Sementara Zuka sedang bertarung dengan makhluk itu, makhluk lainnya juga turut menyerang dari segala arah. Miria dan Sisi menahan setiap serangan dari mereka agar tidak semakin mendekat.
“Aku harus memikirkan sesuatu agar tidak menjadi beban bagi mereka,” pikir Andris.
Penerangan yang mereka miliki tidak bisa menembus kegelapan lebih dari sepuluh langkah ke depan. Sementara makhluk itu terus berdatang setelah yang maju terlebih dahulu berhasil dikalahkan.
“Yang menjadi masalah bukanlah kekuatannya melainkan jumlah mereka tidak habis - habis dari tadi,” seru Sisi.
“Aku merasakan kehadiran yang kuat daripada makhluk - makhluk ini tapi sepertinya ia bersembunyi di dalam kegelapan,” kata Zuka setelah menumbangkan seekor makhluk lainnya.
“Gunakan ini!” Andris memberikan sebuah tongkat kecil dari dalam tasnya.
“Kerja bagus!” Sisi menerima tongkat tersebut dan membengkokkannya sehingga mengeluarkan cahaya berwarna hijau.
Dengan kemampuannya ia langsung melemparkan tongkat tersebut cukup jauh untuk memperluas jarak panjang dengan memanfaatkan cahaya dari benda tersebut. Dan apa yang terlihat diluar perkiraan mereka.
“Ternyata kaulah yang mengendalikan mereka,” kata Zuka.
“Apakah selalu begitu caramu merespon bahaya?” Tanya Andris.
Mereka melihat Gurita raksasa dengan 8 tentakel yang menyebar hampir memenuhi setengah dari tempat itu.
“Bukankah saat ini kita lebih tepat dikatakan sudah terperangkap?” Miria menghela nafas panjang dengan tangan yang tiba - tiba lemas setelah menyaksikan musuh mereka yang sebenarnya.
“Kau terlalu berlebihan. Apakah kau tahu mengapa dia tidak menyerang kita dari tadi?” tanya Zuka dengan wajah tersenyum.
“Apa maksudmu Zuka? Aku tidak mengerti,” sanggah Andris yang terkesan kesal dengan reaksi Zuka yang biasa saja.
“Aku mengerti!” Potong Sisi.
“Jelaskan padaku teman - teman!” Andris memaksa.
“Karena ukurannya yang terlalu besar sehingga itu mengalami kesulitan untuk bergerak. Ditambah lagi jumlah kakinya yang saling melekat pasti membuat dirinya sangat susah untuk sekedar berpindah tempat,” jelas Sisi.
“Tapi apakah kalian tidak melihat jumlah anak buahnya yang begitu banyak? Bagaimana cara kita mendekatinya?” Tanya Andris.
“Kau benar. Tapi aku mau mencoba satu cara yang mungkin saja akan berhasil. Oleh karena itu aku membutuhkan bantuan kalian untuk mengalihkan perhatian para kuda laut.”
“Zuka, apa hanya aku yang merasakan kalau gurita itu sedang menatap kita saat ini,” tanya Andris.
“Hah! Sudah jelas dia menatap kita karena siapa yang suka kalau sarangnya dimasuki oleh orang lain.”
Sesuai dengan instruksi Zuka, kedua wanita yang ikut bersamanya itu berlari ke arah yang berbeda sehingga para kuda laut pun terpencar kedua arah yang berbeda. Saat semua kuda laut itu sudah disibukkan oleh yang yang lain, Andris pun berlari menjauh sambil membawa sebuah tongkat bercahaya untuk memancing sisanya.
Namun semua yang mengejar Andris langsung dibasmi oleh Zuka satu persatu sampai habis. Saat kuda laut yang menyerang Andris sudah berkurang drastis jumlahnya, maka Andris melakukan gerakan yang lebih ekstrim untuk memancing perhatian Gurita tersebut.
“Kena kau!” Kata Zuka dalam hatinya.
Wanita itu berlari dengan membawa tombak dari Gazan di tangan yang satunya sementara tangan lain memegang belati. Ia berlari dengan cepat mendekati gurita tersebut bermaksud untuk menyerangnya.
“Strategi kalian terlalu membosankan!”
“Hah!” Zuka terkejut mendengar gurita itu tiba - tiba berbicara.
“Wuss…!” Mendadak tekanan air yang cukup kuat menghantam Zuka dari arah depan.
“Apakah kau sekarang sudah belajar sesuatu?” Gurita itu seperti tersenyum dengan tatapan sinis kepada Zuka.
Akibat terkena serangan tak terduga dari makhluk itu membuat Zuka terpental jauh hingga keluar dari jangkauan serang. Selain itu juga membuat Zuka kesulitan untuk menjangkau Andris yang berusaha mengalihkan perhatian. Saat ia sedang terseret oleh hembusan angin itu, Zuka menggunakan belatinya untuk berhenti tapi masuk belum cukup akibat tekanan udara yang bukan main kuatnya. Oleh karena itu ia menambahkan dengan menggunakan tombak dari Gazan.
“Gurita kurang ajar! Aku berjanji akan membuatmu menjadi gurita panggang nanti.”
Saat Zuka masih jauh, ketiga orang itu pun menjadi semakin terdesak karena strategi mereka digagalkan begitu saja.
“Miria, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Sisi sudah tidak bisa lagi menjaga jarak aman dari serangan para kuda laut tersebut. Perlahan senjata mereka hampir mencapai dirinya yang tidak menggunakan pelindung apapun.
“Aku tidak tahu! Tapi untuk saat ini kita hanya bisa bertahan untuk memberikan waktu pada wanita itu kembali,” jawab Miria yang juga sedang kesulitan tapi setidaknya ia memiliki kekuatan lebih dari Sisi.
“Awas!” Tiba - tiba Andris datang dan berdiri dihadapan Sisi lalu memeluknya dengan erat.
“Apa?!” Sisi yang terkejut tidak tahu harus berbuat apa.
“Hampir saja.” Mulut Andris tiba - tiba mengeluarkan darah segar yang menyembur membasahi wajar Sisi.
“Sisi pergi dari sana!” Miria berteriak keras begitu melihat tubuh Andris sudah tembus oleh tombak yang dilemparkan oleh kuda laut dari jarak jauh.
Dalam keadaan yang serba tanpa menentu Sisi mencoba untuk melepaskan pelukan Andris yang hampir tidak sadarkan diri. Ternyata tombak itu hampir mengenai dirinya namun tertahan oleh tas dan tubuh Andris.
“Mengapa kau melakukan ini untukku?” Mata Sisi perlahan membesar karena tidak terima akan perlakuan pria yang baru saja dikenalnya itu.
“Bukankah sudah menjadi tugas seorang pria untuk melindungi wanita?” Suara Andris tertahan oleh darah yang terus mengalir tanpa henti.
Sisi yang telah dikhianati oleh pria yang sangat dipercaya merasa terguncang karena kali ini ia benar - benar diperlakukan layaknya seorang wanita lemah oleh Andris.
“Padahal selama ini aku hanya menganggapmu sebagai alat untuk memuaskan diri saja. Tapi mengapa kau membalasku dengan cara seperti ini. Aku tidak terima dengan perlakuanmu. Bagaimana caraku membalasnya?!” Kata Sisi dengan emosional.
“Sudah tugas seorang pria dari lahir untuk memaafkan kesalahan wanita. Apakah kau tidak mengetahui kalimat suci itu?” Andris mengatakannya seraya matanya yang tertutup dan kehilangan kesadaran karena kekurangan darah.
“Apa yang kau lakukan Sisi?! Cepat bawa pria itu ke dalam kegelapan dan padamkan cahaya itu agar musuh tidak bisa mengetahui keberadaanmu.” Miria melemparkan sebuah tengkorak manusia untuk mengalihkan perhatian agar Sisi dapat meloloskan diri.
Tanpa mencabut tombak yang menembus tubuh Andris wanita itu langsung melakukan apa yang diminta oleh Miria.