“Wakk…wak…wak!” Teriakan yang sangat kuat sampai menggema ke penjuru lorong labirin.
Yoktam mencoba melawan dengan membandingkan kepalanya ke dinding dengan tujuan melepaskan diri dari Gazan.
“Aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi. Bukankah itu yang kau katakan tadi ayam bodoh! Sekarang kaulah yang tidak akan aku lepaskan sampai benda itu menembus otakmu yang kecil itu.”
Seperti yang lainnya kekuatan dari darah terkutuk Gazan langsung bereaksi pada makhluk terkutuk seperti Yoktam.
“Panas…panas…panas!” Yoktam berteriak saat matanya mulai terbakar ketika darah Gazan menyerap ke dalam tubuhnya.
Sekarang yang dilakukan oleh makhluk itu lebih parah dari yang sebelumnya karena matanya sudah hangus oleh pembakaran yang terjadi. Kini racun itu mulai menjalar melalui leher menuju badan dan seluruh organnya.
“Ampuni aku! Aku tidak mau mati dengan cara seperti ini!” Suaranya sangat menggambarkan penyesalan yang mendalam.
“Makhluk seperti kita tidak seharusnya masih ada didunia ini Yoktam. Setelah aku membereskan semua yang tersisa di depan sana. Berdoalah agar aku bisa menyusul kalian secepatnya,” kata Gazan.
“Kalau kau mau mati, mati saja sendiri! Aku tidak mau mengikuti jalanmu!” Seru Yoktam sambil berguling - guling sehingga menggetarkan tanah dan dinding yang dihantam oleh badannya yang besar.
Gazan pun akhirnya melepaskan diri dari paruh Yoktam dan menarik kayu dari matanya.
“Yoktam, kau tidak mungkin bisa bertahan lebih dari ini. Tapi sebelum kau mati setidaknya kau beritahu aku tentang gelang hitam itu. Aku tahu kalau kau mengetahui sesuatu tentang mereka bukan?” Gazan mendekatkan telinganya kepada Yoktam yang nafasnya sudah putus - putus.
Yoktam menatap Gazan dengan mata yang mulai buram racun yang hampir melumpuhkannya.
“Kau tidak akan bisa lepas dari masalah ini sekalipun aku memberitahukan kepadamu hal itu. Gelang yang kau maksud adalah pusaka yang dimiliki oleh orang - orang dari desa yang berada pada titik paling selatan dari bumi pada masa itu.” Setelah mengatakannya putuslah nyawa Yoktam.
Gazan terkejut mendengar jawaban dari Yoktam karena dia pernah datang ke tempat tersebut sebelum mendapatkan kutukan hidup abadi.
“Ssshhh!” Tiba - tiba tubuh ayam itu mengeluarkan asap berwarna putih dan tubuh makhluk besar itu berubah kembali ke wujud manusia dengan pakaian kebesaran layaknya seorang bangsawan.
Melihat perubahan itu Gazan terkejut karena semua makhluk yang dikalahkan sebelumnya tidak mengalami perubahan yang sama.
“Apakah mungkin keputusannya untuk membantu manusia melepaskan dirinya dari kutukan? Setidaknya dia bisa mati sebagai manusia yang terhormat.” Gazan menyentuh pakaiannya sepertinya mengenali corak dari pakaian tersebut.
Dari Yoktam tiba - tiba terlepas sebuah buku berwarna merah. Ketika dibuka ternyata tulisan didalamnya dibuat dari tinta emas.
“Di masa lalu pastilah kau orang yang sangat penting.” Gazan mengubur mayatnya seperti manusia pada umumnya sebagai penghormatan atas jasanya.
Gazan mengambil buku itu dan memasukkan ke dalam tasnya yang sudah kosong karena semua batu dikeluarkan semuanya.
“Hei kalian yang ada disana! Aku tahu kalian bersembunyi didalam gua itu. Sebelum aku memaksa kalian dengan cara yang merepotkan, lebih baik tunjukkan kepadaku jalan tercepat ke tempat penguasa labirin ini.” Gazan berjalan menuju tempat dimana kedua pengejar itu bersembunyi.
“Glakk!” Batu yang menutupi gua disingkirkan dan mendapati mereka sedang berpelukan karena takut.
Ketika mendengar pintu gua kecil itu terbuka maka terkejutlah kedua orang dan langsung membuka matanya seketika.
“Kau!” Sontak mereka kaget karena mengira itu adalah perbuatan makhluk tersebut.
“Memangnya siapa yang kalian harapkan?” Kata Gazan.
Kemudian mereka diperintahkan untuk keluar dari tempat yang sangat sempit itu.
“Apa yang telah terjadi?” Tanya salah satu dari mereka.
“Jangan banyak tanya! Sekarang perkenalkan siapa nama kalian.”
“Babbaiklah tuan, namaku adalah Gog dan dia adalah Megido.” Gog lah orang yang mengalami siksaan dari Gazan tadi.
Gazan memberikan penawaran kepada mereka untuk mengikutinya sampai keluar dari labirin besar itu. Hanya saja dia memberikan satu syarat untuk mereka penuhi. Syaratnya adalah mereka harus memberitahu semua informasi tentang orang dibalik permainan tersebut.
Awalnya mereka terlihat enggan untuk melakukannya karena apa yang diinginkan oleh Gazan sama saja dengan membuang semua mimpinya untuk mewarisi arena yang sangat luas tersebut. Tapi setelah menimbang waktu yang telah mereka habiskan untuk menyelesaikan permainan itu, mereka sadar tidak bisa menyelesaikannya berdua saja.
“Kalau kita berhasil menaklukkan mereka, aku berjanji akan memberikan semua arena ini untuk menjadi milik pusaka kalian.” Dalam perkataan Gazan itu tidak ada keraguan sama sekali karena ia adalah pria yang selalu menepati janjinya.
Kedua pria itu pun saling menatap satu sama lain sebelum menerima tawaran dari Gazan.
“Baiklah kami akan melakukan apa yang kau inginkan.” Entah apa yang membuat Gog dan Megido menerimanya. Tapi ketika melihat mata Gazan, mereka merasakan sesuatu yang berbeda dari orang manapun.
Sebelum malam datang Gazan membawa mereka kembali ketempat Gina berada. Disana wanita itu sedang menunggu Gazan sambil menyantap makanan yang dibawanya.
“Siapa wanita ini tuan?” Tanya Gog.
“Dia adalah istriku.” Gazan menatap mata Gina agar mau bekerjasama.
Gina mendengar hal itu langsung tersedak dan hampir memuntahkan makanannya. Namun ketika melihat tatapan Gazan maka mengertilah ia hal itu untuk memperdaya kedua orang tersebut.
Keadaan itu menjadi agak canggung bagi Gina yang harus berpura - pura sebagai istri Gazan. Ia harus selalu berada didekat pria yang terlihat biasa saja itu untuk meyakinkan Gog dan Megido yang awalnya masih kurang yakin karena penampilan Gina yang masih sangat muda. Tapi setelah beberapa saat maka yakinlah mereka karena Gina benar - benar memainkan perannya dengan sangat baik.
Malam itu mereka tidur bersama layaknya suami istri, sementara kedua orang lainnya di tempat lain untuk berjaga - jaga kalau ada musuh yang menyerang.
Seperti biasa Gazan tidak bisa tertidur dengan mudah sehingga dia membiarkan Gina tertidur dahulu di sebelahnya. Tidak ada rasa takut dalam hati Gina walau Gazan berada di sebelah. Bahkan dia merasa sangat aman apabila berada ditempat yang dekat dengan pria tersebut.
Malam itu ketika Gina bersentuhan dengan Gazan, ia merasakan sesuatu yang aneh pada pria itu. Dia tidak merasakan kehangatan pada tubuhnya seperti manusia pada umumnya. Sepanjang malam sensasi dingin tidak kunjung berubah walau dia sudah benar - benar menempelkan dirinya pada Gazan.
“Kau tidak perlu takut karena aku pasti akan mengantarkanmu sampai ke akhir dari permainan ini.” Gazan berkata sambil menatap ke langit dengan nada yang serius.
“Grrrkkk…!” Tanah mulai bergetar dan susunan dinding pun kembali berubah.