“Sel, aku berangkat dulu.” Kataku pada Selina yang sibuk mencuci piring bekas sarapan pagi kami. “Iya.” “Sebentar lagi tukang datang. Kamu pakai baju yang benar.” Peringatku saat mataku menangkap bayangan kaitan bra merah yang dipakainya. Selina menoleh lalu menatapku dengan tatapan tajamyang kubalas dengan cengiran. “Oya,” kataku seraya merapikan jaket yang kupakai, “kamu diam-diam saja di apartemenku. Jangan keluar. Nanti bisa nyasar. Jakarta itu besar.” “Iya.” Aku berdecak sebal saat dia hanya menjawab singkat. “Kamu itu, iya-iya melulu dari tadi. Ngomong yang panjang.” Selina membalikkan badannya lalu berkacak pinggang. Dipelototinya aku dengan wajah merah. Dia marah, kan, ya? O … Ow … ini tidak baik. Dia bisa melempariku dengan benda-benda yang ada di dekatnya. “Jalan sana!

