Pertarungan antara ketiga wanita itu melawan gajah raksasa tersebut tidak terelakkan lagi oleh karena Zuka sudah terlanjur memancing emosinya makhluk tersebut.
Mereka langsung menempati posisinya masing - masing sesuai dengan arahan dari Zuka yang berpengalaman dalam pertarungan dengan makhluk besar.
“Apa kau yakin kalau kita mampu mengalahkan makhluk ini?” Sisi agak meragu terlihat dari tangannya yang gemetar berhadapan dengan musuh pada jarak yang cukup dekat dengan kakinya.
“Mengapa kau bertanya kepadaku? Kita kan hanya mengikuti perintah dari wanita itu. Aku lebih memilih mati melawan gajah ini daripada harus bermasalah dengan nona Zuka,” ujar Miria dengan suara pelan karena takut terdengar oleh Zuka.
“Hey, kalian kira aku tidak mendengar apa yang kau katakan? Daripada kalian menghabiskan waktu dengan mengobrol, lebih baik fokuslah pada pertarungan ini. Apabila kalian melakukan kesalahan sedikit saja, maka kita bertiga pasti akan mengalami masalah,” seru Zuka dari balik Gajah tersebut.
“Dasar manusia dungu! Kalian kira dengan jumlah sedikit lebih banyak bisa mengubah keadaan yang sudah pasti ini? Jangan bermimpi! Aku sudah menghabisi banyak sekali orang seperti kalian dari generasi ke generasi dengan jumlah yang lebih banyak dan ahli. Tidak seperti kalian yang terlihat sekali tidak seimbang,” kata Gajah itu.
Yang pertama maju adalah Miria yang melemparkan beberapa batu kecil yang mengarah pada lubang hidung yang besar itu.
“Kalian pikir cara yang sama masih mempan terhadap diriku?” Gajah itu dengan mudah mengelak semua batu walau dilemparkan secara beruntun. Orang biasa pun pasti akan kelawahan apabila diserang dengan cara seperti itu.
“Itulah yang kami inginkan bodoh!”
“Apa?!” Gajah terkejut begitu melihat Zuka yang sudah melompat ke udara dan bersiap menyerang belalai tersebut.
“Jangan harap!” Sisi pun tidak mau kalah. Begitu gajah mau melompat ke belakang, Sisi langsung mengikat kaki gajah itu dengan mudah karena perhatiannya sudah teralihkan oleh kedua orang tadi.
“Kau kira seorang manusia lemah sepertimu mampu mengekang kakiku yang kuat ini!”
“Apa?!” Gajah itu terkejut karena ia tidak bisa menggerakkan kakinya dengan bebas.
“Tidak mungkin seorang manusia mampu melakukannya!”
“Memangnya siapa yang berpikir mampu mengekang makhluk sepertimu. Hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu.” Sisi tersenyum dan menunjukkan kalau ia telah mengikatkan ujung tali yang lain kepada sebuah tunggung yang tercipta dari dinding yang pecah setelah terkena hantaman bebelai gajah tersebut.
“Dasar manusia licik! Kalian memang tidak layak untuk hidup mendiami dunia ini. Seharusnya sejak dahulu kami menghabisi ras lemah seperti itu sebelum keberadaan kalian mengotori dunia yang indah ini.”
Dalam keadaan seperti itu gajah tiba - tiba diam dan menarik nafas panjang dari mulut dan hidungnya secara bersamaan.
Zuka yang berada di udara dalam keadaan siap menyerang melihat apa yang dilakukan oleh makhluk itu dan secara tidak sengaja menatap matanya yang penuh amarah.
“Awas!” Zuka berteriak sekeras mungkin sampai mengejutkan Sisi dan Miria.
“Aaakkk!” Gajah berteriak sambil menghembuskan nafasnya sampai - sampai membuat belalainya berputar dengan cepat seperti baling - baling.
Gerakan itu menciptakan angin yang berputar mengikuti arah belalai tersebut.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berpegangan pada apapun agar tidak terbawa oleh angin yang bergerak tidak beraturan.
“Kalian sudah terlalu meremehkan aku, Elefan yang agung. Penguasa sesungguhnya dari labirin tanpa batas. Tidak ada yang bisa melewati tempat ini sebelum mengalahkanku. Biar itu manusia, binatang, bahkan makhluk terkutuk sekalipun. Kalian semua akan merasakan amukan sejati dari kekuatanku.” Teriakan gajah itu menggema begitu kuat sampai seakan - akan mampu menggetarkan udara yang jauh diatas labirin.
Ketiga orang hanya bisa pasrah mendengar teriakan yang membuat telinga mereka berdengung beberapa saat kemudian.
“Sisi, perhatikan sekitarmu!” Teriak Zuka.
Namun sayang sekali Sisi tidak dapat mendengar panggilan Zuka oleh karena telinganya masih berdengung begitu kuat. Bahkan Zuka pun sebenarnya belum bisa mendengarkan suaranya sendiri.
Tapi apa yang dikhawatirkan oleh Zuka benar - benar terjadi. Elefan sengaja melakukan itu teriakan yang begitu kuat untuk melumpuhkan pendengaran mereka sehingga tidak bisa merasakan serangan lainnya.
Di tengah - tengah angin ribut saat itu, kaki Elefan sudah bersiap untuk menginjak Sisi yang berada tidak jauh darinya. Walau Zuka melihat apa yang terjadi, dia tidak bisa memberi peringatan kepada Sisi. Terlebih Miria yang dipenuhi ketakutannya sambil menutup matanya memeluk sebuah batu besar.
“Dasar orang - orang tidak berguna!” Zuka yang hampir kehabisan akal mengambil sebuah batu kecil dan melempar Sisi.
Oleh karena lemparan yang cukup menyakitkan membuat Sisi tersadar dan melihat keatas ada kaki besar siap melumatnya tanpa ampun. Dalam rentang waktu yang relatif singkat itu Sisi memaksakan kakinya untuk bergerak untuk menghindari kaki gajah yang begitu besar.
Tidak sampai disitu, kaki yang lain pun langsung menyusul karena tidak mau melepaskan mangsa yang sudah lengah.
“Waaak!” Tiba - tiba Elefan berteriak karena seseorang telah menyerang kaki kiri belakangnya.
“Apakah kau sengaja melupakan keberadaanku? Wanita manapun tidak sudah diabaikan. Terlebih oleh seekor gajah yang haus darah sepertimu.” Zuka telah menghujamkan tombak sangat dalam sehingga langsung melukai Elefan.
“Lucu sekali kau sudah senang hanya karena memberikan luka kecil seperti itu. Dibiarkan beberapa saat saja pasti akan pulih dengan sendirinya. Aku adalah makhluk yang menerima kutukan hidup abadi. Senjata kecil seperti itu tidak akan mampu membunuhku. Kalian seharusnya belajar dari pengalaman.”
“Pengalaman yang aku tahu adalah semua makhluk yang terluka akibat senjata ini pastilah mati beberapa saat kemudian,” sahut Zuka sambil tersebut sinis.
“Teruslah bermimpi selagi kau memilih nyawa. Sebentar lagi kalian bertiga pun tidak akan sempat melihat luka ini pulih karena kematian yang pasti akan menghampiri kalian.”
Elefan langsung menyerang mereka bertiga dengan amarah yang meledak - ledak. Namun satu pun dari mereka tidak ada yang terkena pijakan kaki besar itu.
“Bukankah kau tadi sangat percaya diri gajah bodoh?! Jadi hanya itu yang bisa kau lakukan dengan kekuatan dan keabadian yang kau bangga - banggakan itu? Malulah pada dirimu sendiri karena telah berkata bohong.” Zuka terus mengolok - olok Elefan untuk memancing amarahnya agar peredaran darah yang semakin cepat akan meningkatkan penyebaran racun dari tombak tersebut.
Langkah kaki Elefan tiba - tiba kehilangan keseimbangan sehingga membuat badannya roboh ke labirin.
“Apa yang terjadi? Mengapa semua menjadi kabur!” Kata Elefan yang kebingungan.