Bertarung Dalam Buta

1039 Kata
Tubuh Oktopias sang gurita mengembang dari sampai ke ujung - ujung tentakelnya. Hal itu membuat Zuka menjadi waspada karena ia dapat merasakan bahaya yang akan datang. Suatu impresi yang memberikan petunjuk untuk menyelamatkan diri secepat mungkin. Bahkan walau sudah dalam keadaan marah sekalipun Zuka langsung dapat menguasai dirinya apabila perasaan seperti ini yang muncul. “Miria, cepat menyingkir dari dekat makhluk itu! Kita harus menjaga jarak sejauh mungkin,” seru Zuka. “Memangnya apa yang akan terjadi?!” Tanya Miria. “Jangan banyak bicara! Kalau kau masih mau hidup cepat menyingkir. Aku ragu bisa menahannya kalau apa yang aku khawatirkan benar - benar terjadi.” Miria mengikuti apa yang perintahkan oleh Zuka walau tidak memahami apa yang sedang terjadi. Baginya Zuka tidak mungkin salah dalam menetapkan keputusan walau dalam keadaan genting sekalipun. “Kalian sudah terlambat dasar bodoh! Kalian kira bisa pergi begitu saja dari tempat ini,” kata Oktopias. Saat ukuran tubuhnya semakin membesar, tiba - tiba dari setiap tentakelnya terbuka suatu lubang. Dari dalam lubang tersebut keluarlah cairan berwarna hitam pekat dan larut dalam air di sekelilingnya. Cairan itu terus mengalir sehingga tempat yang tadi dapat diterangi oleh lampu menjadi benar - benar gelap oleh karena cairan hitam tersebut. Walau begitu Oktopias memiliki kemampuan yang mampu merasakan keberadaan musuh dari pergerakan air. Ditambah lagi jumlah tentakelnya yang dapat menyebar ke segala arah membuat ia semakin peka akan sekitar. Bagi Zuka dan yang lainnya bertarung di dalam air saja sudah merupakan hal yang menyusahkan, ditambah lagi mereka tidak bisa melihat apa - apa akibat tinta dari gurita tersebut. Walau begitu Zuka juga bukan manusia biasa yang akan pasrah saja sehingga mudah dikalahkan. Dengan kemampuan adaptasinya yang sudah terasah selama ratusan tahun membuat inderanya sangat tajam. Kalau hanya mengelak dari serangan bukanlah hal yang mustahil baginya. Tapi yang menjadi masalah saat ini ia juga harus melindungi orang lain. “Aku tidak bisa melihat apa - apa!” Keluh Miria yang menyibakkan air didepannya saat ia sedang berlari. “Kuatkan dirimu dan jadikan tenang. Kesempatan akan datang bagi orang yang siap akan segala kemungkinan. Musuh seorang manusia yang sebenarnya tidak dapat dari luar dirinya,” kata Zuka sambil terengah - engah saat meraba - raba jalan yang benar untuk dilewati. Mereka berhenti ketika mentok pada dinding yang terbuat dari batu karang. “Hati - hati dengan dindingnya karena karang selalu memiliki bagian tajam,” kata Zuka. “Kau terlambat karena aku sepertinya sudah berdarah. Ini bahaya karena aku sampai tidak bisa melihat darahku sendiri dari jalan sedekat ini.” Miria merasakan tangannya yang terluka. “Apa?!” Zuka otomatis mengambil posisi siaga karena ia mengetahui gurita itu pasti akan merasakan bau darah segar seperti itu. “Aaa…!” Terdengar teriakan Miria yang semakin menjauh seiring dengan pergerakan air yang kuat. Miria yang menyadari dirinya sudah tertangkap oleh tentakel gurita langsung mengambil sebuah pisau kecil yang tergantung di kakinya. “Tas…tas…tas!” Tentakel itu langsung tergelepar begitu Miria menusuknya sehingga meninggalkan luka. “Apa yang kau lakukan manusia bodoh?! Kau kira senjata seperti itu bisa melakukan apa.” Dalam sekejap luka tersebut langsung tertutup dan kembali seperti semula dan pisau tersebut tertahan sehingga tidak bisa dicabut. Saat hendak melakukan serangan berikutnya kepada Miria, tiba - tiba gurita itu merasakan ada pergerakan dari arah yang berlawanan. “Kau berani juga bocah!” Satu tentakel langsung terjulur ke arah darimana datang pergerakan tersebut. “Apa?!” Ternyata disana tidak terdapat siapa - siapa walau tentakel besar miliknya sudah mencari ke segala tempat. “Dak…dak…dak!” Terdengar langkah kaki yang begitu jelas dari arah depan. “Oh ternyata kau disitu!” Kata Gurita dan menggunakan dua tentakel yang mengepung dari kiri dan kanan agar targetnya tidak bisa melarikan diri seperti sebelumnya. “Tidak juga!” Kedua tentakel itu malah bertabrakan dan menempel satu sama lain. Aneh tidak ada siapapun disana. “Cepat juga pergerakanmu di dalam tintaku. Tapi bagaimana kalau begitu saja. Aku tidak akan melepaskan dirimu kali ini.” Gurita yang sudah gagal untuk kedua kalinya memutuskan untuk menggunakan semua tentakelnya mengacak - acak tempat itu untuk menemukan dimana target yang telah lolos berkali - kali tersebut. Setelah melakukan itu selama beberapa lama tidak ada apapun yang bisa didapatkan oleh tentakelnya. Untuk menggerakan semua tentakel dalam waktu bersamaan bukanlah hal mudah karena ia harus menggunakan tenaga yang besar. Ditambah lagi dia harus tetap berjaga - jaga terhadap dirinya sendiri. “Apa yang kau cari gurita bodoh!” Terdengar suara dari dekatnya saat semua tentakel sedang bergerak di tempat yang jauh. “Tidak akan kubiarkan!” Gurita yang sudah ketakutan langsung menyemburkan air dari mulutnya sehingga tercipta tekanan air di sekelilingnya untuk menjauhkan musuh. “Kau terlalu berhati - hati tapi melupakan sesuatu yang paling sederhana.” Suara Zuka terdengar di sebelah telinga gurita tersebut. “Jangan - jangan kau?!” Gurita kemudian tersadar kalau Zuka dari tadi sudah berada disekitarnya tapi bergerak dengan cara yang paling sederhana di dalam air. “Kau benar sekali! Kau pikir manusia tidak bisa berenang? Konyol sekali!” Zuka tertawa dan berenang kesana kemari dengan lincahnya. Zuka yang sudah hidup dalam puluhan kehidupan memiliki banyak keahlian termasuk berenang. Bahkan dalam beberapa kehidupan sebelumnya Zuka pernah berenang melintasi laut bersama dengan Gazan karena kapalnya karam ditengah laut. “Tapi bagaimana kau dapat bernafas begitu lama?” Tanya Aktopias yang tidak terima karena kalah dalam siasat. “Itu rahasiaku! Kalau kau mau tau silahkan lihat sendiri. Tapi sayangnya penglihatanmu pasti terhalang oleh benda hitam ini bukan?” Sindir Zuka. “Kau pasti sudah melakukan trik curang bukan?” Kata Gurita. “Curang! Kau bodoh ya? Aku tidak peduli itu curang atau tidak. Dalam pertarungan hidup dan mati aku akan melakukan apapun. Kalau perlu aku akan melakukan cara paling kotor. Memangnya kau yang telah menerima kutukan pantas untuk menghakimiku?” “Kau mengetahui kutukan itu!” Gurita terkejut mendengar apa yang diketahui oleh Zuka. “Benar sekali! Kau hanya manusia hina yang telah melampaui batas kemanusian sehingga mendapatkan kutukan dari dunia ini. Untuk itulah hari ini aku akan mengakhiri kutukan itu dengan cara menghabisimu untuk selamanya. Bersyukurlah karena kau tidak lama lagi akan terlepas.” “Jangan bercanda! Tidak ada yang bisa melepaskan kutukan dari dariku,” sanggah Otkopias. “Hahaha! Bagaimana kalau tahu cara membebaskan dirimu dari kutukan itu?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN