“Bertahanlah! Aku tidak terima kalau kau harus mati untuk orang seperti diriku yang tak berguna ini!” Sisi berteriak kepada Andris tapi semua itu percuma karena pria itu sudah tidak bisa mendengarkannya lagi.
“Hei! Bangunlah! Jangan biarkan perlakukan aku seperti ini!” Sisi mengguncang tubuh Andris yang sudah berlumuran darah.
Sisi tidak tahu harus berbuat apa lagi karena ia tidak melihat tanda - tanda pergerakan dari orang yang sudah terbaring di hadapannya.
“Apa yang akan aku katakan kepada wanita itu kalau ia tahu temannya telah mati karena melindungi aku.” Walau Sisi sangat ketakutan akan apa yang mungkin bisa dilakukan oleh Zuka, tapi hal itu tidak seberapa dengan rasa bersalahnya karena telah memperlakukan Andris dengan cara yang salah selama ini.
Di dalam kegelapan musuh benar - benar tidak menyerang mereka lagi karena jaraknya yang cukup jauh membuat bau mereka tidak mudah tercium. Terlebih mereka saat ini berada di dalam air.
Dari kejauhan Zuka terlihat kembali setelah menerima serangan dari gurita besar tersebut. Dengan susah payah ia melangkahkan kakinya di dalam air yang diguncang oleh gelombang dan banyak tulang belulang yang menghalangi langkahnya.
Ia mengambil beberapa tulang kaki dan melemparkannya kepada gurita tersebut sebagai bentuk serangan balik tapi langsung ditampik oleh para kuda laut yang ada disekelilingnya.
“Sampai kapan mereka habis? Padahal sepertinya kami telah mengalahkan banyak dari antara mereka tapi semua terlihat sia - sia. Aku harus mencari cara untuk mengalahkan yang satu itu.” Zuka menatap kepada Gurita.
Zuka melihat sekeliling dan merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat Sisi dan Andris di tempat mereka berada sebelumnya.
“Hey Miria, apa yang telah terjadi? Dimana mereka?” Zuka berseru.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengar.”
Setelah mengulanginya beberapa kali barulah Miria mengerti apa yang ditanyakan oleh Zuka tapi ia malah tidak menjawabnya.
“Mengapa ia tidak menjawab pertanyaanku?” Pikir Zuka.
“Apakah telah terjadi sesuatu pada mereka?” Zuka mengetahui kalau mereka ada yang terlemah.
Ia pun pergi kesana kemari untuk mencari mereka berdua tapi tidak dapat menemukan satupun diantaranya. Kepanikan mulai memenuhi pikirannya karena kesalahannya dalam menyusun strategi membuat temannya kehilangan nyawa.
“Aku tidak akan memaafkanmu gurita b******n!” Zuka sangat marah dan berlari sekuat tenaga sambil menghardik semua yang menghalangi langkahnya.
Seberapa banyak pun kuda laut yang menyerang hal itu tidak berpengaruh pada Zuka. Bahkan lebih dari 2 kuda laut yang menyerang langsung dihempaskan dengan menggunakan satu pukulan telak.
“Astaga aku baru tahu kalau dia sekuat itu!” Miria terkejut melihat kekuatan Zuka yang melebihi perkiraannya.
“Drak…drak…drak…drak!” Tidak satupun yang dibiarkan berdiri oleh Zuka yang sedang marah besar.
“Kalian semua memang seharusnya diperlakukan layaknya sampah!” Zuka menghancurkan seekor kuda laut sampai berkeping - keping dan sampai potongan tubuh makhluk terurai di air.
Saat ada yang menyerangnya dari belakang langsung di hujamkan dengan tombak pendek tersebut hingga hangus tanpa bekas.
“Apa yang terjadi barusan?! Sepertinya senjata itu bukan senjata biasa. Apakah mungkin hal itu benar - benar ada?” Gurita itu terkejut melihat kuda laut yang hangus setelah tertikam oleh tombak yang dipegang oleh Zuka. Ia memikirkan kemungkinan terburuk apabila terkena serangan senjata tersebut.
