41. Jangan Nyakitin Aku Lagi

1234 Kata

Devan berjalan di lorong rumah sakit, membawa sebuah tas di tangan kanannya. Di dalam tas itu ada kotak-kotak makanan yang masih hangat, nasi goreng buatan sendiri, bubur ayam, dan beberapa potong roti yang ia pikir mungkin akan disukai Senna. Nasi goreng penuh kenangan, masakan yang paling sering dimakan bersama Senna, dulu. 'Gue harus kelihatan happy, buat bikin Senna happy. Gue harus bisa bikin dia makan banyak. Nasi goreng ini kesukaan dia dulu, semoga dia mau,' pikir Devan. Sesampainya di depan pintu kamar rawat, ia berhenti sebentar. Jemarinya menggenggam gagang pintu, lalu ia mengatur napas, mencoba lebih tenang, karena sejak tadi rasanya begitu gelisah di dadanya. Perlahan ia dorong pintu. Devan memerhatikan sekitar melihat ruangan yang sepi. Tidak ada Riris ataupun Danu. Tirai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN