06. Hari Pertama

910 Kata
Barra terlihat menghela nafas berulang kali, laki-laki itu sering mengubah posisi tidurnya, tanda jika dia tidak nyaman. "Kamu kenapa mas?" Barra memiringkan badannya mengarah pada Amanda. "Harusnya kamu gak usah kasih izin Maurin tidur sama kita malam ini," protesnya. "Kok gitu? Justru bagus dong, nanti Maurin bisa makin deket sama aku. Emangnya kamu gak suka kalau Maurin deket sama aku?" Tanya Manda dengan wajah tak bersalah. Barra mengusap wajahnya kasar, kemudian tersenyum selebar mungkin. "Kamu lanjut tidur aja, udah malem. Mas mau cari angin di luar," ucap Barra. Laki-laki itu berjalan menuju balkon, kemudian kembali menutup pintu dengan rapat agar angin malam tidak masuk ke dalam kamar. Barra menatap langit malam yang lumayan mendung, tidak ada bintang-bintang di sana. "Aku udah nikah sama Manda, Win. Sesuai sama permintaan kamu waktu itu," ucap Barra seolah berbicara dengan Winda di atas sana. "Dia perempuan yang baik, terimakasih kamu udah milih dia untuk aku dan Maurin." "Mas," Barra sedikit tersentak saat mendapati sebuah tangan melingkar di perutnya. Sudah dipastikan jika tangan itu milik Amanda. Barra berbalik, menatap Amanda yang kini juga menatapnya. "Kok gak jadi tidur?" Amanda menggeleng, "Kamu kenapa gak tidur? Aku minta maaf kalau aku salah, tapi jangan gini dong." "Emangnya kamu ada salah apa sama aku?" Amanda mendesah pelan, "Gak tau." "Tapi kalau kamu marah gara-gara izinin Maurin tidur barang kita, itu gak banget tau! Maurin kan anak kamu, em... sekarang udah jadi anak aku juga. Gak masalah dong kalau dia mau tidur bareng kita." Barra mengangguk. "Terus kenapa mas malah ngambek gini? Pake acara gak tidur segala." "Belum ngantuk aja," jawab Barra. "Bohong! Ini udah hampir dini hari, bohong banget kalau kamu gak ngantuk." "Aku cuma pengen peluk kamu," Barra langsung menarik Amanda ke dalam pelukannya. "Aku cuma butuh dipeluk kamu kayak gini biar aku bisa tidur," lanjut Barra. "Bohong kan?" Barra menggeleng dalam pelukannya, Amanda bisa merasakan itu. "Kamu kepikiran sama mbak Winda ya?" Tanya Amanda. Barra hanya diam, namun dia semakin mengeratkan pelukannya. Ucapan Amanda tidak sepenuhnya salah, karena sampai detik ini dia belum bisa menghapus bayang-bayang Winda dari otaknya. "Maaf, kayaknya Maurin bener, seandainya waktu itu aku langsung bawa mbak Winda ke rumah sakit, pasti semuanya gak akan kayak gini," gumam Amanda. "Jangan terlalu nyalahin diri kamu, semua yang terjadi adalah takdir dari Allah." "Tapi kamu pasti punya rasa kecewa sama aku kan? Kayak yang Maurin rasain ke aku?" Barra tidak menjawab, dia melepas pelukan mereka dan langsung membawa Amanda kembali masuk ke kamar. "Tidur yuk, aku mendadak jadi ngantuk banget." Amanda hanya diam menatap Barra yang sedikit menggeser tubuh Maurin ke pinggir, setelah itu dia meletakkan guling di sebelah Maurin. "Kamu di tengah, aku pengen peluk kamu." Layaknya sebuah perintah, Amanda langsung melaksanakannya. Dia berbari di tengah ranjang dan diikuti Barra di sampingnya. "Mami.." Amanda kembali di buat kaget saat Maurin tiba-tiba memeluknya dengan erat, bahkan kakinya sedikit menindih separuh badan Amanda. "Maurin jangan tindihin---," ucapan Barra terhenti saat Amanda mengisyaratkannya untuk diam. "Gak papa, aku seneng banget Maurin mau peluk aku. Kalau dia udah bangun, belum tentu dia mau peluk aku kayak gini." "Tapi nanti kamu pegel kalau kayak gitu," jawab Barra. "Gak papa." Barra hanya mengangguk. Tak lama kemudian mereka sama-sama berkelana di alam mimpi. _________ "Lagaknya udah kayak nyonya besar, bangun jam segini. Makanan udah mateng semua, tinggal makan deh." Amanda sedikit menunduk, dia tau kalimat sindiran itu di tujukan untuknya. "Maaf ma, tadi Manda udah bangun tapi Maurin sama Mas Barra susah dibangunin jadi---" "Jangan panggil saya mama!" "Ma-maaf." "Kamu hanya boleh panggil saya mama saat di hadapan Barra, di luar itu kamu bisa panggil saya nyonya, ngerti kamu?" Amanda hanya bisa mengangguk, hatinya terasa begitu sakit mendengar ucapan ibu mertuanya. "Barra dateng, kamu cuci muka di dapur, jangan sampe Barra liat kamu nangis," desis Ratih. Dengan cepat, Amanda pergi ke dapur untuk membasuh wajahnya. Setidaknya bekas air matanya akan hilang. "Manda mana ma? Tadi dia udah turun duluan," tanya Barra. "Lagi di dapur," jawab Ratih seadanya. "Maurin mau makan sama apa? Biar oma ambilin." Maurin menatap menu makanan yang ada di meja, tidak ada satu pun yang menarik minatnya. "Maurin mau nasi goreng aja ah, mau minta buatin bibi," jawab Maurin, gadis itu kemudian berlalu ke dapur. "Tante Manda." Amanda segera membasuh wajahnya kembali. "Maurin, kok di sini. Ada apa?" "Mau minta di buatin nasi goreng sama bibi." Maurin menatap Amanda dengan penuh tanda tanya, "Tante kenapa? Tante nangis?" "Hah? Enggak kok, tante gak nangis. Tadi cuma kelilipan aja," kilah Amanda. "Oh iya, tadi Maurin mau dibuatin nasi goreng kan? Tante masakin mau?" Maurin menatap ragu ke arah Amanda, dari penampilan dan pekerjaannya, Maurin bisa menyimpulkan jika Amanda tidak bisa memasak. "Emang bisa?" Amanda mengangguk. "Bisa. Tante buatin sebentar ya, kamu suka pake sayur enggak?" "Jangan pake sayur," ucap Maurin. Gadis itu duduk di kursi bar sambil mengamati Amanda yang mulai sibuk meracik nasi goreng. "Maurin gak suka makan sayur?" Tanya Amanda di sela-sela aktivitasnya. "Enggak." "Makan sayur itu bagus buat kesehatan lho, Maurin harus belajar makan sayur walau cuma sedikit." "Tapi rasanya gak enak, pait." Amanda tersenyum, "Engga pait kok. Kapan-kapan tante masakin sayur ya? Nanti kalau kamu masih ngerasa gak suka, tante gak akan maksa kamu buat makan sayur lagi." "Terserah." "Udah mateng, kita balik ke meja makan yuk," ajak Amanda. "Disini aja, tante temenin aku makan disini." "Tante gak enak sama yang lain, kita makan disana aja ya?" Bujuk Amanda. Dia tidak ingin berlaku salah lagi dengan menerima ajakan Maurin untuk makan di meja bar. "Yaudah deh."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN