“Apa kau yakin kalau ini adalah jalan benar?” Keluh Andris yang sudah sangat lelah menempuh perjalanan satu hari tanpa istirahat sedikit pun karena mereka benar - benar sedang mengejar waktu.
“Kau tidak perlu meragukanku dalam hal yang satu ini. Oya sepertinya kita harus mempercepat langkah karena kau tahu apa yang terjadi saat gelap bukan?” Gurau Zuka kepada Andris.
“Apa?! Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu?! Aku hanya seorang pria biasa dengan tubuh yang normal dan tidak terlatih seperti kalian.”
“Kalau kau memperlambat maka kami bertiga terpaksa akan menyeret dirimu dengan paksa. Setelah itu kau pun akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi saat sampai di pos berikutnya.” Gina sangat serius mengatakannya.
“Jangan bercanda! Hukuman apa yang kau maksud?” Andris terkejut bercampur penasaran.
“Kau ingat apa yang terjadi malam itu bukan? Namun kali ini kami tidak akan membiarkan dirimu beristirahat. Bayangkan saja bagaimana rasanya malam nanti malam,” kata Zuka.
“Dasar kalian ini tidak memperlakukan aku layaknya manusia. Aku tidak akan mau lagi mengalami malam yang mengerikan itu.” Andris pun langsung mempercepatkan langkahnya.
Saat hari menjelang petang mereka pun akhirnya berlari melalui jalan lurus tersebut hingga akhirnya menemukan pintu masuk. Di depan pintu terdapat sebuah lubang berbentuk kotak. Setelah diukur ternyata ukurannya sama dengan buku yang mereka bawa. Maka ketika dimasukkan ke dalam lubang tersebut, terbukalah pintu pos ke empat.
Pos tersebut tampak berbeda dengan yang sebelumnya. Zuka terkejut kau ia sangat mengenal nuansa yang dijadikan sebagai tema interiornya.
“Sudah kuduga mereka berasal dari masa itu. Kali ini aku tidak akan melepaskan kalian dasar pembuat onar. Sampai kelubang semut sekalipun kalian tidak akan kubiarkan.” Zuka sangat kesal saat melihat ornamen yang tertera di dinding.
Semakin masuk ke dalam pos tersebut Zuka langsung dapat merasakan kehadiran Gazan yang sangat dikenalnya. Begitu berbalik Zuka terkejut melihat Gazan sedang mengangkat Gina di punggungnya.
Melihat Zuka yang terkejut Gazan langsung memberikan isyarat agar ia segera membawa Gina bersama dengan nya sebagai sesama wanita. Gazan melakukan hal itu karena ia sadar kalau Gina sudah tertidur saat diperjalanan menuju pos tersebut.
“Wanita ini aku serahkan padamu Zuka,” kata Gazan sambil bertukar tempat dengan Zuka.
“Baiklah,” jawab Zuka.
“Siapa mereka?” Gazan melihat kedua wanita yang ada di belakang Andris.
“Kami menemukan mereka telah ditipu oleh beberapa orang untuk mengikuti permainan berbahaya ini,” jawab Andris.
“Oh baiknya.” Gazan menatap mereka berdua tanpa mengatakan apa - apa.
Kedua wanita itu pun hanya bisa terdiam tapi mengagumi kharisma yang kuat keluar dari diri Gazan.
“Hey kalian jangan berpikir yang bukan - bukan terhadapnya!” Kata Zuka menatap Miria dan Sisi.
Melihat Zuka mereka langsung mengerti posisinya. Lagipula mereka berdua tidak mampu melakukan apapun tanpa bantuan Zuka. Asal bisa keluar dari sini pun adalah keajaiban yang tidak terkira.
Tiba - tiba Miria langsung menatap Andris dengan hasrat yang tak terkatakan. Dia memang sangat menginginkan apa yang terjadi malam itu terulang lagi. Tapi sayangnya Andris menyadari maksud kedua wanita itu.
“Gazan tunggu aku!” Andris berlari sekuat tenaga menyusul Gazan yang sudah pergi terlebih dahulu.
Demikianlah mereka semua diantar untuk pergi ke kamarnya masing - masing untuk beristirahat layaknya seorang bangsawan.
Saat tiba di ruangannya Andris langsung mengunci kamarnya karena takut akan ancaman dari ketiga wanita yang ikut bersamanya.
“Ada apa?” Tanya Gazan heran dengan gerak - gerik Andris yang terlihat ketakutan.
“Oh tidak apa - apa! Aku hanya tidak mau ada yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,” jawab Andris sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.
Gazan tidak semudah itu percaya melihat seberapa risaunya Andris saat menjawabnya.
“Apakah Zuka melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” Tambah Gazan.
“Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan kemampuannya dalam bertarung. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”
“Maksudku sesuatu yang terjadi diluar pertarungan. Kau tidak perlu menyembunyikannya dariku. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan wanita itu,” kata Gazan dengan nada serius sambil memegang tangan Andris.
Andris yang mendapatkan perlakukan seperti itu dari seorang pria seperti Gazan langsung melepaskan tangannya.
“Tidak ada yang perlu kau pertanggung jawabkan. Lagipula aku hanya telah karena sudah berlari sekuat tenaga disaat - satu terakhir tadi.” Andris berdiri dan menaruh barang - barangnya di tempat yang sudah disediakan.
Gazan bingung karena respon Andris bertambah aneh sejak mereka berbicara tadi. Andris seakan menjaga jarak darinya.
Malam itu ketika semua orang sudah terlelap, Gazan dan Zuka bertemu di ruangan tempat para peserta dapat bersantai. Di tempat yang sudah disediakan berbagai makanan dan minuman itu Gazan duduk sambil meneguk secangkir teh, sementara Zuka berdiri melayani keperluan tuannya.
“Tuan, apakah kita perlu melakukan hal itu?” Tanya Zuka sambil memperhatikan situasi.
“Jaga bicaramu karena sekarang kita sedang diperhatikan oleh mereka,” sela Gazan dengan suara pelan.
“Maafkan aku tuan.” Zuka pun langsung meningkatkan konsentrasinya untuk mendeteksi keberadaan orang - orang tersebut.
Cara Zuka mendeteksi keberadaan seseorang atau makhluk di dalam ruangan adalah dengan mendengar tarikan nafas yang pada tekanan paling rendah dapat mengubah atmosfer sekitarnya.
“Mereka sudah terlalu berani memasuki wilayah yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Kalau tuan memberikan perintah, maka aku akan langsung membasmi mereka tanpa sisa.”
“Tidak untuk saat ini Zuka. Kita masih harus melihat seberapa jauh perbuatan mereka untuk mencegah masalah yang sesungguhnya,” kata Gazan sambil menghela nafas panjang.
“Aku sangat menantikan saat itu tiba tuan. Tapi untuk saat ini seperti kita masih harus memberikan waktu lebih panjang kepada mereka untuk bermain - main dengan masalah ini.”
“Zuka, duduklah! Kita sebentar lagi akan kedatangan tamu. Akan terasa aneh kalau kau berdiri saja di sebelahku seperti itu.”
Mendengar perkataan Gazan langsung membuatnya tersentak karena ia tidak dapat mendeteksi kehadiran siapapun selain pada pengganggu itu. Tapi ia tahu kalau Gazan tidak mungkin melakukan kesalahan. Maka duduklah Zuka setelah itu ia langsung mengambil secangkir teh hangat yang sudah terhidang.
“Senang bisa bertemu kalian berdua lagi.” Tiba - tiba terdengar suara dari tengah mereka berdua dan membuat Zuka langsung terkejut.
“Begitu juga denganku tuan Gord,” sahut Gazan sambil mengangkat gelasnya tanda penghormatan.