Di tempat lain di dalam labirin itu Andris berjalan seorang diri menyusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan teman - temannya. Tapi semakin lama ia melangkah, jalan semakin tidak menentu.
“Aaaakkk!” Tiba - tiba terdengar suara teriakan yang sangat kuat memenuhi setiap lorong seakan datangnya dari segala arah.
“Bukankah itu adalah suara gajah?” Pikir Andris.
Dia adalah seorang pria yang cakap dalam pengetahuan umum, ditambahkan lagi memiliki pengalaman yang banyak dengan alam dan berbagai jenis hewan. Selain itu gajah adalah hewan yang paling sering ditemui di kebun binatang.
“Suara ini?!” Andris semakin lama menutup telinganya karena tidak bisa lagi menerima bunyi yang begitu kuat sampai - sampai bisa mengaburkan pandangan mata.
Setelah beberapa saat suara tersebut akhirnya hilang bersama dengan kembalinya semua fungsi indera yang sempat lumpuh seketika.
“Dari suaranya sepertinya dia sedang kesakitan. Mungkin saja dia sedang bertarung dengan seseorang. Tidak! Dia pasti sedang berhadapan dengan seseorang cukup sadis sampai berani melawan seekor gajah sekalipun. Hanya ada satu orang di dekat sini yang memiliki perasaan cukup kasar dan dapat membunuh tanpa belas kasihan. Siapa lagi kalau bukan wanita itu.”
Andris mengikuti darimana datangnya suara melengking itu berasal. Setiap lorong dia jelahi kembali sampai akhirnya dia mulai terbiasa dengan pola labirin yang dari tadi membingungkan.
“Duar…duar…duar!” Tanah tiba - tiba bergetar.
Hal itu membuat Andris semakin yakin dengan arah yang ia tuju saat ini. Tapi masalahnya dia tidak bisa berjalan dengan cepat akibat getaran yang efeknya sama seperti gempa.
“Aku harus bergerak lebih cepat sebelum makhluk itu mati dihabisi oleh mereka.” Andris bersandar pada dinding saat berjalan agar tetap bisa melangkah sedikit lebih cepat.
Suara itu perlahan menjadi pelan dan akhirnya tidak terdengar lagi. Andris pun sudah tidak bisa membaca arah karena tidak ada panduan lagi. Namun Andris terus berjalan mengikuti instingnya dengan hanya berbekal ingatan arah suara tersebut.
Suasana yang mendadak menjadi sunyi ketika ia belok kiri pada sebuah lorong sempit. Tak lama kemudian ia merasakan angin bertiup sesekali pada tempo yang konsisten. Daya tekannya pun semakin bertambah seiring dengan temponya yang semakin cepat.
“Wuss…wuss…wuss!” Kini angin yang tadi hanya berhembus saja mulai berputar sebagai p****g beliung horizontal.
Hal itu membuat Andris semakin susah dalam melangkah. Angin bukan hanya menekan tubuhnya tapi juga kedua kakinya. Setiap kali kakinya bergerak ke depan selalu saja terdorong ke belakang.
“Astaga apa yang telah terjadi di depan saja. Makhluk apa lagi yang mereka hadapi saat ini.”
Jangankan mau bergerak, untuk bertahan pada posisi yang sama saja sudah sangat berat baginya. Tapi ia tahu kalau keadaan semakin memburuk dan ingin segera membantu yang lain.
Setelah melewati lorong sempit itu ia melihat sesosok makhluk yang sangat besar sedang mengamuk jauh di depan.
“Sudah kuduga kalau itu adalah gajah. Tapi dengan ukuran sebesar itu pasti sangat susah untuk menghadapinya.”
Namun ia langsung terkejut begitu melihat makhluk itu tiba - tiba berbalik dan berlari ke arahnya seakan menghindari sesuatu.
Angin ribut yang tadi menyusahkannya berganti dengan tanah yang bergetar akibat langkah gajah yang besar tersebut.
“Hentikan! Jangan kesini!” Andris yang tidak siap dengan masalah yang silih berganti hanya bisa bergantung kepada takdir saja.
Melihat makhluk yang ukurannya 3 kali lipat gajah dewasa berlari sekuat tenaga, Andris hanya bisa pasrah karena tidak ada jalan untuk lari lagi. Lorong sempit sudah sangat jauh di belakangnya sehingga tidak akan sempat apabila harus beradu kecepatan dengan makhluk itu.
“Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?!” Keluh Andris dalam hatinya.
“Hey, jangan hanya berdiam diri saja! Lakukan sesuatu atau kau akan mati dilumat oleh makhluk itu!”
Teriakan seorang wanita yang akrab di telinga nya membuat Andris tersadar dan melonjak ke kanan sehingga wajahnya langsung menghantam dinding besar.
“Kau mau pergi kemana makhluk hina!” Zuka berteriak untuk memancing amarah gajah tersebut.
Mendengar apa yang diserukan oleh Zuka otomatis gajah itu langsung berhenti karena ia memiliki harga diri yang tinggi.
“Manusia hina sepertimu berani - beraninya menghina makhluk abadi sepertiku. Walaupun aku mati, kalian semua pasti akan ikut bersamaku ke alam baka.” Matanya dipenuhi dengan amarah walau racun sudah menyebar di tubuhnya.
“Rasakan ini!” Elefan menyerang Zuka tapi tiba - tiba keluar dari lintasan.
“Zuka! Apakah kau tidak apa - apa?!” Seru Andris yang masih terpuruk dengan luka di wajahnya.
“Berhenti mengkhawatirkanku! Sebaiknya kalian cepat cari tempat untuk bersembunyi. Makhluk ini pasti sedang merencanakan sesuatu yang busuk agar bisa membunuh kita semua,” sahut Zuka dengan suara keras.
“Nah kalian semua akhirnya sudah berkumpul. Ditambah satu orang tidak berguna lagi akan menjadi kematian yang menyenangkan. Aku akan membawa kalian semua mati bersamaku dan kita akan bertarung sampai puas di alam keabadian.” Elefan dengan penglihatan yang terbatas masih bisa melihat dinding kemudian menabrakkan diri sekuat tenaga dengan kekuatan yang tersisa.
Hanya dengan satu kali hentakan ternyata belum terjadi apa - apa. Namun gajah itu tidak puas sampai disitu. Dia terus menabrakkan diri terus menerus kepada dinding labirin tersebut.
“Ya ampun! Kita tidak akan bisa lolos dari tempat ini!” Seru Miria yang baru menyadari kalau mereka sekarang sudah jauh dari jalan lain.
Sementara itu Zuka tidak tinggal diam dan malah menyerang Elefan pada kaki lainnya agar tidak bisa berjalan.
“Jangan remehkan aku wanita tidak tahu diri! Saat ini aku sudah membulatkan tekad untuk membawa kalian semua mati bersamaku. Kita lihat siapa yang lebih cepat dalam beberapa saat kedepan.” Walau sudah menerima luka yang cukup pada pada semua kakinya, tapi hal itu terlihat sia - sia karena nafsu membunuh sudah menyatu dengan instingnya. Sampai pada kesadarannya hilang sekalipun Elefan masih terus melakukan kehendaknya.
“Sudahlah Zuka! Apa yang kau lakukan itu sia - sia saja,” kata Andris yang berusaha bangkit.
“Kau salah! Tidak yang sia - sia selama kita masih memiliki harapan. Kalian terlalu manja untuk berjuang. Bagi kalian yang hidupnya terlalu nyaman bisa dengan santai memutuskan menyerah. Tapi aku memiliki tujuan yang lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Apapun akan aku lakukan selama masih bernafas.” Zuka pun tidak mau kalah dengan keadaan itu.
“Kraak…!” Suara retakan mulai terdengar seiring dengan dinding labirin yang pecah dari ujung merambat sampai ke tempat mereka berada.
“Kira sudah tidak bisa pergi kemana - mana lagi,” kata Andris.
Sementara itu Elefan sudah tidak sadar dan mati dalam keadaan berdiri berlumuran darah. Dari ujung - ujung dinding labirin roboh menimpa semua yang ada dibawahnya. Zuka masih bisa tenang walau semua temannya sudah pasrah dan kehilangan akal.
“Hey orang - orang dungu! Jangan hanya diam saja! Ayo kita berlindung disana.” Mereka diajak untuk berlindung di bawah tumbuh Elefan yang telah mati dalam keadaan berdiri tersebut.
“Apa kau yakin? Bagaimana kalau kita malah tertimpa oleh badannya yang besar itu?” Keluh Sisi.
“Kalau begitu berarti memang sudah takdir kita untuk mati hari ini,” jawab Zuka dengan nafas yang sudah terengah - engah.
Maka mereka pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Zuka sampai satu baris dinding roboh sepenuhnya, namun ternyata badan Elefan masih tetap berdiri kokoh walau sudah kehilangan nyawanya.
Perlahan - lahan mereka menyingkirkan batu - batu yang menutupi tubuh gajah tersebut agar bisa keluar.
Setelah berhasil keluar pandangan Andris mengarah kepada tanduk Elefan yang patah akibat tertimpa oleh reruntuhan labirin. Di dalamnya ia menemukan sesuatu yang berbentuk seperti buku kuno.
Zuka memeriksa buku tersebut dan terkejut akan apa yang terdapat di dalamnya.
“Bukankan ini…?”
“Kau benar Zuka! Itu adalah panduan untuk keluar dari labirin besar ini.” Andris sangat gembira melihat ada harapan bagi mereka.
“Bukankah ini yang namanya keajaiban?” kata Andris sambil tersenyum.
“Dasar manja! Keajaiban adalah kesempatan yang diciptakan oleh perjuangan dengan penuh keyakinan sampai semuanya terwujudkan,” sahut Zuka dengan kesal.
Setelah merapikan barang - barangnya mereka langsung meninggalkan tempat itu sesuai dengan petunjuk yang ada di dalam buku tersebut.