“Tok…tok…tok!”
Tidak seperti biasanya ada orang yang mengetuk pintu kamar Zuka pada pagi hari saat semua orang masih tertidur. Dilihat dari jendela kamarnya matahari pun masih belum terbit dan embun masih menempel di ventilasi.
“Tok…tok…tok!”
“Jangan - jangan!” Zuka baru sadar kalau itu mungkin saja Gazan yang datang karena ada keperluan.
Maka bergegaslah ia bangkit dari tempat tidurnya tanpa memperhatikan keadaannya yang belum berpakaian lengkap. Saat dilihat dari lubang pintu ternyata yang datang bukan orang yang dipikirkannya melainkan seorang pelayan pria muda berambut panjang. Zuka melihat penampilan pelayan itu yang tanpa terasa telah membangkitkan sisi kewanitaannya. Semakin kebawah ia dapat memprediksi apa yang dimiliki oleh orang itu lebih dari yang diharapkan.
“Lebih besar daripada milik pria itu.” Orang yang dimaksud orang Zuka adalah Andris yang telah dipaksanya memenuhi kebutuhannya tadi malam.
Setelah membuka pintu tanpa basa - basi Zuka langsung menarik pria itu masuk ke dalam kamar dan melucuti apa yang dikenakannya. Pria yang terkejut akibat perlakuan Zuka tersebut melihat isyarat untuk tidak bersuara setelah melihat ada orang lain di dalam kamar tersebut. Tangannya langsung bergetar begitu Zuka memaksanya untuk naik ke atas kasur yang posisinya berada ditengah wanita lainnya.
Namun walau begitu pria tersebut berusaha untuk menolak permintaan Zuka yang nafasnya sudah terengah - engah. Demikianlah mereka melakukan pemanasan sampai peluh membasahi tempat tidur yang sebelumnya tersusun rapi.
Beberapa saat kemudian cahaya matahari masuk melalui jendela kecil yang menerangi kulit Zuka yang berada di atas sedang mendominasi pria tersebut. Saat keduanya sedang terhanyut dalam suasana itu, Zuka berbisik halus pada telinga pelayan tersebut dengan nafas yang putus - putus.
“Mmhhh…dimana kau selama ini?”
Seorang pria yang berada dibawah pengaruh kepuasan yang tiada tara itu pun tidak bisa berpikir dengan baik. Dalam keadaan itu yang terucap dari mulutnya hanyalah kejujuran tanpa kepalsuan tanda ia sudah melayang dalam mimpi indah.
Akhirnya ia pun memberitahukan dimana tempat para pelayan itu bersembunyi selama ini tanpa kurang sesuatu apapun. Zuka tersenyum karena gembira telah mendapatkan dua hal penting saat memulai hari itu. Pria yang sudah terhanyut dalam surga dunia itu pun menggunakan tangannya untuk melukiskan keindahan pada kanvas putih polos dan sedikit lembab dihadapannya. Eegh…!” Zuka sudah tidak bisa menahan diri lagi karena mendapatkan respon berlebihan dari pria yang saat ini ada dibawahnya.
“Srrkk…!” Terdengar seseorang bangkit dari tempat tidurnya karena hari memang sudah pagi.
Orang itu ternyata Gina yang langsung berdiri tanpa menyadari apa yang sedang terjadi tepat di sebelahnya karena masih ada sisa kantuk. Setelah kembali dari kamar mandi dan mencuci muka penglihatan Gina pun semakin jelas sehingga melihat sesuatu yang mengejutkan dihadapannya.
“Apa yang kalian lakukan?” Seru Gina dengan suara yang tertahan.
Teriakan itu pun kemudian membangunkan kedua orang yang tadi masih tertidur. Keduanya pun bangun dan melihat apa yang telah terjadi. Sisi melihat hal tersebut seperti tidak terjadi apa - apa. Demikian juga Miria yang menghela nafas karena sempat terkejut oleh teriakan Gina. Keduanya melirik kepada Gina yang sepertinya belum pernah memiliki pengalaman tersebut. Bagi kedua wanita itu apa yang dilakukan oleh Zuka bukanlah hal paling gila yang pernah dilihatnya.
Zuka bangkit dan membalikkan badannya kemudian tersenyum melihat Gina yang berdiri tanpa kata - kata.
“Apakah aku telah membuatmu terbangun?” Tanya Zuka.
“Bukan itu! Tapi mengapa kau melakukan hal ini seperti tidak terjadi apa - apa?” Gina tidak percaya dengan tindakan yang dilakukan seseorang yang umurnya sebaya dengannya.
“Memang masalahnya dimana? Bukankah kita sudah sama - sama dewasa. Lagipula semua orang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi bukan? Kalau kau mau aku rela bergantian sekarang.”
“Tidak terima kasih. Aku adalah wanita terhormat yang tidak mau melakukan hal dengan pria yang tidak aku cintai,” seru Gina dengan wajah kesal.
“Oh ternyata masih ada orang naif sepertimu pada zaman yang sudah rusak ini. Bahkan setelah melihat gambaran kerusakan zaman ini dari petualangan selama ini kau masih mempertahankan pemikiran bodoh itu. Lucu sekali wanita ini. Bagaimana dengan kalian?” Zuka melirik kepada Miria dan Sisi yang berada di sebelah tempat pembaringannya.
“Dengan senang hati!” Keduanya menjawab bersamaan.
“Apa yang kalian pikirkan?” Gina tersentak mendekat jawaban mengejutkan dari wanita yang terlihat usianya bahkan masih di bawahnya. Selama ini ia berpikir kalau kedua orang itu adalah wanita polos yang patut dilindungi. Tapi kini semua anggapan itu sirna bersamaan dengan jawaban mereka tersebut.
“Kalian tidak perlu sungkan. Aku sudah cukup puas menikmatinya.” Zuka bangkit dari tempat tidur dengan selimut yang membungkus dirinya.
Tanpa menunggu pelayanan itu bangkit kedua wanita itu pun langsung menyergapnya dan melakukan apa yang diinginkannya tanpa ampun secara bergantian.
Gina melihat apa yang ada di hadapannya itu merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Sesuatu yang seperti sensasi yang merambat melalui persendiannya seperti hendak mendominasi dirinya.
Tiba - tiba sebuah tangan menariknya dan membawa keluar ruangan tersebut.
“Kalau kau tidak mau sebaiknya jangan berlama - lama melihatnya karena sesuatu yang sudah kau bangun selama ini akan runtuh hanya karena tontonan murah seperti itu,” kata Zuka yang kembali ke dalam kamar dan meninggalkan Gina di depan.
Gina yang tertegun mendengarkan perkataan bijak dari seorang wanita yang dianggapnya salah oleh karena apa yang Zuka lakukan tidak sejalan dengan keyakinannya selama ini.
“Ternyata apa yang aku pikirkan selama ini masih terlalu dangkal dan sempit.” Gina melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu tanpa tujuan hanya karena tidak ingin menjadi saksi atas apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.
Saat sedang menjalan tanpa arah, seseorang mendekatinya dari depan dan menundukkan kepala.
“Nona, apa ada yang bisa kami bantu?” Tanya seorang pelayan yang tampak usianya sudah tua berambut panjang berwarna putih.
“Aku mau telur goreng hari ini,” jawab Gina sambil tersenyum.
“Segera akan saya siapkan apa yang anda inginkan. Silahkan menunggu di ruangan makan.” Pelayan itu pun pergi meninggalkan Gina sambil membawa catatan kecil di tangannya.
“Setiap orang memiliki jalannya masing - masing. Aku tidak perlu menghakimi kekurangan orang lain hanya karena aku tidak melakukan apa yang mereka lakukan.”