Di Depan Mata

981 Kata
“Kalau mengingatkan ga masalah, Mah. Tapi, lebih baik kamu ngomong lagi sama dia. Dan kasih pelicin di awal biar dia lebih bertanggung jawab lagi. Kan adikmu, Papah ga mungkin langsung nyuruh gitu aja,” tukas Andika setelah menghabiskan suapan terakhir sarapannya. “Iya, nanti aku yang ngomong sama Hume sekalian uang transport selama antar jemput Malleo.” jawab Chynara . “Oke. Papah berangkat dulu. Fibu jangan nakal ya, Sayang. Mama ga berangkat bareng sama Papa?” tanya Andika sambil mengecup pipi Fibula yang telah selesai menghabiskan sarapannya. Fibula melambaikan tangannya ke arah Andika. “Mama berangkat sama Malleo aja, Pah. Nanti papah terlambat,” jawab Kaylila sambil mengambil tas kerjanya yang berada di atas meja. “Oke, Papa berangkat duluan ya.” Andika mengecup pipi Chynara kemudian menyambut uluran tangan Malleo dan Fibula. Secara bergantian, mereka mencium punggung tangan Andika. Malleo dan Fibula berjalan mengekori Andika menuju ke teras rumah. Mereka berdua mengamati Andika yang masuk kedalam mobil. Kemudian keduanya melambaikan tangan pada Andika yang berlalu meninggalkan pekarangan rumah. “Mbak Sih!” Chynara  memanggil Mbak Sih, yang setiap harinya membersihkan rumah. “Iya, Bu Nara. Ada apa?” Mbak Sih tergopoh-gopoh mendekati Chynara. “Saya berangkat dulu. Nanti Mbak Uci agak terlambat datangnya. Mau suntik KB dulu apa katanya. Fibula biar di rumah dulu sama Mbak Sih. Beres-beresnya nanti dilanjutkan setelah Mbak Uci datang.” Chynara menjelaskan sambil menggunakan kaos kaki. “Iya, Bu Nara.” “Saya berangkat dulu, ya. Assalamualaikum.” Chynara berdiri menatap cermin besar di ruang makan, membenahi letak hijabnya. Setelah dipastikan tidak ada yang kurang, Chynara berjalan menuju ke teras rumah. Malleo dan Fibula masih berada disana. “Anak cantik, Mama berangkat dulu ya, sama Mas Malleo. Adik di rumah sama Mbak Sih.” Chynara membungkukkan badannya mendekati Fibula dan mencium pipinya. “Mbak Uci ga kesini, Ma?” Fibula bertanya dengan ekspresi menggemaskan. “Mbak Uci agak siangan. Karena harus pergi ke Puskesmas dulu. Mama berangkat, ya. Assalamualaikum.” Sambil mengulurkan tangannya, Fibula mencium punggung tangan Chynara.   ***  “Nara. Hari ini ada rencana mau ke kota, ga?” tanya Ambar ketika memasuki ruang kerja Chynara. Ambar adalah teman seprofesi dengan Chynara. Bedanya, hanya mata pelajaran yang diampu saja. Cynara mengajar sebagai Guru Bimbingan dan Konseling, sementara Ambar sebagai Guru Sejarah Indonesia. “Hmmm ... tidak ada, sih. Memangnya kenapa, Bu?” tanya Chynara. “Mau bareng. Hari ini Mas Pram ga bisa jemput. Sibuk katanya,” jawab Ambar dengan bibir mengerucut. “Mau cari apaan ke kota? Mentang-mentang udah gajian, mau menghabiskan uang, ya?” Chynara mengerlingkan mata ke arah Ambar yang duduk di hadapannya sambil memangku dagunya menggunakan kedua tangan. Ambar mengerucutkan bibirnya ke depan. Tampak sekali ia sedang memikirkan sesuatu. Ia bahkan tidak terpengaruh dengan lelucon yang dibuat oleh Chynara. “Mau ngabisin duit aja. Bosen di rumah,” jawabnya singkat. “Temenin, ya. Ntar aku traktir, deh.” Chynara tampak berpikir keras untuk menerima tawaran Ambar. Berat hati, sebenarnya. Ia ingin segera tiba di rumah, mempersiapkan perlengkapan untuk keberangkatannya ke kota Batu beberapa hari lagi. “Plis … ya … Nara ….” “Gak lama-lama, ya. Aku perlu nyiapin keperluan untuk keberangkatanku.” “Aman … gak lama, kok. Kita cuma duduk-duduk, makan-makan aja.” Ambar tersenyum lebar mendengar jawaban Chynara. Mereka pun bergegas berangkat mengendari kendaraan roda empat milik Chynara yang terparkir di halaman depan sekolah. Dengan kecepatan sedang, mobil itu dikendarai memecah jalanan siang yang tidak begitu ramai. “Pergi ke mana kita?” tanya Chynara pada Ambar yang asyik menggerakkan badannya mendengar hentakan musik yang diputar. “Ke mall aja, ya. Udah lama banget aku gak pergi ke mall. Terakhir sama kamu dulu itu,” ucap Ambar dengan senyum lebar. “Apa? Kamu gak pernah ke mall? Udah hampir setahu, dong. Mbar?” Chynara terkejut mendengar penuturan sahabatnya itu. “Is … biasa aja kali, Nara. Aku ‘kan istri baik-baik. Gak pernah keluar rumah. Lagian, untuk apa juga pergi keluar kalau tidak ada yang mau dibeli. Mau apa-apa tinggal pesan aja, terus di anter, gampang, ‘kan?” Chynara menggelengkan kepalanya, seolah takjub dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. hari begini rasanya aneh bila seseorang yang memiliki penghasilan sendiri tidak menghabiskan waktu ke mall untuk sekedar mencuci mata. “Salut, dah, sama kamu!” seru Chynara pada Ambar yang tersenyum simpul. Mereka berdua berjalan melewati stan-stan penjualan di sepanjang lobi mall yang tidak begitu dipadati pengunjung. Beberapa toko busana dan perhiasan dihampiri oleh Ambar yang melihatnya dengan takjub. Tak menyangka bahwa bila melihat secara langsung ternyata sangat menyenangkan. “Nara, kok keren banget  sih, cincinnya?” Ambar tampak takjub sambil mengamati jari manisnya yang bersemayam cincin emas putih bertahta berlian di sebuah gerai perhiasan yang cukup besar di lantai pertama. “Duh, kamu ini, Mbar. Biasa aja, lagi.” Chynara berbisik di telinga Ambar yang tampak begitu ekspresif dengan cincin yang menghiasi jemarinya. “Aku mau yang ini. Debit ya, Mbak.” Ambar mengeluarkan kartu debitnya diserahkan pada pramuniaga toko yang tersenyum lebar. Setelah menerima bungkusan dan bukti pembayaran dari toko, mereka melanjutkan perjalanan menaiki escalator menuju ke lantai berikutnya. Setelah berjalan memutar dan membelanjakan uangnya, Ambar tampak kelelahan. Ia mengajak Chynara mampir ke sebuah resto yang tidak begitu dipadati pengunjung di lantai paling atas, bersebelahan dengan bioskop. Mereka sengaja memilih tempat duduk di sudut, yang mengarah ke jalanan. Pemandangan kota sangat indah bila dilihat dari atas. “Kamu ini norak banget sih, Mbar. Kayak orang gak pernah ke mall aja.” Chynara menyeringai ke arah Ambar yang menatap keki padanya. “Lho, kan emang aku udah lama gak pergi ke mall? Lagian, duit yang kupakai juga hasil kerjaku sendiri.” Chynara menggelengkan kepalanya perlahan tak habis pikir dengan sahabatnya yang lugu ini. Ia mengedari ruangan restoran yang tidak begitu ramai, hingga pandangannya tertuju pada satu meja yang berada di barisan tempat mereka duduk. Mata Chynara terbelalak melihat ke arah itu. Ambar yang menyadari adanya perubahan pada wajah Chynara segera mengikuti arah pandangannya, melihat ke belakangnya. Terlambat. Chynara yang masih belum bisa menguasai keterkejutannya tak dapat mengalihkan perhatian Ambar agar tidak melihat ke arah yang dilihatnya. Ambar seketika mendelik, marah. Sahabatnya itu segera bangkit dari tempat duduknya, ingin menghampiri tempat yang menjadi perhatiannya saat ini. “Ambar, jangan buat keributan,” pinta Chynara pada Ambar yang sudah mulai beranjak dari tempatnya duduk. “Tidak bisa. Kalau kamu jadi aku, apakah kamu akan membiarkannya saja?” Ambar ada benarnya menanyakan hal itu pada Chynara. Karena ia mungkin juga akan segera menghampiri orang yang sedang bermesraan itu. Bila perlu melemparkan bubuk cabai pada wajah perempuan genit itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN