55. Bukan Terpaksa(?)

1413 Kata

"Enakkan?" tanya Devan Senna mengangguk "Om, tadi enak banget masakannya, ya. Aku kenyang banget." Suara Senna terdengar bahagia, sambil memainkan sendok yang masih ada di tangannya. "Kamu ini laper atau doyan sayang?," Devan terkekeh, pandangan matanya tak pernah lepas dari wajah manis gadis itu. "Tapi aku senang lihat kamu makan lahap. Jangan sering bilang takut gemuk. Aku malah happy lihat kamu begini." Senna memelototkan mata dengan malu. "Om ih." Riris dan Danu hanya duduk di sisi kanan meja, ikut larut dalam percakapan kecil itu, meski masih ada kecanggungan. Mereka tahu ini bukan situasi mudah, tapi tak bisa dipungkiri, pemandangan di depan mata mereka terasa begitu membahagiakan, senyum putri mereka adalah hal yang paling berhasil. Devan benar-benar memperlakukan Senna dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN