Napas Devan jadi tak teratur saat telepon dari Danu akhirnya berakhir. Suara sahabatnya itu masih menggema di telinganya, mengabarkan tentang kondisi Senna yang memburuk, rasa bersalah seketika saja ia rasakan. Devan menunduk, telapak tangannya mengepal, d**a berdegup lebih cepat penuh dengan rasa bersalah yang tak bisa dia abaikan. Dia berjalan pelan menuju jendela, tapi ia ragu. Akhirnya Devan memutar tubuh dan menatap ke arah pintu. Kepalanya menunduk lagi, langkahnya berhenti. Dia tak tahu harus bagaimana. Rasanya semua pilihan yang bisa dia ambil hanyalah tentang siapa yang lebih tersakiti. "Apa harus ke sana?” tanyanya dalam hati. Devan lalu memilih berjalan keluar lalu, terduduk di sofa, wajahnya ditutupi kedua telapak tangan, ia lalu diam. Tapi hanya beberapa detik, hingga akhi