Tiba - tiba jumlah kuda laut yang menyerang Zuka bertambah banyak 2 kali lipat sebelumnya. Gurita itu tidak menyayangkan jumlah anak buahnya mati akibat terkena serangan Zuka.
Apapun yang dilakukan oleh Gurita itu tidak mengurangi atau memperlambat langkah Zuka yang terus mendekatinya. Bahkan yang tadi menyerang Miria pun ikut menyerang Zuka tanpa ampun.
“Mungkin dia sendiri pun sudah cukup untuk mengalahkan makhluk itu,” kata Miria dalam hati.
Walau begitu Miria belum berniat untuk memberitahukan apa yang terjadi pada Andris kepadanya karena takut amarah Zuka malah akan berimbas kepadanya.
Air yang tadi hanya dipenuhi oleh tulang belukang kini sudah diganti oleh potongan - potongan kuda laut yang mati akibat terkena pukulan Zuka.
“Bagaimana mungkin manusia biasa memiliki kekuatan sebesar itu?” Gurita mulai merasakan sesuatu bergetar di dalam hatinya. Tentakelnya yang tadi mengambang dengan lembut kini mulai menciut.
“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin berhadapan dengan manusia seperti itu. Terlebih dia hanya seorang manusia.” Gurita melihat kalau jumlah kuda laut yang berada disekitarnya sudah berkurang drastis. Hanya menunggu sampai semuanya dihabisi oleh Zuka saat ia sudah semakin dekat.
“Kau tidak akan aku lepaskan gurita b******n!” Zuka mencabit seekor kuda laut yang menyerangnya.
“Apa?!” Gurita pun kita memikirkan cara agar Zuka tidak mendekat lebih lagi.
“Baiklah manusia, aku memiliki penawaran kepadamu. Bagaimana kalau kau menjadi pengganti sampah yang tidak berguna ini untuk menjadi pelayanku. Aku berjanji akan mengampuni nyawamu dan orang - orang ini. Bukankah itu penawaran yang baik?” Gurita mencoba peruntungannya.
Langkah kaki Zuka tiba - tiba terhenti begitu mendengar penasaran makhluk itu.
“Hei kau tidak akan menerima penawarannya bukan? Dia pasti berniat untuk menjebak kita saja!” Miria berusaha menyadarkan Zuka yang belum menanggapi penasaran gurita itu.
“Dasar manusia! Kalian tidak ada bedanya dengan para kuda laut yang tidak berguna itu. Begitu mendapatkan penawaran yang menggiurkan, maka sifat asli kalian langsung muncul secara otomatis,” kata Gurita dalam hatinya.
“Aku Otopias berjanji akan tidak akan membunuh kalian apabila mau menjadi pelayanku,” suara Gurita itu bergema di dalam air sehingga menciptakan gelombang.
“Menjadi pelayanmu? Aku menjadi pelayanmu?” Seru Zuka dengan nada tertahan.
“Ya bukankah itu sangat baik apabila kalian melayaniku?” Gurita itu tersenyum sinis.
“Aku tidak akan melayani siapapun selain orang itu! Berani - beraninya makhluk hina sepertimu memberikan penawaran kepadaku. Beraninya kau menganggap dirimu setara dengannya. Beraninya kau menganggap dirimu sepadan denganku! Dengarlah sampah dunia! Bahkan kau tidak layak untuk menjadi kotoran yang menempel di kakiku. Kau hanya pantas menjadi makanan ikan - ikan kecil di laut.”
“Apa?!” Gurita yang tadi tenang kini berubah menjadi sangat marah karena telah sangat direndahkan oleh Zuka tanpa ragu.
“Ya benar sekali! Kau hanya kotoran yang tercipta dari sisa - sisa pembuangan binatang laut,” seru Zuka dengan tatapan penuh kebencian.
“Aku sudah tidak peduli lagi pada apapun. Kau akan kubuat menderita bersama dengan semua manusia hina itu,” balas Gurita tersebut.