Aku menghela napas panjang. Mencoba untuk menetralisir ketakutan ku. Aku sekarang berada di depan pintu ruangan Sean. Aku pun mengulurkan tanganku dan mengetuk pintu itu dua kali. Setelah itu aku memegang gagang pintu dan mendorong pintu itu. Dapat ku lihat Sean dan Tama yang menoleh ke arah ku. Melihat itu aku langsung tersenyum kepada mereka. Aku pun langsung berjalan mendekati Sean. "Hai.. gue bawain lo bunga. Gue enggak tau bunga kesukaan Lo, tapi gue rasa enggak ada yang nolak bunga mawar." Ucap ku kepadanya. "Gue enggak suka bunga." Balas Sean. "Sean." Ucap Tama. Mendengar perkataan Sean, sedikit membuatku kecewa. Tetapi aku tetap tersenyum kepadanya. "Kalau gitu gue taruk bunganya di sana ya." Aku pun berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempat tidur Sean. Aku menyusun

