"Sah!" Kata itu masih terngiang di telinga Senna malam ini. Satu kata sederhana, tapi kini mengubah seluruh hidupnya. Kata yang diucapkan penghulu tadi siang di KUA itu kini menggema di benaknya, itu menjadi tanda bahwa dia bukan lagi seorang gadis biasa—dia kini adalah istri Devan. Hari sudah malam di dalam kamar Devan suasana begitu tenang. Setelah acara makan-makan di rumah nenek, mereka akhirnya kembali. Senna duduk di depan meja rias dengan tubuh yang masih berbalut kimono handuk berwarna putih. Rambutnya masih sedikit lembab, setelah mandi tadi. Tangannya sibuk memainkan ujung handuk, gelisah. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tampak merah, entah karena udara kamar yang hangat atau karena gugup menunggu sesuatu yang sudah ia bayangkan sejak tadi siang. 'Mal

