Menjelang pagi Gazan terbangun karena penasaran akan buku yang ia dapatkan dari Yoktam kemarin. Ia merasakan ada yang aneh dengan buku tersebut. Rasa tidak mungkin kalau buku hanya berisi kehidupan masa lalu saja. Dengan perlahan ia bangkit dan membuka tasnya agar tidak membangunkan Gina yang ada disebelahnya.
Demikianlah buku tua itu dibukanya satu persatu dengan hati - hati agar tidak merusak kertasnya karena kondisinya yang sudah sangat usang.
Para lembaran awal terlihat susunan anggaran yang pernah dibuat oleh Yoktam saat ia hidup. Semakin jauh dibuka kemudian menampilkan lembaran kosong tanpa tulisan sedikitpun.
“Ini aneh! Mengapa dengan masa hidup yang begitu lama ia tidak menuliskan sesuatu lagi?” Pikir Gazan.
Sampai dia menyibakkan satu lembaran yang mengantarkan pada sesuatu yang aneh seperti lukisan abstrak. Yoktam membuat banyak garis meliuk yang saling bersinggungan. Gazan melihatnya semakin seksama karena orang seperti Yoktam pastilah tidak akan membuat sesuatu yang tidak berarti.
“Garis ini!”
Begitu Gazan menaruh telunjuknya dan mengikuti semua garis tersebut seperti ada suatu impresi yang mengganggunya. Dia teringat dengan jalan - jalan yang ia lewati selama berada di dalam labirin beberapa hari ini.
“Tidak mungkin!” Gazan terkejut karena ia menyadari kalau setiap garis itu kemungkinan besar ada gambaran dari lorong labirin tersebut dan sebuah pola perubahan setiap malam.
“Kalau ini benar lalu mengapa ia tidak pergi dari tempat ini saja?” Gazan pun terus membuka lembaran berikutnya dan semakin menemukan kebenaran kalau apa yang tertulis disitu memang benar adanya.
Begitu sampai pada lembaran terakhir Gazan terkejut akan tulisan yang ada disitu. Ditulis dengan bahasa yang pertama sebelum bumi tenggelam oleh banjir besar. Satu - satunya bahasa yang digunakan oleh semua umat manusia yang diatas satu daratan luas. Tulisan itu berbunyi “Begitu masa depan menjadi sejarah, yang tersisa hanyalah pengulangan tanpa henti”.
Bagi seorang yang sudah hidup melintasi banyak masa, ia sangat mengerti apa yang dipikirkan oleh Yoktam. Bagi mereka yang merupakan bagian dari masa lalu tidak akan bisa hidup menerima masa depan seindah apapun itu.
Gazan pun menutup buku tersebut dan merenungkan semua yang telah ia lewati. Kali ini untuk pertama kalinya ia merasa iri dengan semua yang telah mati karena akhirnya bisa menemukan akhir dari perjalanan. Keabadian bukanlah segalanya buat makhluk yang ada di atas bumi. Mungkin hanya ia seseorang yang menginginkan kematian lebih dari siapapun.
“Aku mengakhiri semua ini untuk kebaikan semuanya.” Gazan menyadari semua kendali yang ada padanya saat ini bukanlah sesuatu yang baik buat dunia. Setiap generasi haruslah menemukan jalan keluar dari setiap masalahnya sendiri. Selama ini Gazan selalu menjadi pertahanan terakhir dari masalah terberat yang dialami dunia. Dia bahkan dipaksa untuk berpikir melintasi masa depan untuk menentukan keputusan yang mana hal tersebut telah melanggar kemerdekaan manusia.
Hari ini Gazan terjaga sampai matahari terbit menyinari bumi dan embun kering menyatu dengan udara.
“Kita akan keluar dari labirin ini,” kata Gazan kepada Gina yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan yang meyakinkan.
“Benarkah?” Gina masih menganggapnya sebagai candaan walau ia tidak pernah melihat Gazan bergurau satu kalipun.
Gina hanya bisa tersenyum dan menghela nafasnya mengikuti Gazan dari belakang seperti biasa. Sementara itu kedua pria lainnya berdiri agak jauh berjaga - jaga apabila ada musuh yang menyerang dari belakang dan mengingat jalan yang dilewati sebelum berbelok. Hal itu diperintahkan oleh Gazan sebelum berangkat tadi.
Semakin lama mereka berjalan lingkungannya terus berubah - ubah. Kedua orang itu terkejut karena sebelumnya mereka belum pernah memasuki area itu selama bertahun - tahun.
“Bagaimana kau mengetahuinya?” Tanya salah satu dari pria itu kepada Gazan yang berada paling depan.
“Hanya mengikut instingku saja,” jawab Gazan santai.
Padahal Gazan telah mengingat setiap rute yang tertulis pada buku yang ditinggalkan oleh Yoktam.
Mereka pun berjalan hingga matahari berada diatas kepalanya menunjukkan sudah tengah hari. Mereka dibawa pada suatu jalan lurus tanpa belokan ataupun persimpangan apapun sejauh mata memandang.
“Sepertinya inilah akhirnya!” Seru kedua orang pria tersebut sambil mengangkat tangannya.
“Kami awalnya tidak begitu percaya kalau kau bisa sampai sejauh ini. Tapi seperti kau memiliki sesuatu tidak dimiliki oleh orang lain. Baiklah bocah kami mengakui kalau kau mampu menaklukkan labirin ini. Tapi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini bersama - sama lagi.”
“Apa maksud kalian berdua?” Tanya Gina dengan wajah curiga.
“Aku cukup menikmati perjalanan bersama kalian berdua. Lagipula kami mengetahui kalau kalian bukan pasangan suami istri. Jadi kita berpisah disini dan kami akan mencari jalan kami sendiri mulai sekarang.” Setelah mengatakan hal itu Gog dan Megido pun berbalik badan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Gazan tidak berkata apa - apa dan melepaskan kepergian mereka demi menghormati keinginan mereka yang ingin bermain dengan cara yang benar.
“Kita tidak pernah tahu kalau di dunia masih ada orang seperti itu. Aku jadi teringat masa - masa petualanganku yang menyenangkan.” Gazan mengingat pada waktu manusia diakui dari sejauh mana ia dapat mengelilingi dunia dengan kemampuan sendiri.
“Apa yang kau katakan Gazan? Kata - katamu seolah - olah sudah hidup sangat lama,” kata Gina sambil tersenyum.
“Ayo kita pergi karena perjalanan kita masih sangat panjang,” kata Gazan.
Apa yang dikatakan oleh Gazan benar sekali karena dari tengah hari sampai menjelang sore mereka melintasi jalan lurus itu belum juga menemukan ujungnya.
Saat matahari sedikit lagi terbenam Gazan menjadi agak gusar karena belum juga menjadi tujuannya.
“Kita tidak bisa terus begini! Apabila sudah gelap nanti susunan dinding labirin ini pasti akan berubah lagi dan perjalanan kita menjadi bertambah panjang.”
“Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi,” protes Gina.
Gazan tidak mengira jalannya kan begitu panjang karena yang tertulis didalam buku hanya garis pendek saja. Saat hari mulai petang Gazan mulai mencepat langkahnya dengan berlari kejar - kejaran dengan waktu.
“Gazan tunggu aku!” Gina mengeluh karena sudah sangat lelah berjalan seharian.
Namun karena tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Gina pun langsung diangkat ke atas punggungnya sambil berlari.
Gina tanpa pikir panjang memegang erat leher Gazan agar tidak terjatuh. Dalam keadaan itu Gina dalam keadaan sadar benar - benar telah merelakan dirinya melekat dengan Gazan.