“Hai, boleh gabung?” Nathan menghampiri meja kami. Tidak perlu menunggu jawaban kami, cowok itu menarik kursi lalu duduk berdampingan denganku. “Aku kebelet.” Sonya berdiri. Membawa piring siomaynya yang masih tersisa separuh. “Aku duluan, ya. Dah.” Lalu Sonya menatapku. “Dah, Prishilla.” Kemudian Sonya berlari pergi tanpa menunggu jawabanku. Dia masih saja benci kepada Nathan. “Teman kamu kenapa sih, Prishill?” Aku mengangkat bahu sebagai jawabannya. Aku selalu gugup jika berhadapan dengan Nathan. Berdebar-debar di d**a yang tidak tahu kenapa sebabnya. “Kamu kemarin pulang duluan, ya? ‘Kan kita sudah janji pulang bareng. Kamu lupa?” Aku meringis. Aku tidak lupa. Aku ingat, tetapi aku malu. “Aku ‘kan sudah sms Kak Nathan. Memangnya Kakak enggak baca?” Nathan tersenyum. “Sakit peru

