuhin banget sebagai tipe cowok yang gue suka.” “Gue juga sih, gue juga pas pertama kali ngelihat Gerald, gue langsung jatuh cinta sama dia.” “By the way, yang nembak duluan siapa? Elo apa Gerald?” “Gerald, tapi yang jujur duluan gue.” “Hah? Seriusan lo jujur duluan?” “Iya. Habisnya gue nggak kuat nahan perasaan gue sama Gerald. Terus ternyata, Gerald juga suka sama gue, cuman dia nggak berani bilang.” “Mulus banget ya jalan cerita lo sama Gerald.” “Mulus apaan? Baru juga dimulai. Kita nggak tahu, rintangan apa yang lagi nunggu kita di depan.” “Gue pengen kenal sama Albert.” “Ya tinggal deketinlah Al. Nanti lo minta nomornya ke Gerald, habis itu langsung deh lo PDKT ke dia lewat chatt, biar lebih aman.” “Gue udah punya nomornya Albert dari kemarin, cuman kata Gerald, jangan dulu dichatt.” “Lah! Emangnya kenapa?” “Gerald nyaranin gue buat ngechatt Albert hari ini, waktu dia udah resmi jadi murid baru. Supaya kesannya gue nggak kelihatan murahan.” “Eh! Bener juga. Cerdas banget ya pemikiran bebep gue.” ucap Liora sembari tersenyum. “Lo langsung aja PDKT ke Albert nanti lewat chatt.” “Tapi, gue insecure buat ngedeketin dia.” “Lah! Insecure kenapa? Elo kan cantik, lo itu spek bule loh. Ngapain lo insecure?” “Ya insecurelah. Lo lihat si Albert! Ganteng, keren, putih banget kayak bule. Sedangkan gue apa? Gue biasa aja, dan nggak seputih dia.” “Eh! Asal lo tahu ya? Elo itu tipe ceweknya Albert banget.” “Tipe ceweknya Albert, maksud lo?” “Kata Gerald, tipe ceweknya Albert itu yang cantik kayak bule. Nah, elo kan muka bule, keturunan bule, elo spek bidadari bule. Jadi, elo bener-bener sempurna banget jadi tipe ceweknya Albert.” “Hah? Masa sih? Tahu dari mana lo?” “Ya dari Gerald lah, kan gue bilang kata Gerald.” “Tapi kan, gue nggak cantik.” “Ih! Apaan sih lo? Muka cantik banget kayak gitu dibilang nggak cantik. Lo itu merendah untuk meroket ya?” “Emang pada kenyataannya gue nggak cantik kok. Cantik dari mananya coba muka gue ini?” “Alexa lo ngomong lo nggak cantik sekali lagi, gue tabok lu!” “Ih, galak banget!” cengir Alexa. “Lo itu cantik! Cantik banget! Lo itu sempurna. Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Nggak baik!” “Iya deh iya, makasih udah bilang gue cantik.” “Ya emang lo cantik kok. Buktinya, tadi pas lo kenalan sama Albert, terus lo muji Albert ganteng, dia juga muji lo cantik kan? Itu artinya lo emang cantik.” “Dia cuma basa-basi doang kali, nggak serius ngomong gue cantik.” “Diem! Sekali lagi lo ngomong gitu gue tabok lo! Dengerin gue! Deketin Albert mulai hari ini, dan percaya sama gue! Albert pasti bakalan jadi pacar lo. Itu pasti! Karena elo, adalah tipe ceweknya Albert.” Alexa menghela napas panjang. “Iya deh iya.” Meskipun Liora sudah mengatakan hal yang sebenarnya. Namun Alexa masih sangat merasa tidak yakin jika dia adalah tipe perempuan yang Albert sukai. Alexa merasa bahwa dirinya hanyalah perempuan biasa, yang tak pantas untuk bersanding dengan laki-laki sesempurna Albert.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN