Hari ini Amanda terlihat lebih banyak tersenyum, mengingat hari kemarin Maurin sudah mulai menganggap keberadaannya membuat hatinya terasa senang.
Paling tidak, alasan untuk tetap bertahan bersama Barra menjadi semakin kuat. Walau calon ibu mertuanya belum menunjukkan tanda-tanda restunya.
"Amanda."
Amanda tersadar dari lamunannya ketika suara Barra menginterupsi.
Dia kemudian berdiri dengan kepala sedikit menunduk.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Kenapa gak makan siang? Aku liat dari tadi kamu banyak melamun," ucap Barra.
Amanda tersenyum.
"Enggak kok, saya tidak melamun pak. Bapak mau makan siang di luar atau delivery?"
"Kita makan di luar," jawab Barra.
"Kita?" Ulang Amanda.
Barra mengangguk.
"Iya, kita. Sama Maurin juga, kita jemput dia di sekolahnya sekarang."
"Tapi ini belum jam pulang sekolahnya Maurin."
"Kamu udah hafal sama jam sekolahnya Maurin ternyata," ucap Barra membuat Amanda tersipu malu.
"Katanya dia pulang cepet, tadi Maurin telpon, minta makan siang bareng, sama kamu juga," lanjut Barra.
"Kamu gak bohongin aku kan?" Tanya Amanda, wajahnya terlihat tampak harap-harap cemas.
"Bukan kamu yang maksa Maurin buat makan siang bareng aku kan?"
Barra mengacak rambut Amanda dengan gemas.
"Ish, nanti di liat orang. Malu," protes Amanda.
"Dia sendiri yang minta, katanya dia mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Mau ngomong apa?" Tanya Amanda.
"Aku gak tau, kan Maurin yang mau ngomong."
Amanda mendesah lesu, "Aku takut dia makin gak suka sama aku."
"Enggak. Kamu jangan mikir aneh-aneh gitu lah, mendingan sekarang kita jemput Maurin biar semuanya jelas."
"Tapi ini beneran Maurin yang minta kan? Bukan mas yang minta?" Tanya Amanda untuk kesekian kalinya.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju sekolah Maurin.
"Maurin yang minta, tuh, nanti tanya sendiri sama orangnya kalau gak percaya."
Barra menepikan mobilnya saat sampai di depan sekolah Maurin, di sana Maurin sudah menunggu bersama murid-murid yang lainnya.
Amanda otomatis membuka pintu dan turun dari mobil. Ini adalah kebiasaannya, Maurin yang akan duduk di depan bersama Barra.
"Ngapain tante turun?" Tanya Maurin.
Kening Amanda mengkerut bingung. "Kenapa?"
"Tante masuk, aku lagi pengen duduk di belakang."
Amanda menurut, mereka secara bersamaan masuk dan duduk di bangku masing-masing.
Barra melajukan mobilnya dalam diam, sesekali dia melirik Maurin dari balik kaca spion.
"Papi ngapain liatin Maurin, liat jalannya."
Barra terkekeh mendengar ucapan putrinya, "Mawmaw kenapa diem aja? Kita mau makan dimana?"
"Kata papi, papi udah reservasi tempat makan. Maurin terserah papi aja," jawab Maurin.
"Oke."
Mereka bertiga menikmati makan siang dengan tenang, Amanda yang lebih banyak diam. Dia hanya memperhatikan setiap interaksi yang dilakukan Barra dan Maurin.
"Papi aku mau es krim."
Barra mengangguk, "Bilang sama mbak yang ada di sana ya, Maurin berani kan?"
"Ya berani lah."
"Kamu mau juga?" Tanya Barra kepada Amanda.
"Enggak usah mas."
"Yaudah, Maurin pesen satu aja buat Maurin," ucap Barra.
"Mas,"
"Hm?"
"Aku beneran takut, Maurin mau ngomong apa ya sama aku?"
Barra menggenggam tangan Amanda dan mengusapnya pelan, "Gak papa, semua akan baik-baik aja. Percaya sama aku,"
"Tapi mas---"
"Nih buat tante," Maurin meletakkan satu cuo es krim rasa vanilla di hadapan Amanda.
"Buat tante?"
Maurin mengangguk, "Kata papi, tante juga suka es krim. Kenapa tadi gak mau waktu di tawarin sama papi?"
Amanda tersenyum tipis, "Gak papa."
"Makan," ucap Barra.
Amanda memakan es krimnya dengan cepat, dia sudah diburu rasa penasaran.
"Kata papi, Maurin mau ngomong sesuatu sama tante. Bener?" Tanya Amanda.
Maurin mengangguk.
"Mau ngomong apa?"
Maurin sedikit menghela nafas, dia menatap Barra dan Amanda secara bergantian.
"Semalem aku mimpi, ketemu mami."
"Maw---"
"Papi, Maurin belum selesai biacara."
"Oke, lanjutin," ucap Barra.
"Kata mami, aku gak boleh kayak gini terus. Mami sedih liat aku,"
Amanda menggigit bibirnya, dia sedikit takut mendengar setiap kata yang akan keluar dari bibir Maurin.
"Maurin mau minta maaf sama papi, sama tante juga."
"Apalagi Maurin udah jahat banget sama tante Manda, maaf," lanjutnya.
Amanda menggeleng, "Maurin gak salah, Maurin gak perlu minta maaf sama tante."
"Tante baik, pantes papi bisa suka sama tente."
"Maw,"
"Aku gak papa kalau papi mau nikah sama tante Manda," ucap Maurin.
Barra hampir tersedak mendengarnya, ini berita baik.
"Kamu serius sayang?"
Maurin mengangguk.
"Maurin akan belajar terima tante Manda, tapi Maurin gak akan pernah rela kalau tante Manda gantiin posisi mami. Mami harus tetap ada di dalam hati Maurin dan papi."
"Itu pasti sayang, tante Manda juga begitu. Tante Manda pasti juga sayang sama mami," jawab Barra.
Dia menggeser duduknya untuk memeluk Maurin.
"Papi akan tetap sayang sama aku dan mami kan?"
Barra mengangguk.
"Iya. Kalian punya tempat tersendiri di hati papi."
Amanda yang belum percaya dengan apa yang dia dengar hanya menangis, ini semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang begitu indah.
________