Gina makan dengan lahap tanpa mempedulikan perasaan Gazan yang tidak nyaman dengannya. Malam itu tidak seperti biasanya Gina lebih banyak makan daging bakar dan sedikit tumbuhan. Padahal biasanya ia lebih banyak makan sayur dibandingkan daging.
“Apakah kau tidak takut dapat menumbuhkan otot melebihi batas normal?” Celetukan Gazan memecahkan suasana hening yang sudah berlangsung cukup lama.
“Aku sudah tidak memperdulikan hal itu lagi setelah apa yang terjadi hari ini. Yang terpenting adalahnya aku memiliki kekuatan otot yang besar agar tidak menjadi beban bagi orang lain,” jawab Gina sambil memegang tulang iga yang besar dengan kedua tangannya.
“Sudahlah terserah padamu saja. Lagipula aku tidak merasa terbeban sedikit pun apabila hanya membawa satu orang saja.”
Gina berhenti makan begitu mendengar perkataan pria yang telah membawanya dengan tangan di sepanjang jalan lurus kemarin.
“Hey Gazan, aku tahu kau tidak akan memperdulikan masalah kecil seperti itu. Tapi aku juga harus mempertahankan harga diri. Memangnya sudah berapa kali aku merepotkanmu.”
“Apapun itu, yang terpenting bagiku kau terluka saja,” sahut Gazan sambil meneguk kembali tehnya yang telah diisi kembali.
“Terimakasih atas kebaikanmu padaku selama ini. Aku tahu kalau kau sebenarnya adalah orang baik.”
“Baik? Kau tidak bisa menilai kebaikan seseorang hanya karena menjalani hidup beberapa saat dengannya. Tidak ada yang buruk selama kau bisa melihat segala hal dari dua sudut pandang yang bertolak belakang.”
“Aku seringkali bingung karena setiap kali berbicara denganmu seperti berhadapan dengan orang yang sangat tua.” Gina menatap Gazan sambil tersenyum lebar.
“Tunggu!” Gazan meletakkan gelasnya dan mendekatkan wajahnya kepada Gina sehingga membuat tatapan keduanya bertemu.
“Apa yang mau kau lakukan?” Gina merasa canggung karena tidak biasa Gazan melakukan hal itu.
Perlahan tangan Gazan mendekat kepada wajah Gina pada saat keduanya tidak mengedipkan mata.
“Apakah kau begitu lapar sampai tidak menyadarinya.” Gazan tanpa ragu langsung menyeka bumbu masakan yang tersisa menempel pada dagu Gina dengan menggunakan sebuah sapu tangan.
Gina tidak dapat bergerak mematung karena Gazan melakukannya dengan sangat lembut. Bahkan mungkin terlalu teliti sampai membuat prosesnya lebih sedikit lebih lama.
“Oke sudah selesai. Silahkan lanjutkan tapi pelan - pelan saja karena makanan itu tidak akan pergi kemana - mana,” kata Gazan.
“Hah…iya.” Gina tidak tahu harus berbuat apa - apa. Tapi caranya makan berubah seperti yang dikatakan oleh Gazan. Untuk pertama kalinya Gina mau mengikuti perkataan dari seorang pria dan itu adalah Gazan.
Setelah Gina selesai makan, Gazan mengantarkan wanita itu ke kamarnya untuk beristirahat. Saat Gina masuk ke dalam kamar, tiba - tiba ia langsung keluar dengan wajah cemas.
“Ada apa?” Tanya Gazan dengan suara tenang.
“Aku tidak melihat keberadaan Zuka sedari tadi. Aku baru ingat tujuan keluar tadi awalnya karena ingin mencarinya. Tapi teralihkan begitu melihat banyak makanan disana.”
Mendengar perkataan itu Gazan menanggapinya dengan begitu santai karena beranggapan pastilah Zuka sedang berkeliling untuk mencari informasi.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya karena ia sekarang pasti sedang berkeliling mencari udara segar. Kau tahu bukan di dalam kamar udaranya tidak begitu sejuk. Aku akan mencarikannya agar kau tidak cemas.”
“Oh mungkin saja.” Gina yang lega mendengarkan perkataan Gazan langsung kembali ke dalam kamar.
Demikianlah Gazan pergi meninggalkan kamar para wanita dan berkeliling beberapa saat untuk mencari keberadaan Zuka tapi ia tidak menemukan wanita itu dimana pun. Setelah itu ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena tidak mau mengganggu Gina untuk memastikan Zuka sudah kembali atau tidak.
“Semoga saja ia tidak mengalami masalah yang berarti dengan mencari masalah dengan mereka.” Yang Gazan maksud adalah penyelenggara permainan tersebut.
Gazan terkejut ketika ia hampir sampai di kamarnya begitu melihat Zuka keluar dari sana. Penampilannya sangat mencurigakan.
“Zuka, apa yang kau lakukan di dalam kamarku? Lalu mengapa kau tampak sangat kelelahan?” Tanya Gazan.
“Tidak apa - apa tuan. Aku hanya berdiskusi dengan Andris perkara strategi yang akan dilakukan pada permainan berikutnya,” jawab Zuka.
“Strategi apa yang kau maksud?! Bukankah permainannya belum diberitahu sampai sehari sebelum keberangkatan,” sanggah Gazan dengan tegas.
“Tapi memang ada hal lain yang bersangkutan tanpa mengetahui jenis permainannya,” dalih Zuka yang semakin kebingungan menjawab pertanyaan tersebut.
“Sudahlah! Cepat kembali ke kamarmu karena Gina cemas karena kau tidak ada disana. Aku tidak mau ia tidak bisa tidur karena cemas memikir dirimu. Kau tahu apa yang terjadi kalau ia kurang tidur bukan?”
“Maafkan aku tuan. Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi,” Zuka menundukkan kepalanya.
Setelah itu masuklah Gazan kedalam kamarnya dan bertambah terkejut melihat kamar yang sangat berantakan. Ditambah lagi keadaan Andris yang sangat tidak biasa. Dia terlentang di lantai basah oleh keringat.
“Apa yang terjadi padamu teman?” Gazan mengangkat Andris ke atas tempat tidurnya menggunakan selimut agar tidak terkena keringat yang sangat lengket.
“Mengapa kau meninggalkanku Gazan? Aku mengira tadi kau yang mengetuk pintu.” Andris berkata dengan suara yang sangat pelan. Ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah - engah.
“Minumlah!” Gazan berinisiatif memberikan segelas air dingin kepada Andris agar ia menjadi lebih tenang.
“Katakan padaku apa yang telah terjadi padamu?” Tanya Gazan sambil meletakkan gelas tadi.
“Wanita itu…!”
“Apakah yang dimaksud adalah Zuka?” Sela Gazan penasaran.
“Iya…, ia telah memperdayaiku saat kau pergi tadi dan membuatku menjadi seperti ini.” Andris menutup matanya kemudian terlelap karena kelelahan.
Gazan pun akhirnya mengerti apa yang telah terjadi antara Andris dan Zuka ketika ia sedang bersama dengan Gina disana. Tapi ia menyimpannya di dalam hati dan berusaha memaklumi Zuka yang memiliki kebutuhan khusus sebagai seorang wanita yang sudah dewasa.
Walau ia sudah bereinkarnasi berkali - kali tapi hal itu tidak pernah hilang dari dirinya. Zuka memang seorang yang memiliki kebutuhan yang jauh lebih besar dalam hal tersebut dibanding wanita pada umumnya.
Gazan merasa bersalah tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut akibat dirinya yang tidak memiliki kemampuan untuk merasakan apapun sebagai seorang manusia. Oleh karena itu Gazan membiarkan Zuka melakukan pemenuhan akan kebutuhan itu dari pria manapun.
“Aku bingung entah sudah berapa banyak jumlah anak yang dilahirkan olehnya sampai saat ini.”