Gina sadar kalau racun itu pastilah didapat saat Zuka memotong badan ular berbisa yang menghalangi jalan mereka tadi.
“Zuka, seperti kita tidak perlu sejauh itu.”
Zuka berhenti dan menatap Gina sambil menarik nafas panjang untuk mengembalikan kendali dirinya kepada akal sehat.
“Kau benar Gina. Kita sudah membuang banyak waktu di tempat ini.”
“Begitulah. Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka disini,” kata Gina.
Zuka kembali melihat kedua pengganggu tersebut dan menyarungkan belatinya di belakang pinggang.
“Hey, berterimakasihlah kepada wanita ini karena telah menyelamatkan nyawa kalian dari kemarahanku. Tapi kami tidak akan menolong kalian sama sekali. Takdir akan menentukan apakah kalian pantas hidup atau tidak.”
“Apa maksudmu?”
“Auuu…!” Terdengar suara lolongan serigala yang mulai mendekati tempat mereka saat ini.
“Wuss…!” Angin sepoi - sepoi membawa bau darah yang menyengat dari arah pos pertama.
“Kalian pasti tahu bahaya apa yang terjadi di hutan ini saat matahari terbenam. Aku sarankan panjatlah pohon untuk menyelamatkan diri. Tapi itu pun kalau kau bisa bertahan dari racun yang sudah menyerap pada daging dan menyatu dengan darahmu.”
Zuka dan Gina pun meninggalkan mereka di tempat itu dalam keadaan menderita.
“Gina, sebenarnya apa yang kau lakukan lebih mengerikan daripada aku. Kalau aku membunuh mereka tadi pastilah penderitaan yang mereka alami tidak begitu besar.”
Tapi Gina hanya ketakutan apabila disalahkan atas kematian orang - orang itu kalau mereka yang terbukti membunuh mereka setelah permainan ini berakhir.
“Setidaknya kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk menentukan takdirnya untuk terakhir kalinya.” Gina mencari alasan paling masuk akal agar tidak diremehkan oleh Zuka lagi.
“Benarkan itu yang kau inginkan?” Zuka penasaran karena tidak biasanya Gina berkata seperti itu.
“Ya tentu saja.”
Saat hari sudah menjelang petang maka tibalah mereka di pos pertama yang terletak dekat sebuah Gua besar. Tempat itu lebih tepat disebut sebagai menara pengawas karena posisinya cukup tinggi.
“Astaga, bagaimana cara mereka membangunnya?” Gina terkagum melihat konstruksi bangunan tersebut.
“Oh aku pernah melihat jenis bangunan seperti ini di perpustakaan sekolah. Apabila dilihat dari keadaannya aku yakin tempat ini dibangun sekitar 100 tahun yang lalu. Tapi anehnya bagaimana cara mereka membawa bahan - bahan bangunannya ke dalam hutan.”
“Ya kau benar Zuka. Sepertinya itulah bagian yang paling tidak masuk akal.”
“Tapi itu bukan masalah kita. Yang terpenting sekarang kita harus mencari tempat untuk memasukan kunci ini,” kata Zuka yang sedang melirik puluhan pintu masuk ke dalam bangunan tersebut.
“Oya apakah menurutmu Gazan dan Andris sudah tiba di tempat in?”
“Hehehe, kau tidak perlu khawatir karena mereka pasti sudah tiba sebelum kita. Gazan bukan orang yang mau melewatkan jam makan malam tanpa membersihkan dirinya.”
“Tampaknya kau sangat mengenal orang itu lebih dari biasa. Katakan padaku sejak kapan kau mengenalnya?” Gina mengerlingkan matanya seperti ingin menguji Zuka.
“Keluarga kami saling mengenal sangat lama sehingga kami sehingga berinteraksi dalam berbagai kesempatan.” Zuka menyadari kemana arah pertanyaan Gina tersebut. Dia tahu kalau Gina sedang menggiringnya kepada pengakuan yang akan mengungkapkan identitasnya.
“Anak kecil ini mau mengecoh diriku dengan cara yang mudah ditebak begitu. Apakah dia tidak bisa memiliki momen yang lebih tepat?” Pikir Zuka.