Ketika siang hari Gazan sedang berkeliling di dalam pos tersebut seorang diri sementara Andris masih berada di kamar setelah makan. Ia berjalan terus mengikuti setiap lika - liku bangunan megah itu seperti tanpa tujuan. Padahal sebenarnya ia sedang mencari tahu informasi yang berguna untuk menentukan keputusan terbaik yang akan diambil tentang penyelenggara permainan ini.
“Ada yang bisa kami bantu tuan?” Seorang pelayan menghampiri Gazan membawakan beberapa gelas air dingin di atas sebuah baki terbuat dari kayu.
“Apakah hari ini ada dua orang pria yang berhasil melewati labirin?” Tanya Gazan sementara ia mengambil segelas air untuk menetralkan suasana.
“Kalau orang yang anda maksud adalah peserta Gog dan Megido, kemungkinannya sangat kecil bagi mereka melewati labirin itu. Tapi….” Tiba - tiba pelayan itu terdiam lalu tersenyum kepada Gazan dan menundukkan kepalanya kemudian pergi begitu saja.
Dalam sekejap pelayan itu sudah tidak kelihatan lagi dimana - mana. Padahal tempat di tempat Gazan berada saat ini adalah sebuah ruangan yang besar tanpa penghalang.
“Ternyata pengamanan di tempat ini bukan ketat untuk kebocoran informasi,” pikir Gazan.
Tempat yang tadi ramai oleh para pelayan yang lalu lalang kini menjadi sunyi seperti tempat yang tidak memiliki kehidupan sama sekali. Ditambah lagi Gazan yang memang tidak memiliki hawa kehidupan yang seperti layaknya manusia biasa.
“Ini adalah salahku. Mungkin anak muda itu sekarang telah menerima ganjaran atas kecerobohannya.” Gazan akhirnya tahu kalau selama ini pergerakan mereka di dalam labirin tersebut benar - benar telah diawasi oleh para pelayan dari tempat tersembunyi di dalam pos tersebut.
Saat Gazan sedang berdiri, seseorang mendekatinya dari belakang.
“Apa yang kau dapat Zuka?” Tanya Gazan tanpa memaling wajahnya agar tidak semakin membuat musuh curiga.
“Seperti yang kita harapkan tuan. Tapi setidaknya kita membutuh beberapa saat untuk dapat menemukan keberadaan tempat itu,” jawab Zuka dengan suara pelan.
“Baiklah seterusnya aku serahkan saja padamu. Hanya saja jangan bertindak gegabah karena aku mungkin tidak bisa langsung menolongmu seperti saat itu. Tempat ini sebelum dilengkapi oleh alat yang dapat mengaburkan aura kehidupan makhluk hidup.”
“Aku juga sudah merasakannya. Sangat sulit untuk menemukan keberadaan tuan sejak aku bangun tadi pagi. Mereka sepertinya memang sangat ahli menyamarkan keberadaan mereka begitu saja. Tapi satu hal yang pasti mereka memiliki ketahanan tubuh yang sangat kuat. Aku sudah mengujinya dengan cara lama dan yang paling lemah sekalipun dapat bertahan cukup lama dalam permainan.”
“Permainan? Permainan apa yang kau maksud Zuka?” Gazan mengingat - ingat kamus istilah yang ada di dalam kepalanya.”
“Maaf aku hanya memberikan sesuatu yang tidak bisa ditolak olehnya untuk harga suatu informasi,” Zuka berkelit.
“Terserah padamu Zuka. Aku tidak mau terjadi kesalahan oleh karena kesalahan kecil,” tegas Gazan.
“Anda bisa mengandalkan saya tuan,” sahut Zuka.
“Mengenai permainan berikutnya apa kau telah mendapatkan informasinya Zuka?”
“Anda tidak pernah khawatir karena semua sudah saya siapkan sebelum anda berangkat besok. Selain itu area yang dipakai untuk permainan tersebut kali ini sedikit berbeda.”
“Berbeda? Baiklah kalau begitu Zuka. Teruskanlah peranmu dan satu lagi peringatan tegas untukmu. Perlakukan Andris sebaik mungkin dan jangan jadikan dia sebagai penyaluran kebutuhanmu itu,” kata Gazan dengan lembut tapi tegas.
“Mengenai hal itu akhir - akhir ini saya memang agak susah mengendalikan diri tuan. Faktor yang paling berpengaruh adalah suasana panas yang seringkali membawa kita dalam pertarungan hidup dan mati.”
“Aku mengerti apa yang kau maksud Zuka, tapi tetap saja kalau Andris itu hanya seorang manusia biasa dengan ketahanan tubuh yang lemah. Apakah kau mau kalau nanti dia akan menjadi beban dalam permainan?”
“Dimengerti tuan! Berikutnya aku akan lebih berusaha untuk mengendalikan diri atau tidak dikuasai oleh hal itu,” jawab Zuka dengan wajah yang mulai basah oleh keringat mendengar perkataan Gazan tersebut.
Keesokan harinya Zuka berangkat terlebih dahulu bersama dengan Andris dan kedua wanita yang lainnya. Hari itu Andris tampak agak tertekan karena khawatir akan sifat ketiga wanita yang berjalan bersamanya itu. Zuka dapat melihat kecemasan yang terpancar dari wajah Andris.
“Hey, tenang saja karena aku tidak akan melakukan hal itu lagi kalau kau tidak menginginkannya. Begitu juga dengan kedua orang ini. Aku tidak akan membiarkan mereka melakukan hal yang terlarang padamu,” kata Zuka.
Andris yang mendengar perkataan Zuka bisa sedikit bernafas lega setidaknya dalam waktu dekat.
Saat berada di depan gerbang pandangan mereka mengarah pada kalimat yang tertulis di atasnya.
“Siapa yang dapat mengukur kedalaman hati seorang wanita.”
“Sraak!” Zuka mengeluarkan empat buat tas besar untuk masing - masing orang.
“Apa ini?” Tanya Andris.
“Ini adalah perlengkapan yang akan kita gunakan untuk permainan berikutnya.”
Demikianlah mereka melewati gerbang tersebut dan menemukan langsung berhadapan dengan jalan buntu. Gerbang yang tadi pun sudah tertutup rapat dan seperti biasa tidak akan bisa dibuka dari luar dengan cara apapun.
Saat itu tiba - tiba sesuatu berguling ke arah mereka. Andris mendekati benda tersebut dan mengangkatnya.
“Ini jam pasir!” Seru Andris dengan wajah polos.
Zuka langsung membuka tas yang diberikan oleh penyelenggara dan terkejut melihat apa yang ada di dalamnya.
“Kita tidak punya waktu lagi teman - teman! Ayo segera kenakan semua pakaian ini!” Dari dalam tas besar tersebut Zuka mengeluarkan suatu pakaian yang bentuk sangat aneh bagi yang lain.
“Jangan hanya berdiri saja! Apakah kalian tidak pernah melihat perlengkapan menyelam sebelumnya?!” Zuka berteriak dan mereka langsung melakukan apa yang dilakukan oleh pemimpin tim tersebut.
“Tes…tes…tes!” Tiba - tiba air menetes dari atas sehingga membasahi kepala Andris.
“Darimana air ini datang?”
“Disana juga!” Miria berteriak begitu melihat sesuatu yang seperti mata air terbuka dan mengalirkan air lebih banyak ke dalam ruangan tersebut.
“Kalau tidak mau mati tenggelam sebaiknya cepat kenakan semua ini!” Kata Zuka.
Akhirnya setelah mereka selesai mengenakan perlengkapan tersebut, maka penuhlah tempat itu dengan air sampai ke langit - langit.
“Kraak…!” Ujung jalan yang tadi buntu tiba - tiba terbuka dan mengantarkan mereka ke dasar air.
Ketika orang yang baru pertama kali mengalami hal itu pun langsung kelabakan karena tidak tahu cara menggunakan perlengkapan tersebut. Namun Zuka dengan cepat langsung mengajari mereka secara sederhana.
“Teman - teman!” Sisi terdiam saat Zuka sedang menerangkan cara menggunakan perlengkapan tersebut.
Andris yang melihat gerak - gerik aneh dari wanita itu pun langsung berbalik badan searah dengan pandangan sisi.
“Sebenarnya kita sedang ada dimana?!” Teriak Andris dengan mata melotot.