Barra menatap penuh sesal ke arah Amanda, dia baru saja mendapat kabar jika kantor yang ada di kalimantan mengalami masalah dan mengharuskan Barra terjun langsung ke sana.
"Maaf ya."
Kening Amanda sedikit mengrenyit saat Barra mengucapkan kata maaf, dia menghentikan aktivitasnya mengemas segala keperluan Barra selama seminggu ke depan.
"Maaf buat?"
"Harusnya kita honeymoon, tapi aku malah kerja," jawab Barra. Laki-laki itu tidak menatap Amanda, melainkan menatap jari-jari lentik Amanda yang sedang dia mainkan.
"Gak masalah, honeymoon kan bisa kapan aja. Jangan lupain kalau aku pernah jadi sekretaris kamu di kantor, aku tau sedikit banyak latar belakang perusahaan kamu."
Amanda mengusap rambut Barra dengan lembut kemudian beralih ke pipinya, membawa laki-laki itu untuk menatapnya.
"Kenapa keliatan sedih banget gitu, hem? Kamu kan udah sering ke luar kota buat bisnis, kenapa sekarang kayak gak ikhlas gitu mau pergi?"
Barra cemberut, "Gimana aku mau ikhlas, kita baru aja nikah lho. Pengantin baru harusnya liburan, honeymoon, seharian di kamar. Ini kantor malah ada aja masalah, gak ngerti banget kalau bosnya ini butuh liburan."
"Jangan gitu ah, seminggu kan gak lama."
"Atau kamu ikut aku aja yuk," ajak Barra.
Amanda otimatis langsung menggeleng dengan tegas, apa kata ibu mertuanya nanti jika dia terus mengikuti Barra? Walaupun Amanda memang lemah, tapi setidaknya dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya itu pada ibu mertuanya.
"Aku gak tega harus ninggalin Maurin mas, gak papa aku di sini aja."
"Maurin kan udah biasa aku tinggal," jawab Barra tak mau kalah.
"Beda mas, sekarang aku udah jadi ibunya. Aku mau Maurin gak merasa kesepian lagi, aku pengen deket sama Maurin. Anggap aja ini salah satu usaha aku buat mengambil hati Maurin."
"Dia itu keras, kamu yakin bisa nanganin dia sendirian?"
Amanda mengangguk.
"Sekeras apapun Maurin, aku yakin aku bisa buat dia deket sama aku. Buktinya kamu yang keras bin kaku kayak gini aja bisa aku taklukin kan?"
Barra mengangguk dengan sudut bibir terangkat, dia mengakui ucapan Amanda adalah benar adanya.
Tidak mudah baginya melupakan Winda, tapi ternyata tanpa melupakannya pun Amanda tetap bisa mengisi hatinya. Perempuan itu berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Keduanya saling berpelukan, tangan Barra tidak berhenti mengusap punggung Amanda.
"Semoga semuanya segera berjalan dengan normal," bisik Barra.
Amanda mengangguk diiringi setetes air mata yang lancang keluar. Perkataannya tadi hanyalah hiburan untuk dirinya sendiri, karena dia terlalu takut jika keluarga Barra tidak akan pernah menerima kehadirannya.
"Oh iya, kamu mau ke hotel kan? Ajak Maurin juga ya, sekalian titip salam buat ibu dan keluarga kamu, maaf aku gak bisa anterin mereka ke bandara. Penerbangan aku 2 jam lebih cepat dari jadwal keberangkatan mereka," jelas Barra saat pelukan keduanya terlepas.
"Iya, nanti aku sampein salam kamu ke ibundan yang lain. Tapi kamu beneran gak papa aku gak anterin ke bandara?"
Barra mengangguk.
"Kamu pasti pengen kangen-kangenan sama keluarga kamu kan? Gak papa kalau kamu mau ketemu mereka."
"Makasih ya mas, tapi kamu juga hati-hati ya? Pokoknya kamu harus selalu kabarin aku, oke?"
"Emm, udah mulai bawel ternyata istri aku," goda Barra.
"Mas, aku serius tau!"
"Haha, iya. Aku akan selalu kabarin kamu, jangan ragu buat telpon duluan, oke?"
"Hmm."
***
"Maw, ikut mami Amanda ke tempat eyang sana. Nanti sore mereka udah pulang ke Jogja lho, kamu gak mau kenal sama keluarganya mami?"
"Kan kemarin udah pernah kenalan papi," jawab Maurin.
"Beda sayang, ayo sekarang kamu siap-siap. Mami udah nunggu kamu dibawah," perintah Barra.
"Tapi---"
"Atau papi akan sita iPad kamu?"
Maurin berdecak sebal, "Papi main ngancem aja sekarang, gak asik!"
Barra hanya diam dan tersenyum memperhatikan Maurin yang tengah menyisir rambutnya.
"Udah."
"Cantik banget sih anak papi," puji Barra.
"Dari lahir!"
Barra terkekeh mendengar jawaban dari anaknya.
"Yaudah yuk turun, nanti kalian berangkat pake taksi ya, soalnya papi juga harus ke bandara."
"Papi jangan lama-lama ke Kalimantan ya?"
"Kenapa?" Tanya Barra.
"Nanti aku sendirian,"
"Kan ada mami, udah gak sendirian lagi dong."
"Apaan sih, mami-mami, tante!" Ucap Maurin memprotes sebuatan Barra kepada Amanda.
"Kan tante Manda udah nikah sama papi, jadi mami Manda dong, bukan tante lagi."
"Gak mau!"
"Kalian itu kenapa sih, mama liatin kalian debat terus dari tadi," tanya Ratih yang duduk di ruang tamu. Tempat yang berhadapan langsung dengan tangga.
"Gak papa ma, oh iya, hari ini Maurin sama Manda mau ke tempat orang tua Manda. Mama gak keberatan kan?" Tanya Barra.
"Kenapa Maurin harus ikut? Kalau istri kamu mau ketemu ibunya, yaudah kesana aja sendiri."
"Maurin harus kenal sama keluarga Manda juga ma," jawab Barra.
"Terserah kamu lah, semakin lama kamu semakin gak bisa mama kendalikan," jawab Ratih sebelum dia pergi meninggalkan ruang tamu.
Barra beralih menatap Manda, mata perempuan itu sedikit memerah, dia yakin Amanda baru saja diintrogasi oleh mamanya.
"Kamu cuci muka dulu, mata kamu keliatan sembab," ucap Barra.
Amanda hanya mengangguk, kemudian pergi ke kamar mandi yang berada di dekat dapur.
"Maw,"
"Hem?"
"Sementara papi pergi, jagain mami ya?"
"Gak kebalik?" Cibir Maurin.
"Bukan gitu maksud papi, maksudnya kalau papi gak ada di rumah, kamu harus baik sama mami. Papi yakin kamu pasti paham sama ucapan papi,"
Maurin mengangguk.