Chynara sibuk mempersiapkan barang-barang bawaannya untuk keberangkatan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan kota tempatnya bermukim. Satu buah travel bag berukuran sedang telah dipenuhi oleh pakaian beberapa perlengkapan lainnya untuk mengikuti kegiatan selama sepuluh hari.
Ada rasa berat untuk pergi meninggalkan rumah. Karena ia pasti akan merindukan kedua orang buah hatinya. Meskipun sudah sering mengikuti pelatihan yang mengharuskannya menginap, tapi kali ini waktu yang dibutuhkan cukup lama. Biasanya paling lama hanya lima hari saja.
Chynara mendesah pelan mengingat hari-harinya nanti akan terasa begitu kosong tanpa kehadiran kedua buah hatinya.
“Mah.” Andika muncul, berdiri di pintu sambil menatap Chynara.
“Ya, Mas.”
Andika berjalan mendekati Chynara yang sedang duduk di bibir ranjang. Tanpa aba-aba, pria matang itu memeluk pundak istrinya sambil mengelus-elus punggung dengan penuh kasih sayang. Chynara yang merasa nyaman dengan perlakuan suaminya yang sangat perhatian itu membalas memeluk pinggul Andika dengan senyum lebar, tetapi mata berkaca-kaca.
“Jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja. Kan ada aku, ada orang tuamu dan adik-adik yang akan menjaga Maleo dan Fibula. Mengapa harus risau?”
“Bagaimana tidak risau, Pah. Aku akan berpisah cukup lama dengan mereka. Gak kebayang rasa rindunya.”
“Sssttt … jangan dibayangkan. Kalau kamu ragu, kenapa gak dibatalkan saja? Aku gak keberatan kok, kalau kamu hanya menjadi ibu rumah tangga. Tidak perlu menghabiskan waktu bekerja sepanjang waktu. Cukup menjaga dan merawat Maleo dan Fibula saja.”
“Pah … kita sudah pernah membahas ini ….”
“Iya, aku tahu. Aku hanya ingin memberikan solusi untuk kebimbanganmu. Oke?” Andika menepuk pundak Chynara dengan lembut. “Yang terpenting bagiku, kamu senang, kamu bahagia, kamu menikmatinya tanpa merasa terbebani. Satu hal lagi, jangan sampai mengabaikanku.”
Chynara menganggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa suaminya itu adalah orang yang sangat perhatian. Karena jarak usia yang bertaut cukup jauh, lelaki matang yang menjadi suaminya itu seolah mengerti dan memahami cara berpikir Chynara yang ingin mandiri.
Chynara kembali mengeratkan pelukannya pada Andika membuat suaminya gemas lalu membungkuk, mengecup ubun-ubunnya.
“Tapi, jangan lupa ….”
“Papah … bikin illfeel deh ….”
Andika tertawa keras melihat wajah istrinya yang manyun. Kemudian secepat kilat, ia mengecup bibir sang istri penuh kasih sayang.
***
Berhubung akhir pekan, Chynara masih memiliki waktu untuk bersantai sebelum berangkat keesokan harinya. Kedua buah hatinya sedang bermain di sebelahnya. Maleo bermain robot-robotan, Fibula bermain dengan boneka kecil kesayangannya.
Melihat kedua buah hatinya sibuk bermain, Chynara memainkan gawainya. Sudah lama ia tidak memeriksa akun social media berlatar berwarna biru itu. Dalam satu ketukan saja, ia bisa membuka akunnya sendiri yang penuh dengan notifikasi.
Satu persatu diperiksanya notifikasi tersebut. Mulai dari permintaan pertemanan, menandai dalam satu even, pemberitahuan teman yang berulang tahun, dan lain sebagainya. Ada satu notifikasi yang mencuri perhatian Chynara. Seserang mencoleknya. Seseorang yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Dengan tangan gemetar, Chynara mengetuk layar pada akun yang mencoleknya. Terbukalah akun tersebut. Sosok pria dengan senyum lebar di bibirnya menggunakan kaca mata berwarna hitam. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana. Latar belakang pantai dengan pura yang berdiri kokoh di atas karang yang berada di tengah laut.
Chynara segera mengenali tempat itu. Bayang masa lalu mulai menari-nari di pelupuk matanya. Masa lalu yang begitu dirindukannya, tetapi juga tak ingin ia kenang lagi. Karena baginya, masa lalu itu hanyalah sebuah kesalahan yang sudah pasti tak layak untuk diingat.
Bunyi pesan singkat terdengar di dawainya. Pesan masuk, terbaca dari laying notifikasi paling atas.
[Halo, Nara.]
Pesan itu membuat hati Chynara tidak menentu. Antara rasa senang, bahagia, kerinduan dan kebahagiaan sekaligus rasa tidak nyaman yang menjalari hatinya.
Chynara tidak menjawab pesan singkat itu. Bukan karena sengaja mengabaikannya. Ia hanya tidak ingin kembali bermain-main dengan perasaannya.
[Apa kabarmu, Nara?]
Pesan kedua masuk lagi. Chynara semakin salah tingkah. Ia menggigit bibirnya paling bawah, menutupi keresahan hati. Satu sisi, ingin memberikan jawaban atas pesan singkat itu. Di sisi lain, ia ingin mengabaikannya saja. Memastikan bahwa lelaki itu lelah karena diabaikan, kemudian tak lagi mengirimkan pesan untuknya.
[Aku mencarimu selama ini. Namun, kamu tak pernah kutemukan. Akhirnya aku mendapatkan akun ini. Kutahu kamu sengaja menyembunyikan identitasmu.]
Pesan yang dikirim kali ini jauh lebih panjang. Debar di d**a Chynara semakin keras bertalu-talu, berlomba-lomba dengan tarikan napasnya.
Chynara mematikan ponselnya, berharap bila lelaki itu tak lagi menghubunginya. Sayangnya, dugaan itu salah. Lelaki itu bahkan melakukan panggilan telepon pada aplikasi berlatar biru itu. Chynara segera mematikan ponselnya, lalu meletakkannya di dalam saku pakaiannya.
Jantungnya belum berhenti bertalu, membuat tenggorokannya seketika terasa begitu kering. Ia pun berjalan menuju ke dapur, menuangkan air putih pada gelas kaca di atas meja. Pikirannya masih tertuju pada lelaki yang baru saja menghubunginya, sehingga ia tak menyadari bahwa air yang ia tuang telah meluap dari dalam gelas, dan membasahi kakinya.
Chynara tersentak, lalu buru-buru meletakkan cerek di atas meja, kemudian membersihkan lantai menggenakan kain pel.
“Mah!”
“Astaga!”
Chynara terlonjak mendengar panggilan yang tiba-tiba di belakangnya.
“Kamu kenapa, sih? Kok kayak habis liat hantu aja,” ucap Andika sambil mengerutkan keningnya.
“Papah ngagetin aja. Gak bilang-bilang kalau sudah berdiri di situ.”
Chynara menggerutu sambil membersihkan lantai yang basah oleh air minum yang ia tumpahkan.
“Hmmm … perasaan aku tidak melakukan hal yang salah, deh.” Andika berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang berada di seberang istrinya. “Kamu menumpahkan air?”
Chynara mengangguk perlahan, mengiyakan. Kalau untuk satu hal ini ia tidak mungkin berbohong. Kecuali satu hal yang terjadi beberapa saat lalu, ketika lelaki yang pernah menjadi mantan kekasihnya itu menghubunginya. Bisa kacau nantinya.
Andika tertawa pelan mendengar jawaban Chynara yang merunduk di bawah meja. “Makanya, biarin aja Mbak Sih kalau akhir pekan begini tetap bekerja. Biar kamu gak senewen begini. Lagian, kamu juga pasti capek. Gak pengen bersantai saja selama akhir pekan?”
“Isss … Papah ngomel. Aku membiarkan Mbak Sih libur supaya dia juga bisa menghabiskan waktu sama keluarganya, Pah. Lagian juga, nanti Mbak Sih yang bakal mengerjakan tugasku selama aku gak di sini.”
“Hmmm … ya udah deh. Terserah kamu aja, Mah. Aku cuma pengen mengajakmu dan anak-anak pergi. Kita makan siang di luar aja, gimana? Untuk menyenangkan hati anak-anak.”
Chynara telah selesai membersihkan lantai, segera berdiri. Ia yang lupa belum sempat meminum air putih segera meneguknya hingga habis. Andika mengerukan keningnya melihat tingkah istrinya yang terkadang menggemaskan, terkadang juga tak mampu ia mengerti.
“Ayo! Aku siap-siap, nih!” jawab Chynara. “Mas … adik … ayo kita bersiap. Papah mau ngajak kita jalan-jalan ….”
Teriakan Chynara melengking kemudian dijawab serentak oleh kedua orang buah hatinya.
“Ayo ….”
***
Bersambung …