Terpisah Dari Teman Seperjalanan

1055 Kata
“Zuka, apakah yang kau pikirkan sama sepertiku?” Andris melangkah masuk melewati pintu labirin.  “Jangan berpikir yang aneh - aneh. Sekarang kita sudah berada di dalam arena permainan yang dikelilingi oleh bahaya,” jawab Zuka kesal. “Aneh - aneh? Apa yang kau maksud?! Maksudku tentang tempat ini. Dari bentuknya kita seperti berada di dalam labirin raksasa. Bayangkan menurutmu seberapa tinggi dinding ini. Kalaupun kita bisa memanjatnya, mungkin akan membutuhkan waktu yang setidaknya seminggu.” “Lagipula siapa yang memintamu untuk memanjat dinding tanpa celah seperti ini. Aku yakin setiap labirin pasti ada polanya masing - masing. Sepertinya terus belok ke kanan atau terus belok ke kiri,” kata Zuka. Mereka berempat memasuki labirin pada saat hampir petang. Suasana tempat itu menjadi lebih dingin seiring dengan berkurangnya cahaya yang menerangi jalan. “Malam ini kita akan menginap di tempat ini,” kata Zuka saat melihat sebuah jalur buntu yang tertutup oleh semak - semak. Mereka pun masuk ke dalam semak itu dan membuat seperti rongga yang cukup untuk berempat hanya sekedar duduk dan berbaring saja, kalau mau buang air harus keluar dan mencari tempat yang aman.  “Sebaiknya kita berhati - hati apabila berjalan ditengah kegelapan malam. Seperti yang sebelumnya di setiap tempat pastilah terdapat makhluk aneh dengan kekuatan diluar akal. Kalau salah satu dari kalian bertemu dengan mereka sebaiknya berlari secepat mungkin dan jangan pernah mencoba untuk melawan sendirian.” Malam itu suasana di dalam labirin tempat mereka berada saat ini sama seperti malam biasanya. Kesunyian malam memang dapat menyingkapkan suara paling pelan di dunia ini.  Suara - suara angin yang bersiap melewati lorong saut - menyaut terdengar di sela - sela hembusan nafas mereka. Ditambah lagi gema yang memantul entah dari mana datangnya seperti suara air yang terus menetes tanpa henti.  Andris yang sudah kuat lagi menahan rasa untuk buang air kecil terpaksa keluar dari tempat persembunyian. Dengan hati - hati ia keluar dengan hanya berbekal sebuah lampu kecil agar tidak menarik perhatian makhluk penunggu labirin tersebut. Ia menyadari kalau dirinya hanya seorang pria biasa tanpa kemampuan bela diri seperti Zuka. Di dalam kegelapan Andris melangkah agak sedikit menjauh dari yang lainnya. “Grrrrk…!” Tanah tiba - tiba bergetar dan diikuti dengan semua dinding di kiri kanan jalan. “Hah!” Andris yang sedang melakukan buang air ke dinding merasa aneh karena dinding tersebut terasa seperti bergeser. Air seninya membentuk garis horizontal saat Andris hanya berdiri saja. Maka sadarlah ia kalau dinding labirin itu sedang bergeser. Dengan tergesa - gesa Andris menyudahi aktivitasnya dan berlari ke tempat Zuka dan yang lain. “Zuka, bangunlah!” Andris berteriak begitu kuat namun satu pun dari mereka tidak ada yang terjaga dari tidurnya. Saat Andris sudah hampir sampai ke tempat Zuka, tiba - tiba sebuah dinding besar lewat di hadapannya dan hampir saja menabraknya. Untungnya saja ia masih bisa melihat Zuka dan yang lainnya berada. Begitu dia mau melangkah, sebuah dinding lain pun langsung menutup jalannya secara permanen sehingga Andris akhirnya benar - benar sudah terpisah dari teman - temannya. “Apa! Tidak!” Andris cemas karena dia kini hanya seorang diri saja di tempat itu saat malam masih panjang.  Dengan cepat ia langsung memeriksa apa yang ada padanya karena mengetahui keadaan tiba - tiba berubah drastis. Di dalam kantong ia menemukan sebuah pemantik yang terbuat dari kayu. Namun hal itu belum bisa membuatnya lega karena ia ternyata tidak membawa senjata apapun apabila ada musuh yang menyerang, tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti. “Bahaya! Aku tidak mungkin bisa bertahan hidup lebih lama di dalam tempat berbahaya seperti ini. Mengapa harus aku yang mengalami situasi seperti ini?!” Andris menatap ke atas dan kembali melihat betapa tinggi dan lebarnya dinding tersebut. “Zuka!” Terdengar panggilan sayup - sayup dari luar sehingga membuat Zuka terjaga.  Dengan tangannya ia memeriksa keberadaan Andris dan terkejut ketika tidak merasakan keberadaan pria tersebut. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan memastikan keadaan. Dalam keadaan itu Zuka berusaha untuk tenang karena ia mengetahui kebiasaan Andris yang sering buang air tengah malam. Saat wanita tersebut keluar ia tidak menemukan keberadaan Andris sejauh mata memandang. Walau Zuka adalah manusia biasa, tapi dia memiliki penglihatan malam yang luar biasa karena dia dilatih oleh Gazan untuk menjadi seorang pembunuh pada zaman dahulu. “Dimana orang tidak berguna itu?” Gumam Zuka di tengah kegelapan. Hingga akhirnya Zuka pun tidak menemukan Andris sama sekali. Bahkan saat ia sudah pergi agak jauh dari tempat semula. “Tunggu dulu!” Zuka mulai menyadari sesuatu yang aneh dengan tempat itu. Ia pun kemudian menatap ke atas lalu kembali melihat sekelilingnya. “Dindingnya!” Ia terkejut begitu menyadari kalau dinding labirin saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. “Bagaimana bisa?! Jangan - jangan!” Zuka pun berlari kesana kemari untuk memastikan pemikirannya. “Mungkinkah orang itu terpisah dari kami oleh karena perubahan struktur labirin ini?”  Zuka pun mencoba untuk tenang dan memeriksa barang bawaan miliki Andris untuk memastikan apa - apa saja yang mungkin dibawa oleh pria tersebut apabila benar - benar telah terpisah. “Astaga! Dia tidak membawa senjata apapun!” Teriak Zuka dalam hatinya. Malam pun berlalu seperti tidak terasa karena peristiwa yang mengejutkan itu. Namun Zuka masih bisa mengendalikan dirinya agar bisa tetap tenang dalam berpikir. “Hey kalian berdua bangunlah karena sebentar lagi pagi!” Seru Zuka yang sedang memilih barang - barang apa saja yang akan dibawanya diantara semua miliki Andris agar tidak memberatkan perjalan berikutnya. Saat terbangun mereka belum menyadari kalau sedang kehilangan satu orang diantara mereka. Namun pada saat mereka mau berangkat tiba - tiba salah satunya melihat sekitar. “Kemana perginya pria itu?”  “Dia terpisah dari antara kita tadi malam. Lihatnya ke atas! Menurut kalian apa yang berubah?” Tanya Zuka untuk menguji kedua pengikutnya itu. “Dindingnya kurasa,” jawab Sisi dengan santai. Zuka terkejut karena Sisi langsung menyadari apa terjadi dengan satu kali pengamatan saja. “Eh benar juga dindingnya berubah,” sahut Miria yang tersenyum malu - malu. “Itulah yang memisahkan pria itu dari kita tadi malam. Oleh karena itu kita harus lebih waspada karena kita belum mengetahui rahasia apa saja yang tersembunyi di dalam labirin besar ini,” kata Zuka. “Wusss…!” Angin yang kuat tiba - tiba menyapu mereka bertiga sehingga menerbangkan semuanya mengikuti jalur labirin tersebut. “Jangan sampai terpisah!” Teriak Zuka dalam keadaan melayang di udara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN