Trik Murahan

549 Kata
“Aku tidak tahu kalau ada cara untuk melepaskan diri dari kutukan ini. Bahkan aku sudah mencoba untuk bunuh dirimu pun selalu gagal. Kutukan ini memaksaku untuk menderita dalam keabadian dalam wujud mengerikan ini. Kau tidak akan pernah memahami penderitaan yang kualami selama ini.” “Memahamimu! Memangnya siapa yang mau memahami perasaanmu itu? Kau memang pantas mendapatkan kutukan itu lebih dari siapapun atas apa yang telah terjadi. Memangnya kau kira mendapatkan kutukan itu atas dasar kebaikan? Orang itu boleh saja sesekali menjadi jahat, tapi kalau kau tidak menyadari kejahatan yang kau lakukan maka itulah kutukan yang sebenarnya,” kata Zuka. “Diam! Aku tidak butuh nasehat dari manusia sepertimu. Sekarang katakan padaku apa yang kau tahu tentang cara menghilangkan pengaruh kutukan ini? Aku akan melakukan apapun untuk itu. Aku ingin melihat dunia luar sama seperti kalian.” “Melihat dunia luar? Jangan bermimpi terlalu tinggi bodoh! Kau hanya akan terlepas dari kutukan itu hanya jika kau mati saja. Jadi apakah kau mau menerima kematian yang membebaskan dirimu itu?” Tanya Zuka yang sedang mengambang di dekat Oktopias sambil berjaga - jaga. “Kau bercanda! Setelah penderitaan yang aku alami, sekarang mengapa aku harus mati lagi?”  “Kau tidak ada tempat untukmu di dunia ini. Kau sudah memilih tempat yang tepat untukmu ketika menerima kutukan tersebut. Kemerdekaan yang aku maksud hanya menunda siksaanmu saja. Setelah itu dikehidupan yang lain pun pasti malaikat maut untuk menunggu dengan siksaan lainnya.” “Kalau begitu aku mengurungkan niatku untuk melepaskan kutukan ini. Kau tahu sepertinya saat ini aku mulai menikmati membunuh para manusia.” “Benarkah?! Lalu mengapa kau bisa dikurung oleh manusia di dalam tempat ini. Bukankah kau seharusnya memiliki kekuatan yang besar?”  “Dikurung oleh manusia? Apa maksud perkataanmu itu? Aku tidak pernah dikurung oleh manusia.” “Hahahaha, bodoh sekali makhluk ini. Sampai - sampai ia tidak mengetahui kalau selama ini sudah diperlakukan seperti hewan peliharaan di dalam aquarium besar. Sungguh makhluk yang malang.” Lalu Zuka menjelaskan kepada Oktopias tentang permainan tersebut. “Kau pasti bohong bukan? Tidak mungkin ada manusia yang memiliki kemampuan melakukan hal tersebut?”  “Buktinya sudah jelas dengan keberadaanmu di dalam perut kura - kura raksasa ini. Walau begitu aku memang tidak mengerti bagaimana cara mereka memasukkan makhluk seukuran dirimu ke dalam tempat ini. Mungkin nanti aku akan menanyakannya.” “Dasar pembohong! Kau pasti sedang memperdaya aku bukan?” Oktopias mengambil kesempatan itu untuk menyerang Zuka yang terdengar seperti berada di hadapannya. “Oh tidak semudah itu anak muda. Walau kau makhluk kutukan, tapi pengalaman bertarung ku pasti jauh lebih banyak darimu.” “Hah, bagaimana mungkin dengan penampilanmu sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak dariku.” Oktopias berusaha mengecoh Zuka dengan mengajak berbicara untuk mengetahui dimana keberadaan musuhnya. “Karena aku sudah hidup dari yang lebih tua darimu. Apakah itu sudah cukup untuk membuktikan pada kebodohanmu akan perbedaan kemampuan kita yang begitu mendasar. Kalau sudah sebaiknya berbaringlah disana bersiap untuk menerima kematian saja.” “Kaulah yang akan mati terlebih dahulu!” Oktopias yang sudah yakin akan keberadaan Zuka langsung menyerangnya dengan menggunakan semua tentakelnya. “Krass…!” Terdengar suara hantaman yang sangat kuat. “Kau kira aku bisa ditipu dengan trik murahan seperti itu gurita bodoh! Kau terlalu cepat 100 tahun untuk berpikir dapat mengakali nenekmu ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN