51. Merasa Bersalah

871 Kata

"Devan kamu pulang dulu. Tenangkan diri, Besok kita bicarakan lagi." Senna menatap orang tuanya dengan mata sembab. "Pi, Mi, aku minta maaf." Devan menggenggam tangan Senna, lalu berdiri. "Saya pamit dulu." Tanpa kata lagi, Devan meninggalkan ruang keluarga. Udara di ruangan masih terasa menyesakkan, pertengkaran tadi masih menggantung. "Sen, lo kenapa?" Suara Gallen terdengar saat Senna baru saja keluar dari ruang dosen pembimbing. Ia berdiri di lorong kampus, memeluk map berisi lembar revisi skripsinya. Wajahnya tampak lelah, tapi lebih dari sekadar lelah fisik—ada beban pikiran yang membuat matanya redup. Senna menoleh. "Nggak, gue nggak apa-apa, Len." "Jelas-jelas nggak apa-apa gimana? Wajah lo pucet banget." Gallen mendekat, matanya meneliti dengan penuh perhatian. "Udah selesai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN