Amanda duduk menatap bayangan dirinya di cermin, hari ini adalah hari penting yang akan dia ingat selalu seumur hidup. Hari dimana dia akan resmi menjadi seorang istri dari Barra. Laki-laki yang sempat dia kagumi jauh sebelum Barra menikah dengan Winda.
Ternyata begitu banyak rencana Tuhan yang mengejutkannya. Menikah dengan Barra bagaikan sebuah mimpi.
"Nduk."
Sapuan lembut di bahu Amanda membuatnya tersadar. Rini tersenyum menatap putri pertamanya. Setitik air mata menetes tanpa di minta.
"Ibu," Amanda menggenggam keduabtangan Rini dan menciumnya.
"Kamu cantik banget pake kebaya ini," puji Rini.
"Manda minta do'a dari ibu, semoga pernikahan Manda berjalan lancar."
Rini mengangguk, "Pasti nduk, ibu selalu mendo'akan kamu. Semoga pernikahanmu langgeng, jadi istri yang baik dan nurut sama suami. Jangan lupa hormati mertuamu."
Amanda mengangguk, walau sebenarnya dia sedang menyiapkan mental dan menguatkan hatinya.
Dia tau persisi jika Ratih belum bisa menerimanya sebagai calon menantu.
"Hey, jangan nangis. Nanti dandanannya luntur, kata adikmu ini bayarnya pasti mahal."
Rini mengambil tisu di atas meja, dan menempelkannya pada sudut mata Amanda yang berair.
"Dito dimana bu?"
"Adikmu sudah di depan, duduk bareng pakde mu. Dia ikutan gerogi karena mau nikahin mbaknya," ucap Rini disertai kekehannya.
"Amanda janji sama ibu, walaupun Manda udah nikah, Manda akan tetap kirim uang bulanan seperti biasanya. Manda masih bisa kerja kok," ucap Amanda.
Rini menggeleng pelan, "Jangan terlalu dipikir, ibu masih bisa usaha dari warung. Walau kecil-kecilan, tapi tetap bisa buat makan. Adikmu itu juga nyambil kerja di toko baju, apa itu namanya, distro kalau ibu gak salah."
Amanda mengangguk, "Dito emang sempet bilang sama Manda kalau dia kerja parttime di distro bu. Tapi kan pulangnya malam terus, nanti kuliahnya dia gimana, terus nanti yang jagain ibu kalau malam siapa?"
"Ibu gak perlu dijagain, jam 10 Dito udah pulang, paling ngaret ya jam 11 udah sampa rumah. Kalau masalah belajarnya dia, adikmu itu pasti bangun jam 3 pagi buat sholat, terus belajar. Insha Allah semuanya baik-baik aja."
"Tapi ibu jangan sampe kecapekan ya, bilangin Dito juga. Fokusnya itu cukup belajar, jadi orang pinter."
Rini mengangguk, "Iya, dia pasti juga udah paham."
"Ehem... tante, acaranya udah mau dimulai," ucap Maurin.
Amanda mengangguk dan tersenyum, dia datang ke pelaminan dengan Rini dan Maurin di samping kanan dan kirinya.
Tamu undangan menatapnya dengan pandangan berbagai macam, Amanda tidak bisa mendefinisikannya.
Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat dia sudah duduk di samping Barra, laki-laki itu tersenyum begitu manis.
Bibirnya seolah mengatakan 'kamu cantik' walau tidak ada suara yang terdengar. Amanda segera mengalihkan tatapannya. Menatap adik laki-lakinya yang juga tengah menatapnya.
Dito tersenyum dan mengangguk, dari matanya terlihat dia bahagia menyaksikan kakaknya bahagia. Baginya, Amanda adalah kakak terhabat di dunia. Dia rela melakukan apa saja demi keluarga.
Tak jarang Amanda mengesampingkan urusan pribadinya demi Dito dan Rini.
"Bagaimana, apakah sudah siap untuk memulai acaranya?"
Dito dan Barra sama-sama mengangguk mantap.
Dito menjabat tangan Barra yang terasa begitu dingin, sama seperti tangannya.
"Saudara Barra Danuarta, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan kakak kandung saya Amanda Pramesti binti Alm. Hadi Prasetyo dengan mas kawin emas 30 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Amanda Pramesti binti Alm. Hadi Prasetyo dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"SAH!"
Begitu kata sah berkumandang, Barra dan Manda tak hentinya mengucap syukur.
Barra menatap Amanda, "Aku mencintaimu, istriku."
"Aku juga mencintaimu, suamiku," balas Amanda dengan lirih.
***
"Selamat mbak, aku seneng bisa liat mbak Manda bahagia. Semoga pernikahannya langgeng dan cepat di beri momongan," ucap Dito.
Amanda langsung merentangkan tangannya, ingin dipeluk. Dito dengan senang hati mendekap tubuh kakaknya.
"Aku selalu berdo'a buat kebahagiaannya mbak Manda."
"Makasih Dit," balas Manda. Mereka melapaskan pelukannya, namun tangan mereka masih saling menggenggam.
"Aku nggak tau apa yang ada di pikiran mbak Manda sekarang, tapi aku gak mau maksa mbak buat cerita sama aku."
Amanda mengangguk, Dito pasti sudah menyadari kegelisahannya.
"Kapan pun mbsk Manda butuh aku atau ibu, kita pasti akan ada buat mbak Manda." Ucap Dito meyakinkan.
"Makasih ya Dit, kamu udah ngertiin mbak. Tapi aku baik-baik aja kok, kamu tenang aja."
Dito tetap mengangguk, walau rasa penasarannya belum terpecahkan.
"Eh kalian itu ya, kalau mau kangen-kangenan nanti lagi. Manda, kamu juga cepet bersih-bersih. Ibu sama Dito dan keluarga yang lain mau pulang ke hotel ya," ucap Rini kepada putrinya.
"Ibu gak tidur disini?" Tanya Amanda, pasalnya dia masih sangat merindukan keluarganya.
"Ibu gak enak sama keluarganya Barra, kamu paham kan apa maksud ibu?"
Amanda menganguk.
"Maafin Manda ya bu."
"Udah sana kamu masuk ke dalam, keluarganya Barra juga banyak yang masih di dalam. Kamu harus berbaur dengan merek."
"Iya. Eh tapi ibu dan yang lain ke hotel naik apa?"
"Suamimu udah urus semua keperluan kami di sini, kamu tenang aja. Ibu pamit dulu ya nduk, tadi ibu juga udah pamit sama Barra."
"Hati-hati ya bu, besok Manda ke holet buat ketemu sama ibu lagi," ucap Amanda.
"Iya."
***
"Gak nyangka ya Barra yang mapan dan ganteng, bisa-bisanya dapet orang kampung. Aku yskin banget, kalau bukan karena dia kerja di kantor Barra, ah pasti dia makin keliatan miskinnya."
"Iya bener banget, kak Barra itu walaupun udah duda tapi pesonanya gak karuan. Aku kalau bukan saudaranya aja pasti udah ku gebet dia."
Amanda menghela nafas pelan saat mendengar gunjingan-gunjingan tentang dirinya dan Barra, Amanda hanya diam, apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah.
Dia memang layaknya upik abu yang beruntung karena dinikahi seorang pangeran.
"Permisi mbak," sapa Amanda saat melewati wanita-wanita tadi, bagaimanapun juga dia harus menjaga sikapnya.
"Ih, dikira gue pembokat kali ya. Enak aja di panggil mbak," celetuk perempuan berambut blonde.
"Hah," Amanda duduk di depan meja rias. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sepertinya Barra sedang mandi di sana.
"Segitu gak pentesnya aku buat jadi istri kamu mas," gumam Amanda menatap foto Barra dari layar ponselnya.
"Kenapa masih liatin foto aku hm? Kamu bisa liat aku sepuas yang kamu mau, mau pegang juga boleh," goda Barra.
Amanda sedikit kaget melihat tubuh Barra yang hanya dibalut handuk sebatas pinggang. Dia mengakihkan tatapannya.
"Kamu bikin kaget aja sih mas," Amanda mulai sibuk melepas aksesoris di kepalanya, dan berganti menghapus make up di wajahnya.
Semua kegiatan yang dilakukan oleh Amanda tidak lepas dari pandangan Barra.
Barra mengecup puncak kepala Amanda. "Kamu cantik."
"Mas, aku belum keramas, pasti rambut aku bau, tadi keringetan juga," ucap Amanda.
Barra terkekeh, "Enggak kok, tetep wangi."
"Udah ah aku mau mandi, kamu pake baju. Gak dingin apa handukan mulu," ucap Manda sembari menyiapkan lerlengkapan mandinya.
"Aku pikir kamu bakal lupa bawa baju ganti dan minta tolong aku buat ambilin," goda Barra.
"Gak akan aku lupa."
"Padahal lebih seru kalau kamu ganti baju disini Man."
"Ih otaknya udah mulai error nih."