Jangan Sampai

927 Kata
Chynara membawa Fibula ke kamar tidurnya. Gadis kecilnya itu sangat bahagia ketika mereka menghabiskan waktu di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota. Andika selalu mengusahakan meluangkan waktu di akhir pekan untuk menikmati sedikit hiburan, meski hanya makan malam di warung lesehan yang berjarak lumayan jauh dengan tempat tinggal mereka. Hanya dengan hiburan yang sangat sederhana itu saja, sudah membuat mereka berdua sangat berbahagia sekali. Setelah memastikan kedua anaknya tertidur pulas, Chynara barulah melangkahkan kakinya menuju ke kamar tidur. Tubuh Andika telah terbaring telentang di atas pembaringan. Dengkuran lirih terdengar dari dalam mulutnya, menandakan bahwa ia telah tertidur pulas. Sebelum tidur, Chynara membersihkan dirinya terlebih dahulu agar tubuhnya terasa lebih segar setelah menghabiskan waktu di luar. Direbahkan tubuh mungilnya di atas pembaringan ingin memejamkan mata yang begitu sulit terpejam. Antara  tidak mengantuk juga teringat akan pesan singkat yang dikirimkan mantan kekasihnya dulu. “Kalau aku menanggapinya, bisa-bisa gawat. Mas Andika akan sangat mudah sekali mengetahuinya.” Benaknya berkata. Dimiringkan tubuhnya, masih berusaha memejamkan mata. Sayang sekali, ia pun tak kunjung dapat memejamkan mata walau sejenak pun. Chynara segera bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju meja kecil di bawah jendela kamar di mana tas sandang yang ia gunakan ketika bepergian tadi berada. Dari dalam tas tersebut, Chynara mengeluarkan ponsel yang seharian tadi di non aktifkan. Rasa ketakutan kalau Andika sampai mengetahuinya benar-benar ampuh agar ia tidak main-main dengan sang mantan. Chynara duduk di salah satu kursi  di samping meja. Karena penasaran, ponselnya diaktifkan. Tak selang beberapa lama setelah ponselnya aktif, beberapa notifikasi bermunculan secara serentak. Mulai dari pesan singkat pada aplikasi hijau sampai pesan singkat di aplikasi berlatar biru. Lagi-lagi lelaki yang tadi siang berani melakukan panggian telepon dengannya kembali menghubungi melalui panggilan suara. Jantung Chynara berdetak kian kencang menyadari hal itu. Sungguh hal yang tak dapat diduganya. “Apa-apaan sih, ini orang. Aku gak mau cari mati!” seru Chynara dalam hati. Ia masih ingat dengan kejadian kemarin siang ketika Ambar sahabatnya menyiramkan kuah sambal cabe rawit di atas pangkuan perempuan yang menggoda Mas Pram, suaminya. Belakangan diketahui bahwa antara Pram dan wanita itu memang benar telah melakukan hubungan yang tidak diketahui oleh Ambar. Tangis Ambar tumpah di dalam pelukan Chynara ketika menceritakan aib suaminya itu. Wanita malang itu sangat terpukul dengan kenyataan yang baru ia ketahui setelah sekian lama. Betapa ia berusaha menuruti apa yang diminta sang suami, tetapi sayangnya lelaki itu berkhianat. Chynara bergidik mengingat peristiwa itu. Ia tak ingin mengalami hal tersebut. Lebih baik bila ia menghindar dan mengabaikan panggilan telepon mantan kekasihnya itu. ia pun segera memblokir nomor dan akun yang cukup membuatnya terganggu. *** “Mah, liat nih!” Andika menyodorkan ponsel miliknya ke depan wajah Chynara. “Apaan, Pah?” “Liat deh. Ganteng gak, orangnya?” Sebuah gambar seorang lelaki muda dengan tubuh semampai tersenyum manis dengan menampakkan gingsul di sudut bibirnya. Chynara mengerutkan keningnya, sudah mulai menebak ke mana arah dan maksud dari suaminya itu. Tak menunggu lama, ponsel itu disodorkannya lagi ke depan wajah Andika. Membuat suasana hati Chynara menjadi tidak menentu. “Mah, lanjut ya, tentang video viral tempo hari yang selingkuhannya disiram sambal. Kalo sama aku, kamu gak perlu takut-takut. Kamu bebas kok, menentukan pilihan. Aku akan mendukungmu, Mah.” Chynara tak mampu menahan rasa kesal di dalam hatinya. Setiap kali Andika selalu saja memancingnya, membuat Chynara berbicara setengah berteriak. “Papah! Aku gak suka Papah bilang begitu!” Chynara segera meninggalkan kursi yang didudukinya menuju ke kamarnya. Andika yang ditinggalkan begitu saja terpaku di tempatnya berdiri. Dengan langkah perlahan, ia menyusul Chynara yang telah berada di dalam kamarnya sambil memeluk bantal guling di pangkuannya. Isak tangis Chynara terdengar jelas di telinga Andika. Ragu-ragu, akhirnya Andika mendekati sang istri dan  duduk disampingnya. Lengannya melingkari bahu Chynara yang terguncang karena isak tangisnya. “Maaf ya, Mah. Bukan begitu maksudku.” Chynara tak bergeming. Ia masih menangis terisak. Rasa kesal masih memberondong hatinya. Ucapan suaminya tak digubris, ia masih terisak dengan tangis kekesalannya. Sementara Andika masih terus menepuk punggung Chynara agar tangisnya mereda. “Papah bikin kesel!” seru Chynara kemudian merebahkan tubuhnya di atas pembaringan dengan posisi membelakangi Andika. “Mah … maafin, dong ….” “Sebel!” “Janji, deh. Gak ngomong gituan lagi.” Chynara tidak menanggapi ucapan dan janji Andika. Karena bukan sekali dua kali ini Andika meminta maaf untuk kesalahan yang sama, hingga membuat Chynara kesal. *** Di bandara, Andika menurunkan barang bawaan Chynara yang akan dibawa untuk mengikuti pelatihan selama sekitar sepuluh hari. Satu buah travel bag khusus pakaian, satu buah tas ransel berisi laptop yang terpanggul di punggung. “Jam berapa keberangkatannya, Mah?” “Jam delapan, Pah. Udah, Papah pergi aja, aku bisa berangkat sendiri, kok. Nanti Papah telah ngantor.” “Gak papa. Sudah ditangani sama Angga. Jadi, aku bisa menemanimu hingga menaiki pesawat.” “Pah. Titip anak-anak, ya. Aku bakal merindukan mereka.” “Sudahlah, gak usah diucapkan kata-kata itu lagi. Bikin suasana hatimu jadi gak baik nanti. Lagipula, anak-anak kan sama aku, jadi gak perlu khawatir. Kamu cukup melakukan tugasmu saja.” Chynara menganggukkan kepalanya dengan kuat, sekaligus ingin mengusir bulir bening yang hendak runtuh membasahi pipinya. “Pake acara nangis segala, sih.” “Habisnya, aku takut kangen sama anak-anak, Pah.” “Bukan kangen sama Papah? Atau Papah gak penting?” Chynara mencubit pinggang suaminya dengan mulut manyun. Ketika Andika akan berkelit menghindar, segera dipeluknya tubuh tinggi suaminya itu. “Pasti kangen sama Papah. Jangan nakal ya, selama aku gak di rumah.” “Waduh! Kok galak ya? Padahal kamu boleh kok, Mah. Eh, ups.” Andika menutup mulutnya, takut Chynara kembali kesal padanya. Chynara segera berjalan menaiki tangga ruang tunggu penumpang. Andika yang ingin menemaninya di ruangan itu segera dihalaunya. Tak ingin menunjukkan air mata pada suaminya. Cukup dia saja yang merasakan kesedihan karena akan pergi jauh dari rumah dan keluarga untuk waktu yang cukup lama. Karena biasanya paling lama hanyalah lima hari, itu saja kadang tidak sampai lima hari. Karena hari ke-lima biasanya sudah di rumah masing-masing. Semoga kali ini kegiatan yang ia ikuti berjalan lancar, dan dia bisa kembali tepat waktu, berkupul dengan suami dan kedua anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN