Sisi mengambil tali yang tergantung di pinggangnya dan mengaitkan pada tumbuhan yang di dinding labirin untuk bertahan dari tekanan angin yang sangat kuat tersebut.
Saat sudah berada pada posisi yang aman, ia pun langsung melemparkan tali itu kepada Miria dan Zuka sehingga keduanya berhasil selamat dari bahaya yang datangnya tiba - tiba itu. Sisi memiliki akurasi yang tinggi dalam menggunakan tali tambang karena ia berasal dari daerah terkenal dengan penunggang kudanya yang hidup dengan cara berburu binatang menggunakan tali tambang sebagai senjata.
“Kerja bagus Sisi!” Seru Zuka yang kagum dengan keahliannya.
“Tapi sampai kapan kita mengambang di udara seperti ini?!” Kata Miria yang sudah tidak kuat lagi berpegang pada tali tersebut.
“Mana aku tahu! Jangan sampai terlepas karena kita pasti akan tersesat apabila terbawa angin,” sahut Sisi.
Oleh karena itu Miria langsung memeluk erat tali tambang walau harus menahan rasa sakit pada lengannya.
Beberapa saat kemudian berhentilah angin ribut itu berhembus sehingga mereka dapat bernafas dengan lega menginjakkan kaki kembali ketanah. Tapi Zuka bukan orang yang dapat langsung bersantai begitu saja. Dengan senjatanya ia bersiaga kalau ada serangan musuh yang tidak diinginkan.
“Jangan lengah! Angin seperti itu tidak mungkin tercipta secara natural dari alam. Aku yakin di dalam labirin ini ada makhluk yang aneh dengan kemampuan melampaui logika seperti arena lainnya.”
“Memangnya apa yang terjadi dengan area lainnya? Bukankah musuhnya hanya binatang kecil saja?” Tanya Sisi.
“Maka sadarnya Zuka kalau mereka berdua benar - benar telah disesatkan oleh kedua pria yang merupakan teman mereka sebelumnya.
“Aku tidak punya waktu menjelaskan musuh seperti apa yang sebenarnya menunggu di setiap area permainan, tapi akan lebih baik kalau kalian langsung melihatnya saja karena dia masih sedang berada di dekat kita yang merupakan mangsanya,” kata Zuka.
Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengikuti lika liku labirin tersebut dengan senjata di tangannya masing - masing agar tidak mengalami hal yang sama seperti tadi. Zuka sebagai pemimpin bersiaga lebih daripada yang lainnya karena ia tidak mau lagi kehilangan anggota seperti Andris.
Kenyamanan tidak berlangsung lama bagi mereka yang berada di dalam labirin saat sudah masuk semakin jauh.
“Dum…dum…dum!” Tanah tiba - tiba bergetar sangat kuat sehingga menggoyahkan pijakan mereka.
“Sudah kuduga kalau angin tadi adalah pertanda kehadiran sesuatu.” Zuka menghunus senjatanya.
Ketika matahari mulai terbit dari kejauhan terlihat sesuatu sedang berguling ke arah mereka dengan kecepatan tinggi seperti ban. Walau ukurannya terlihat tidak begitu besar dari jauh namun memiliki kekuatan yang dapat mengguncangkan semua yang ada disekitarnya, tak peduli itu dinding, tanah, bahkan puing puing.
“Makhluk apa itu?!”Seru Sisi sambil bersiap dengan tali pengikat di tangannya.
“Dari kekuatan yang dihasilkan aku yakin ia memiliki ukuran yang besar walau terlihat kecil dari sini,” jawab Miria berdiri di sebelah Sisi.
Zuka melihat ke belakang untuk mencari tempat berlindung apabila terjadi sesuatu diluar dugaan.
“Sayang sekali sepertinya kita terpaksa harus bertarung karena tidak ada tempat untuk lari. Tapi setidaknya kita beruntung karena tidak ada orang lemah disini.” Zuka tersenyum agak mensyukuri kehilangan Andris untuk sesaat karena pria itu pastilah akan merepotkan disaat seperti itu.
Semakin dekat makhluk itu maka semakin jelas wujudnya pada penglihatan mereka.
“Astaga! Bukankah itu adalah trenggiling?!” Teriak Miria dengan suara meragu.
“Kau salah! Walau berjalan seperti itu, tapi aku dapat melihat belalai daripadanya.”
“Gajah yang aku tahu tidak memiliki tanduk seperti itu!” Seru Sisi melihat sebuah tanduk di kepalanya.
“Kau benar! Tapi yang paling mengejutkan ukurannya!” Kata Zuka saat melihat Gajah dari jarak yang semakin dekat ukurannya dua lipat Krokodilus sang buaya dalam istana kematian.
“Krokodilus? Makhluk apa itu?” Tanya Sisi yang agak bingung.
“Wus…wus…wus!” Makhluk itu mendengus dan mengeluarkan tekanan udara yang kuat dari belalainya.
“Benar apa yang aku bilang kalau dia adalah gajah,” kata sisi dengan polosnya.
“Aku tidak peduli itu gajah ataupun badak sekalipun. Yang pasti kita pasti akan mati kalau tertabrak olehnya.”
“Bertahanlah!” Zuka langsung melemparkan batu ke dalam lubang hidupnya tepat saat kepala makhluk itu menghadap ke atas.
“Aaak…!” Gajah itu berteriak saat batu yang dilemparkan Zuka mengenai bagian dalam dari hidungnya yang sangat sensitif.
Dengan cepat makhluk itu memukul - mukul belalainya ke dinding labirin sehingga menjatuhkan banyak puing - puing dari pecahan dinding sehingga menghujani semua yang ada dibawahnya.
“Awas!” Zuka menghalau setiap puing - puing tersebut dengan belatinya.
Dengan kekuatan belalainya gajah itu pun langsung menyerang Zuka yang telah menyerangnya tersebut. Walau badannya besar, tapi ia dapat bergerak dengan lincah ke kiri dan kanan seperti seekor kancil. Serangan yang dilancarkan kepada Zuka memiliki pola yang berbeda sehingga agak sulit untuk menghindarinya terlepas dari ukurannya yang besar.
“Kau lumayan juga manusia. Padahal kau hanya seorang wanita yang berpenampilan biasa saja. Sudah lama tidak ada yang bisa bertahan selama ini menghadapiku diantara semua yang pernah dikirim mereka kesini sebagai bahan uji coba.”
“Hah!” Zuka terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Gajah tersebut.
“Oh ternyata kau sama seperti buaya yang ada di istana pasir sebelumnya,” kata Zuka.
“Kalau kalian telah bertemu dengan Krokodilus, berarti kau sudah mengalahkannya karena dia bukan orang yang mau melepaskan mangsa yang masuk ke dalam sarangnya.”
Zuka langsung mengambil senjata yang diberikan oleh Gazan untuk mengalahkan Krokodilus.
“Senjata itu!” Sang gajah terkejut dan sempat agak undur begitu mencium bau darah dari tombak yang berdarah tersebut.
“Sepertinya penciumanmu memang sangat peka sehingga dapat mencium bau darah yang sudah kering disini,” kata Zuka sambil memperlihatkan dengan jelas tombak tersebut.
“Aku dapat merasakan hawa keberadaan banyak makhluk terkutuk dari senjata tersebut.”
“Kau tidak salah karena kami sudah menghabisi semua makhluk tidak berguna itu dengan menggunakan senjata ini. Sebentar lagi darahmu juga akan menjadi bagian dari mereka yang ada disini.” Zuka tersenyum sinis.
“Itu pasti karena mereka sangat lemah. Jangan samakan aku dengan makhluk tidak berpotensi seperti mereka yang pernah berhadapan dengan kalian. Aku tidak akan kalah dengan siapapun, terlebih menggunakan senjata lemah seperti itu,” kata gajah dengan angkuhnya.
“Buaya itu juga sebelumnya berkata sama sepertimu,” kata Zuka.