Aku datang agak terlambat kali ini. Bosku—Pak Andro—menatapku dengan alis terangkat. Walau dia tidak pernah meneriaki karyawannya, dia tidak bisa mentolerir semua keterlambatan karyawannya sekalipun itu karyawan paruh waktu sepertiku. Terlebih saat ini adalah hari penting baginya. Semua harus tampak sempurna di mata dia. “Maaf, Pak, saya terlambat.” “Kenapa? Enggak biasanya kamu terlambat.” Otakku seketika memutar pada penyebab keterlambatanku. Aku menangis bagai orang bodoh hanya karena satu orang. Pak sinting bernama Bogi. Pria tidak tahu malu itu membuatku seperti gadis murahan ketika di sekolah. Aku teringat kedatangan Sonya ketika aku pulang dari rumah abang Pahlawan. Aku sengaja tidak menuruti perintah Pak sinting Bogi. Aku memilih pulang alih-alih memakai seragam pemberian Bu Dia

