Dengan emosi, Ambar bangkit dari tempat duduknya kemudian mendekati tempat duduk seorang pria bersama seorang perempuan genit. Pria itu adalah Mas Pram, suami Ambar yang katanya sedang berada di luar kota.
Tanpa berbicara, Ambar mengambil mangkuk berisi sambal lalu menyiramkannya ke pangkuan perempuan yang tidak dikenalinya itu. Perempuan itu sontak terkejut sambil teriak, “Aw … panas! Apa-apaan kamu!” seru perempuan itu.
Ambar yang mendelik sambil berkecak pinggang tertawa terpingkal-pingkal melihat perempuan itu berteriak kepanasan. Rok mini yang dipakainya basah oleh siraman sambal cabai rawit mengenai kewanitaannya.
“Ambar, apa yang kamu lakukan!” seru Mas Pram pada Ambar yang masih terpingkal-pingkal.
“Panas Mas, panas ….” Air mata perempuan itu mengalir di sudut matanya sambil melonjak-lonjak menahan rasa panas di bagian bawah tubuhnya. Terlihat tanda kemerahan di sela-sela pahanya.
Pengunjung restoran tampak riuh rendah berkerumun melihat peristiwa yang baru saja terjadi, sebagai bahan tontonan gratis.
“Itu tuh rasanya kalau kamu jadi perempuan GATEL!” seru Ambar, puas.
“Ambar!” teriak Pram pada istrinya. Wajahnya memerah menahan amarah sementara ia tidak dapat berbua apa-apa melihat perempuan yang bersamanya meronta-ronta kepanasan.
Ambar terkesiap mendengar teriakan suaminya. Chynara yang sedari tadi serba salah melihat kejadian itu menarik Ambar menjauh.
“Sudahlah, Mbar. Malu dilihat orang,” bisik Chynara di telinga Ambar.
“Kamu gak usah ikut campur, Nara! Suami tidak tahu diuntung begini perlu dikasih pelajaran. Untung saja gak ada pisau. Kalau ada, sudah kupotong ‘anunya’ biar tahu rasa. Dasar parasit!” seru Ambar penuh amarah. “Dan kamu, betina gatal! Itu bayaran untuk pekerjaanmu yang murahan itu.”
Ambar berbalik dari tempatnya menuju ke meja tempat ia dan Chynara duduk sebelumnya. Tanpa menyentuh makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan, Ambar meletakkan lembaran uang merah di atas meja lalu berlalu pergi membawa barang belanjaannya.
Chynara segera mengekor di belakang Ambar dengan perasaan yang tidak menentu.
***
Chynara memarkir kendaraan di dalam garasi kemudian melangkah turun dari dalam kendaraan menuju ke dalam rumah. Terdengar tangisan Fibula di dalam, ia setengah berlari mencari tahu apa yang terjadi.
Tiba di dalam, ia melihat Fibula duduk di lantai dengan kedua kaki ditendang ke segala arah. Sementara di depan Fibula, Maleo sedang memegangi mainannya dengan erat.
“Ada apa ini?” tanya Chynara melihat putri kecilnya menangis keras. Sementara Mbak Uci mencoba menenangkan Fibula.
“Berebutan mainan lagi, Bu Nara,” jawab Mbak Uci sambil memeluk Fibula yang masih meronta.
“Mas ganggu adik?”
“Gak, kok, Ma. Mas cuma ambil mainan Mas aja kok, Ma. Adik aja yang merebut.”
Chynara melirik ke arah Mbak Uci yang mengangguk mengiyakan jawaban Maleo.
“Mintanya yang betul, Mas. Jadi, adiknya gak nangis begini,”
“Mas udah minta baik-baik, Ma. Adik merebut lagi. Nih, tangan Bee jadi lepas.” Maleo mencebik melihat mainan robot-robotannya mengalami kerusakan.
“Ya sudah. Mas masuk kamar dulu. Mama mau bicara sama adik.”
Chynara meraih Fibula yang masih menangis terisak dari dekapan Mbak Uci. Sementara Mbak Uci mengerti apa yang akan dilakukan oleh Chynara meninggalkan mereka berdua saja.
Chynara duduk di samping Fibula tanpa berbicara. Ia melepas kaus kaki kemudian melipatnya. Fibula yang mulai meredakan tangisnya melirik ke arah ibunya. Tangisnya pun terhenti.
Hanya isak tangis yang masih terdengar satu-satu di telinga Cynara.
“Sudah nangisnya?”
Fibula mengangguk pelan.
“Kalau belum selesai nangisnya boleh dilanjut, tapi setelah itu Mama gak ngijinin nangis lagi.”
Fibula menunduk, mengerti bahwa ibunya sedang menegurnya.
“Jadi …?”
“Fibu yang salah, Ma. Fibu cuma mau main robot-robotan punya Mas aja, kok.”
“Lalu …?”
“Fibu mau minta maaf sama Mas. Janji gak rebut mainan Mas lagi.”
“Bagus ….”
Fibula memeluk tubuh Chynara di sampingnya. Tangisnya telah hilang.
***
Makan malam tiba. Andika, Chynara, Maleo, dan Fibula menikmati makan malam dengan tertib. Maleo dan Fibula sudah akur, mereka masih bercanda sesekali.
“Mah, tadi Papah diliatin video viral.”
Chynara mengarahkan pandangannya pada sang suami.
“Apaan, Pa?”
“Ntar aja,” jawab Andika sambil mengarahkan matanya kepada kedua buah hati mereka.
Chynara mengikuti arah pandangan suaminya, kemudian baru memahami apa yang dimaksud.
Setelah makan malam selesai, Chynara menidurkan Fibula, sementara Andika menidurkan Maleo di kamar yang berbeda. Kebiasaan mereka berdua selalu berupaya menemani kedua buah hati agar dapat tidur dengan nyenyak ditemani orang tua.
Setelah menidurkan anak-anak mereka, Chynara dan Andika kemudian memasuki kamar mereka. Chynara yang hanya mengenakan gaun tidur tipis menerawang membuat Andika menatapnya dengan penuh luapan hasrat di d**a.
Ketika istrinya menutup pintu kamar, Andika tanpa memberikan aba-aba segera memeluk pinggang ramping Chynara dengan bibir yang menempel pada tengkuk istrinya.
Chynara merasakan sensasi yang mulai merambat naik, membakar setiap pembuluh darahnya hingga ia menggelinjang, tak lagi mampu menahan. Dengan liar, Andika menjelajahi permukaan kulit sang istri menggunakan bibirnya mengeluarkan suara berdecak sementara kedua tangannya pun ikut menjelajahi permukaan tubuh yang lain.
Pertemuan antara kedua bibir saling menggigit membuat Andika semakin memanas. Pertahanannya mulai runtuh ketika ia ingin lebih lama menikmati permainan. Ia pun akhirnya memilih dengan segera membenamkan bagian tubuhnya ke dalam raga Chynara dengan wajahnya yang memerah.
Keringat membasahi kening, permainan berlanjut dengan lebih kencang, mengharapkan, memberi, menerima satu sama lain untuk mencapai puncak yanga diinginkan. Keduanya mengeluarkan napas yang tidak beraturan, hingga berakhir dengan lenguhan keras disusul dengan terkulainya tubuh Andika dan Chynara bersamaan.
Andika berusaha mengatur jalan pernapasan ketika Chynara beringsut membenamkan kepalanya dalam dekapan sang suami. Sementara Andika membelai lembut punggung istrinya itu dengan sesekali mengecup puncak kepala.
“Papah mau cerita apa tadi?”
“Oh! Itu, ada video viral. Kejadiannya baru siang tadi.”
Chynara mendongakkan kepalanya menatap ke arah Andika. “Video?”
“Iya, seorang perempuan menyiramkan sambar ke paha selingkuhan suaminya. Parahnya lagi, tuh perempuan memakai rok pendek. Ck ck ck,” decak Andia. “Gak kebayang gimana rasanya.”
Andika tersenyum simpul. Sementara Chynara teringat akan kejadian siang tadi, ketika Ambar menyiramkan sambal ke paha perempuan selingkuhan Pram, suami Ambar. Ia berpikir, jangan-jangan yang dimaksud oleh suaminya adalah peristiwa itu.
“Papah tau siapa orangnya? Maksudku, pelakunya?”
“Gak tahu. Papah gak pengen tahu.” Andika mengangkat pundaknya. “Kalau Papa pengennya kamu begitu, Mah. Syukur-syukur dapat brondong ganteng. Ntar waktu pelatihan dapetin, ya.”
Andika mengecup kening Chynara dengan wajah sumringah. Sebaliknya, Chynara merasa jihik dengan perilaku dan sikap suaminya itu. Ia begitu terobsesi bahwa Chynara harus mendapatkan lelaki lain yang lebih jantan dari pada dirinya.
“Kok diem aja?”
“Papah mesti ngomong begitu. Bikin illfeel,” ucap Chynara segera membalikkan tubuhnya, kemudian menjauhi Andika yang terpaku.
“Ini kan demi kamu, Sayang ….”
“Aku ngantuk!”
Andika mengecup bahu istrinya sambil memeluk pingganya.
***