bc

Another Love

book_age18+
39
IKUTI
1K
BACA
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

Chynara bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Dilema antara ingin terus melanjutkan hubungannya, atau menghentikannya. Di sisi lain, Andika ingin Chynara kembali menemukan cintanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
“Chynara. Aku mencintaimu.” Bisikan di telinga Chynara menghanyutkan. Perlahan, Nofa menyentuh bibir tipis milik Chynara, mengusapnya lembut. Kerinduan semakin menggelora di d**a. Nofa memberanikan diri mengecup bibir Chynara. Sejenak, Chynara menegang kemudian mendorong Nofa agar menjauh darinya. “Ini tidak benar, Mas. Jangan lakukan ini.” Chynara menolak secara halus. Namun sejenak, Nofa merasakan bahwa Chynara merasakan hal yang sama dengannya. Dia juga merindukan Nofa. Nofa kecewa mengalami penolakan itu. Kemudian di dekapnya erat tubuh mungil wanita yang teramat dirindukannya. Rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya. “Aku sangat merindukanmu.” Nofa bergumam pelan, seoah untuk dirinya sendiri. Chynara yang mendengar itu merasakan hal yang sama. “Tidakkah kamu merasakan hal yang sama? Sampai kapanpun aku tetap mencintaimu.” Nofa memegang pundak Chynara, menatap matanya yang menyorot lembut. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Meskipun kamu telah menjadi milik orang lain, tidak ada yang berbeda untukku. Yang penting, hatimu masih milikku. Aku mencintaimu, Chynara. Dengan segenap hatiku.” Nofa merengkuh wajah mungil Chynara, kemudian memberanikan dirinya mengecup bibir Chynara. Kini tubuh mungil itu menegang kembali, namun tidak dirasakan adanya penolakan seperti sebelumnya. Nofa mulai berani meminta lebih dari sekedar kecupan. Bara rindu telah membakar tubuhnya. Hingga tubuhnya memanas. Entah keberanian darimana yang membuatnya begitu berhasrat menyentuh tubuh Chynara kembali. Seperti sebelumnya, ketika kebersamaan mereka masih terjalin, di waktu yang lalu. Nofa menuntut pada setiap sentuhan, menimbulkan sensasi pada tiap ujung kulitnya. Chynara tanpa penolakan, bahkan ia dengan suka rela mengimbangi hasrat yang dimiliki Nofa. Satu persatu pakaian mereka dilepaskan begitu saja. Dilemparkan, sehingga berserakan di lantai. Mereka tidak peduli, yang terpenting adalah rasa dahaga ini harus segera dibayar tunai. Pergumulan penuh kerinduan tak terelakkan lagi. Bernostalgia dengan kenangan masa lalu seolah tiada bedanya. Yang terpenting adalah saat ini. Ketika jiwa mereka kembali menyatu, membaur, saling menuntut. Setiap sentuhan yang memabukkan, seolah candu yang tak bisa dikendalikan. Desah nafas saling bersahutan, meminta lagi dan lagi. Keduanya seolah telah menemukan oase di tengah padang pasir. Kebahagiaan dan kemesraan ini milik mereka. Nofa mencumbu Chynara penuh kerinduan. Mereguk dahaga dengan penuh hasrat, seolah tak ingin segalanya berakhir. Dia tahu, kesempatan ini tidak datang untuk kedua kalinya. Sentuhan dan desahan berlomba satu sama lain. Nofa begitu bersemangat, merengkuh tubuh mungil dalam dekapannya, tak ingin dia lepas lagi. Kali ini, Chynara miliknya. Waktu sedang berpihak padanya. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakannya. Mereka menyadari secara penuh, penyatuan jiwa dan raga mereka saat ini seharusnya tidak boleh terjadi. Namun, itulah yang terjadi kini. Hingga mereka berdua berada di puncak kenikmatan. Tubuh basah oleh peluh dengan erangan dan teriakan kecil di tiap pergulatan. Pada akhirnya mereka berdua melenguh keras, tubuh pun terkulai lemah. “Aku mencintaimu, Chynara. Selalu mencintaimu.” Nofa memeluk erat Chynara. Deru nafas yang memburu perlahan mulai mereda, berpacu dengan gemuruh di dadanya. Chynara membenamkan kepalanya di d**a bidang Nofa. Seolah tak ingin melepasnya. Rasa rindu yang dimilikinya mungkin tak sebesar rasa rindu yang dimiliki Nofa. Namun, untuk kali ini saja dia berharap bara rindu miliknya lebih besar dari apa yang dirasakan Nofa. “Aku merindukanmu, Mas Nofa. Aku sangat merindukanmu,” bisik Chynara. Nofa menyentuh dagu Chynara dengan jemarinya, lalu mengarahkan ke wajahnya. “Apa kabarmu, Chynara?” “Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sendiri, Mas?” “Aku tidak baik-baik saja. Dendam rindu menderaku selama bertahun-tahun. Aku selalu cinta padamu, Chynara. Dengan caraku sendiri.” * Satu minggu sebelumnya. “Pah, aku ada pelatihan guru bidang studi di kota Batu. Mungkin sekitar sepuluh hari kalau tidak ada halangan.” Chynara berbicara pada Andika, suaminya saat makan malam. Andika adalah seorang pria matang yang berusia sebelas tahun diatas Chynara. Meskipun tampak sudah berumur, karena terbiasa hidup sehat dan berolah raga membuat tubuhnya bugar dan wajahnya masih tampak seperti laki-laki muda. “Mulai kapan?” tanya Andika sambil menatap Chynara yang menuangkan secentong besar nasi goreng di piringnya. “Senin depan,” jawab Chynara saat menyendokkan nasi ke piring Fibula, putri bungsu mereka. “Mama mau kemana? Pelatihan lagi, ya?” Malleo putra pertama mereka yang berusia delapan tahun bertanya. Wajahnya tampak sedikit kecewa mendengar mamanya akan mengikuti pelatihan lagi. “Iya, Mas. Mas dirumah sama Eyang Laras, ya. Kalau sekolah, papah bisa nganterin pagi harinya. Kalau pulang sekolah, biar Om Hume yang jemput.” Chynara bisa merasakan ada kekecewaan di mata Malleo. “Mama ga lama, kok. Cuma sepuluh hari. Mas dirumah yang akur sama adiknya, ya,” lanjut Chynara menjelaskan. Malleo menyendokkan nasi di mulutnya asal, hilang sudah selera makannya, “Nginep di mana nanti di sana?” tanya Andika saat sambil memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. “Di Hotel Bulan Sabit, Pah. Rekanan dengan tim perencanaan pelatihan.” jawab Chynara singkat. “Sama siapa saja? Dari sini cuma kamu sendiri atau ada yang lainnya?” tanya Andika lagi. “Kebetulan hanya aku sendiri, Pah. Kemarin ada seleksinya. Tiap daerah hanya satu yang terpilih. Lumayan ketat, sih,” jawab Chynara sambil menyuapi Fibula yang baru berumur empat tahun. “Pasti banyak pesertanya, ya. Ada brondong-brondong pasti?” bisik Andika sambil menaikkan alisnya. Pertanyaan yang selalu diajukannya saat Chynara akan berangkat mengikuti pelatihan atau study banding. Kali ini masih tetap sama, dan Chynara tidak merespon pertanyaannya. “Oke. Hati-hati, Mah. Jangan lupa, kenalin Papah sama brondong kenalan Mamah disana.” Andika tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu pada Chynara. Kalimat yang membuat perasaan Chynara merasa tidak nyaman dibuatnya. “Papah bisa nganterin kan?” Chynara mengalihkan pembicaraan. “Berangkatnya mungkin bisa kalo ga ada rapat. Jam berapa emangnya?” “Check in jam delapan pagi.” “Oke. Papah anterin. Ohya, nanti selama Mamah pelatihan, anak-anak nanti dititip sama siapa? Sama Mbak Uci atau sama Eyang Laras?” tanya Andika lagi. “Kalau siang hari biar sama Mbak Uci, Pah. Terus kalau malam biar sama Eyang Laras saja. Karena rumah Mbak Uci dan Eyang kan berdekatan. Jadi, biar memudahkan Mbak Uci membawa Malleo dan Fibula ke rumah Eyang. Papa kalau tidak sibuk jangan lupa mampir, disambangi anaknya,” jawab Chynara lagi. “Satu lagi, Pa. Nanti tolong Hume diingetin biar ga lupa jemput Malleo. Nanti dia kelupaan lagi seperti tempo hari. Kasihan Malleo harus menunggu lama,” pesan Chynara sambil mengisi air minum Andika yang telah habis.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

The Perfect You

read
298.3K
bc

Nikah Kontrak dengan Cinta Pertama (Indonesia)

read
466.5K
bc

Ay Lub Yu, BOS! (Spin Off MY EX BOSS)

read
267.5K
bc

Dear Doctor, I LOVE YOU!

read
1.2M
bc

Sweetest Pain || Indonesia

read
78.1K
bc

I Love You Dad

read
295.9K
bc

Kali kedua

read
219.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook