Setelah Gazan berkata - kata Zuka pun perlahan bisa melihat kehadiran seorang pria berpakaian rapi berdiri di hadapannya membawa sebuah tongkat pendek.
“Kau!” Zuka langsung mengambil sikap siaga dalam keadaan duduk sekalipun. Hal itu ia lakukan agar tidak menarik perhatian orang misterius tersebut.
“Apakah aku sudah mengganggu acara kalian?” Tanya pria yang bernama Gord tersebut.
“Tenangnya saja tidak sama sekali. Lagipula kami hal beristirahat sambil berbagi pengalaman setelah melewati rintangan pada arena labirin tadi.”
“Benarkah! Tapi sepertinya tidak ada sesuatu yang menarik di tempat itu,” kata Gord sambil berjalan menuju satu kursi kosong disebelah kiri Gazan dan Zuka.
“Memangnya kapan kau sampai di tempat ini?” Tanya Zuka dengan raut wajah penasaran.
“Apa! Jadi kau tidak menyadarinya? Aku masuk bersama denganmu dan ketiga orang itu. Aku sampai mau tertawa melihat pria yang begitu tergesa - gesa mendahului tadi. Apakah dia tidak apa - apa,” jawab Gord.
Zuka yang mendengar jawaban Gord langsung kesal setelah mengetahui kalau mereka telah dimanfaatkan oleh orang yang tidak disadari kehadirannya. Demikianlah mereka berbincang sampai larut malam ditempat itu sembari menikmati berbagai macam hidangan malam.
“Zuka, sepertinya kau harus melakukan sesuatu bukan?” Kata Gazan sambil tersenyum kecil.
Tanpa berkata - kata Zuka langsung mengetahui apa yang diisyaratkan oleh Gazan tersebut. Gazan meminta Zuka untuk mengawasi Gord lain kali apabila sudah berada diarea permainan. Setelah meletakkan cangkirnya ia berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat setelah itu Gazan secara tidak secara melihat wajah Gord dan terhenti sejenak. Ia tiba - tiba tersentak oleh sesuatu yang mengganggu pikirannya. Di dalam ingatan masa lalunya ia seperti pernah melihat wajah Gord disuatu tempat tapi entah dimana.
“Apakah ada yang yang aneh dengan wajahku sampai mendapatkan perhatian lebih darimu Gazan?”
“Hah!” Pertanyaan tiba - tiba membuyarkan pikiran Gazan yang sedang tadi sedang fokus menggali ingatannya.
“Ah tidak ada apa - apa? Aku hanya merasa seperti pernah bertemu denganmu disuatu tempat entah dimana itu,” kata Gazan kemudian ia meneguk kembali air minumnya dengan tenang.
“Wah padahal kita berada dibelahan bumi yang berbeda bukan? Aneh sekali kalau ada yang pernah melihatku karena baru kali ini aku datang ke tempat ini. Pasti kau salah orang bukan?” Sahut Gord sambil tersenyum misterius.
“Mungkin saja aku salah orang, tapi aku tidak pernah salah dalam mengingat sesuatu. Mungkin hanya mirip saja karena orang yang ada dalam ingatanku pasti sudah tidak ada lagi.”
“Apakah dia sudah mati?” tanya Gord.
“Kematian adalah misteri yang sangat susah dipastikan apabila tidak melihatnya secara langsung.” Gazan berkata seperti itu karena sudah bertemu dengan orang - orang yang seharusnya sudah mati ribuan tahun lalu tapi masih hidup sampai saat ini walau dalam rupa yang jauh berbeda.
“Perkataanmu seakan - akan menyiratkan rahasia yang tidak mililki semua orang. Apakah kau juga memiliki rahasia besar yang dijaga sampai saat ini?”
“Setiap orang memiliki rahasianya masing - masing terlebas itu besar atau kecil bukan? Terlebih aku yang dan kau yang tidak pernah bertemu saat di dalam area permainan manapun,” kata Gazan sambil menghela nafas panjang.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud tuan Gazan. Oh maaf, bukankah begitu cara wanita tadi memanggilmu. Sepertinya dia sangat menghormatimu lebih dari seorang teman berpetualang biasa,” sahut Gord.
“Kau sangat pandai berkata - kata dan pandai berpura - pura ya. Aku tidak menyangka kalau kau sudah berada diruangan ini jauh sebelum kami tiba disini. Tapi sebaiknya kau tidak mencampuri urusan kamil. Atau …”
“Kau akan menyingkirkan aku seperti kau menyingkirkan para makhluk itu dengan menggunakan darahmu?” Wajah Gord yang tadi santai tiba - tiba berubah menjadi begitu serius.
“Oh ternyata kau kau sudah mengawasi apa yang kami lakukan selama ini dari dalam bayangan ya. Aku puji kau karena dapat lolos dari jangkauan pengawasanku. Tapi apabila lain kali aku melihatmu mengawasi kami lagi, maka kau akan mengetahui kalau mimpi terburukmu bisa diwujudkan dengan mudah sehingga membuatmu bisa bermimpi selamanya.”
Suasana tempat yang tadi begitu teduh berubah menjadi sangat suram. Seakan - akan sebentar lagi akan ada ornag yang terbunuh tanpa sengaja.
Gord yang sedari tadi menggunakan kemampuan pengalihan perhatian tiba - tiba tidak bisa berbuat apa - apa. Rasa takut yang sangat nyata memenuhi hatinya sehingga melumpuhkan inderanya. Nafasnya pun menjadi sesak oleh karena hawa kematian yang bercampur dengana udara masuk memenuhi paru - parunya. Apabila dibiarkan, hanya membutuhkan waktu beberapa saat saja pasti manusia biasa akan kehilangan kesadaran dan tertidur dengan mimpi buruk yang panjang.
“Gazan, apa yang kau lakukan disini?”
Terdengar suara seorang wanita dari arah pintu masuk ruangan tersebut membuat Gazan terkejut bukan main. Tapi syukurnya hal itu dapat membuat atmosfir ruangan itu kembali seperti semula.
“Mengapa kau tidak mengatakan kepadaku kalau kita sudah tiba. Aku sangat lapar sehingga membuatku terbangun. Syukurlah disini terdapat banyak makanan yang bisa dinikmati.” Tanpa berlama - lama Gina pun buru - buru mengambil sebagian untuk memenuhi perutnya.
Setelah itu dengan santainya Gina menghampiri Gazan dan duduk di tempat yang diduduki oleh Zuka sebelumnya.
“Apa yang kau lakukan seorang diri di tempat ini. Sepertinya kau sudah selesai makan bukan? Gina melihat piring yang telah digunakan oleh Zuka untuk makan beberapa saat lalu.
Gazan menyadari kalau Gina pun tidak bisa melihat kehadiran orang lain di tempat itu walau sangat terlihat jelas oleh Gazan.
Gord yang kembali dapat bernafas dengan lega langsung berdiri dan meninggalkan mereka berdua ditempat itu sebelum ia kehilangan nyawa.
“Glak…!” Terdengar suara gelas yang diletakkan.
Gina terkejut melihat ke arah gelas tersebut tapi ia tidak dapat melihat orang yang menaruhnya disitu.
“Hah!” Perasaan aku tadi tidak melihat adanya gelas disitu. Apakah kau melihatnya Gazan?”
“Oh itu hanya perasaanmu saja. Dari tadi gelas itu memang berada disitu. Sebaiknya setelah pulang tadi kau periksakan matamu itu ke dokter saja.” Gazan pun meletakkan gelasnya kemudian berdiri.
“Hey kau mau kemana? Kau harus menemani aku makan sampai selesai. Kau harus bertanggung jawab karena tidak membiarkan aku beristirahat makan tadi siang bukan?” Gina tersenyum gembira karena Gazan akhirnya terpaksa harus duduk menuruti kemauan wanita itu walau ia sangat terganggu olehnya.