Milko maju menyerang dari arah depan dan Zuka bersiap menyambut serangan tersebut. Tapi tiba - tiba Milko mengubah lintasan serangannya dari kanan yang merupakan titik buta dari pengguna belati.
“Aku puji kecakapanmu dalam bertarung. Jarang ada orang yang mengetahui kelemahan ini. Tapi kau terlalu naif kalau berpikir aku tidak mengetahui trik itu.” Zuka tersenyum
“Ting...ting...ting!” Kedua senja logam itu pun beradu dan mengeluarkan suara benturan yang khas.
“Srat…!” Dengan satu gerakan tak terduga lengah kiri Milko tiba - tiba terkena sayatan belati miliki Zuka.
“Hehehe, bagaimana rasanya?”
Milko pun menggertakkan giginya pertanda sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
“Apa yang kau lakukan wanita gila?” Teriak Milko.
“Jadi kau tidak mengetahuinya. Aku telah memotong persendian sehingga rasa sakit kau alami kini tidak akan hilang begitu saja dalam satu hari. Kalau tidak segera dirawat oleh orang yang ahli maka kau sepenuh akan menjadi lumpuh dalam sebulan paling lambat.”
“Kau pasti hanya menggertak supaya aku mengundurkan diri dari permainan ini bukan?” Milko membentak Zuka dengan emosi sambil menahan perih.
Pada suatu zaman Zuka pernah menimba ilmu anatomi tubuh sehingga dia dapat mengetahui susunan organ tubuh manusia dan titik lemahnya.
“Benar sekali. Aku memang hanya menggertak saja. Namun sebentar lagi aku akan melakukan yang lebih dari sekedar gertakan belaka.”
“Mario, apa yang kau lakukan disana. Cepat rebut kunci itu dari wanita yang satunya lagi. Aku tidak bisa menahan wanita gila ini lebih lama lagi. Aku merasakan sesuatu yang aneh pada senjata itu.”
“Baiklah.” Maka temannya pun langsung menyerang Gina menggunakan pedang yang sama.
Tapi dengan ketangkasannya Gina pun dapat menghalau serangan Mario dengan perhitungan yang matang. Zuka tidak perlu melangkah lebih jauh dari dua meter dari tempat Gina berdiri agar bisa tetap melindunginya. Selain itu ternyata Gina masih memiliki belati lainnya yang siap digunakan pada saat tertentu.
“Aku tidak pernah melupakan keberadaanmu meski sedang bertarung melawan orang ini,” kata Gina.
Pedang Mario langsung bergetar begitu terbentur dengan belatinya Zuka. Bahkan pedang getaran pada pedang itu lebih kuat karena hanya terbuat dari besi biasa.
Zuka kita sudah mengacungkan kedua belati yang ada di tangannya kepada Milko dan Mario sambil melindungi Gina dibelakangnya.
“Ayo kita sedang di bersama - sama Mario!” Mendengar kata - kata Milko mereka berdua pun menyerang Zuka dari arah yang berbeda.
“Slap…!” Saat mereka melompat Zuka langsung melemparkan belatinya langsung dengan cepat kepada kedua musuhnya yang berada di udara. Hal itu dilakukan karena apabila orang diudara pastilah sangat sulit untuk bergerak.
“Jlep…!” Kedua belati itu pun langsung menikam ke d**a mereka sebelum menginjak lantai.
“Uhuk...uhuk!” Kedua pria itu langsung tersungkur di tanah dengan darah segar mengalir membasahi tanah.
“Sakit sekali! Rasanya lebih sakit daripada yang sebelumnya,” keluh Milko sambil menahan lukanya untuk menghentikan pendarahan.
“Sebentar lagi mungkin kalian akan merasa sedikit pusing efek dari racun yang secara kebetulan ada pada belati ini.”
“Racun? Apakah kau benar - benar berniat mau membunuh kami dengan senjata kecil itu?”
“Kemungkinan besar seperti itu karena rasanya pasti lebih menyakitkan daripada menggunakan senjatamu.” Zuka tersenyum dingin mendekati Milko dan Mario.