“Sudah jelas kalau kita ada di dalam air!” Jawab Zuka yang kesal karena harus menegaskan hal itu kepada Andris.
“Apa kau sudah gila? Memangnya di dalam air ada yang seperti itu?!” Teriak Andris dengan suara yang tertahan.
“Jangan banyak bi..ca..ra!” Zuka berbalik badan dan langsung terdiam begitu melihat apa yang dilihat oleh Andris.
Dihadapan mereka muncul seekor kura - kura raksasa yang ukurannya 10 kali lipat Krokodilus. Mereka berempat tampak seperti semut di hadapan makhluk tersebut.
Karena tidak sempat bergerak maka semuanya tiba - tiba terhisap ke dalam mulut kura - kura yang menganga.
“Apa yang harus kita lakukan Zuka?! Apakah kau mau kalau kita menjadi makanan makhluk jelek itu?!” Andris sangat ketakutan karena kekuatannya tidak mampu menandingi daya hisap makhluk tersebut.
“Tidak mungkin! Kami tidak mungkin akan mati dengan cara seperti ini. Bagaimana caraku bertanggung jawab kepada tuan Gazan?” Pikir Zuka yang benar - benar sudah tidak bisa berbuat apa - apa lagi.
“Walau aku bisa bangkit kembali. Tapi bagaimana caraku menghadapi pria itu dikehidupan yang akan datang.” Zuka dan ketiga orang itu pun akhir masuk ke dalam mulut kura - kura tersebut.
Di dalam perut mulut kura - kura hanya ada kegelapan saja. Tapi mereka masih dikelilingi oleh air seperti sebelumnya.
“Tunggu sebentar!”
“Klik!”
Meraba punggungnya dan menekan sesuatu. Maka muncullah cahaya diatas kepalanya yang merupakan bagian dari fungsi baju menyelam yang mereka gunakan.
“Untung saja aku sempat mempelajarinya saat mengenakan baju ini tadi,” kata Zuka.
Ketiga orang lainnya pun melakukan hal yang sama sehingga setiap mereka sudah memiliki penerangan masing - masing.
“Wah bagaimana mungkin kita masih hidup setelah masuk ke dalam perut makhluk itu? Bukankah seharusnya kita sudah dicerna olehnya?” Kata Sisi.
“Jangan berkata seolah - olah hal itu sederhana bodoh!” Bentak Miria dengan mata yang melihat sekelilingnya.
“Lah memangnya apa yang aku bilang saja?” Sanggah Sisi yang dengan nada kesal.
“Hei kalian jangan bertengkar disaat seperti ini! Menurutku ini sudah merupakan bagian dari permainan ini. Yang bisa kita lakukan adalah melanjutkannya saja. Sepertinya aku merasakan tekanan air yang tidak biasa ke arah sana. Ikuti aku!”
“Kau yakin Zuka? Jangan - jangan disana kita akan dicerna olehnya.” Andris menggerutu karena trauma akan kejadian belakangan ini selalu diakibatkan oleh keputusan Zuka yang didasarkan pada rasa ingin tahu yang besar.
“Kalau begitu yang tidak mau ikut tinggal saja di tempat ini!” Kata Zuka sambil bergerak ke arah yang ia tunjuk sebelumnya.
Sisi dan Miria awalnya saling tatap kemudian langsung bergerak mengikut Zuka yang sudah pergi terlebih dahulu.
“Jaga dirimu,” kata Miria kepada Andris yang masih enggan beranjak dari tempatnya.
“Setidaknya akan lebih aman kalau berada dekat dengannya daripada tidak melakukan apa - apa di tempat ini,” tambah Sisi sambil tersenyum.
“Dasar kalian ini! Tunggu! Jangan tinggalkan aku disini!” Andris pun akhirnya memberanikan diri untuk pergi mengikut ketiga wanita nekat tersebut.
Setelah tiba ditempat yang mereka tuju, ternyata ada ruangan lain dengan volume yang lebih kecil. Bisa dibilang tempat itu lebih mirip seperti kamar karena dilihatnya dari langit - langitnya yang serupa dengan bangunan yang diperuntukkan bagi manusia dipermukaan.
Mereka pun akhirnya dapat menginjakkan kakinya untuk berjalan seperti biasa dengan dibantu oleh alat - alat tersebut. Zuka berjalan paling depan untuk memastikan keamanan jalurnya yang akan dilewati.
“Disini terlalu sunyi. Aku tidak bisa merasakan apapun,” kata Zuka sambil menggelengkan kepalanya.
“Bukankah itu baik karena tidak ada yang akan mengganggu?” Celetuk Andris yang sedang berjaga - jaga dengan lutut yang gemetar.
“Kau salah! Ini bahkan lebih buruk dari yang biasanya. Walau tidak ada musuh tapi bagaimana mungkin aku tidak bisa merasakan hawa kehidupan sama sekali saat berada di dalam makhluk hidup sebesar ini. Bukankah itu hal terlalu aneh?” Sahut Zuka.
“Hah! Kau benar! Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Andris menjadi semakin paranoid dan mendekatkan diri kepada yang lain.
“Oleh karena itu jangan melakukan gerakan yang sembarangan. Untuk saat ini sebaiknya kita bergerak mengikuti arah tekanan air saja,” jawab Zuka sambil berpegang pada belatinya.
Perjalanan pun dilanjutkan beberapa jam hingga akhirnya mereka menemukan tangga yang terbuat dari tulang manusia yang tersusun.
“Sekarang aku yakin kalau tempat ini dibuat oleh manusia. Tidak mungkin ada makhluk yang bisa menciptakan konstruksi seperti ini selain kita manusia. Tapi aku ragu kalau tangga ini kuat untuk dinaiki,” kata Andris.
“Apa maksudmu?”
“Hei!” Andris terkejut tanpa dia sadari hanya dirinya yang masih berada dibawah sementara yang lain sudah menaiki tangga tersebut.
Sekian lama menaiki tangga tersebut, tibalah mereka di suatu tempat yang lantainya terbuat dari tulang belulang makhluk hidup yang berhamparan sejauh mata memandang.
“Perhatikan langkah kalian teman - teman! Disini bukan hanya ada kita saja.” Zuka mengeluarkan belati dari sarungnya.
“Krak…krak…krak!” Mulai terdengar beberapa langkah lain mendekati mereka dari segala arah.
Tulang belulang yang tadi tergeletak pun mulai mengambang setelah diinjak oleh mereka dan makhluk - makhluk tersebut.
“Aaa…!” Andris berteriak begitu sebuah tengkorak kepada manusia menabrak kepalanya dari belakang.
“Tutup mulutmu!” Bentak Zuka yang ikut terkejut karena teriakan Andris tersebut.
“Krak…krak…krak…krak! Suara seperti sesuatu sedang bergerak dengan cepat dari arah belakang.
“Hei Zuka! Apakah kau mendengarnya?!” Andris semakin ketakutan karena dia tidak bisa bergerak dengan leluasa di dalam air menggunakan pakaian tersebut.
“Kalian berdua berjaga - jaga sementara aku bertarung,” perintah Zuka kepada Miria dan Sisi.
“Baiklah!” Miria dan Sisi pun mengambil posisi.
Dari kegelapan tampaklah sosok makhluk seperti kuda laut namun memiliki tanduk berjumlah 2 di atas telinga.
“Mereka sepertinya tidak kekurangan ide menciptakan makhluk aneh seperti ini. Tapi kali ini bukankah mereka sudah bertindak terlalu jauh dengan menentang hukum alam.”
Makhluk itu menyerang mereka dengan menggunakan senjata yang terbuat dari tulang belakang manusia.
“Drakk!” Kedua senjata mereka pun berbenturan sehingga menghasilkan gelombang air disekitarnya.
“Kau lumayan juga untuk seukuran kuda laut. Tapi kau tidak sekuat yang sebelumnya.”
“Duk!” Zuka menendang makhluk tersebut untuk menjaga jarak dari yang lain.