11. Mimpi

913 Kata

"Barra," Barra dan Amanda sama-sama berhenti, mereka kompak menatap Sintia yang berjalan mendekat. "Ada apa?" Tanya Barra seadanya. "Kalian mau kemana? Kok bawa koper?" "Bukan urusan kamu," jawab Barra. Laki-laki itu kembali melangkah dengan koper di kedua tangannya. "Maafin sikap mas Barra ya," ucap Amanda. "Dia kenapa sih? Jutek banget jadi orang, by the way lo Manda kan? Kok bisa ya Barra nikah sama lo, jauh banget sama Winda dulu. Apa selera Barra udah turun ya," Amanda hanya tersenyum tipis, dia tidak ingin menanggapi ucapan Sintia. "Permisi," "Belagu banget lo jadi orang," sinis Sintia. Amanda tidak menghiraukan, dia tetap berjalan menyusul Barra ke depan. "Papi," Maurin sedikit berlari menyusul Barra dan Amanda ke depan. "Eh eh, mau kemana? Kok lari-lari?" Tanya Sintia.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN