“Apa?!” Oktopias terkejut begitu sudah mendengarkan suara Zuka dari arah belakang. Namun ia sudah tidak memiliki tenaga yang cukup untuk mengendalikan semua tentakelnya walau hanya satu saja.
Dengan cepat Zuka melemparkan tombaknya kepada Oktopias yang masih dalam keadaan bingung sehingga langsung menembus kepalanya.
“Kau bukan apa - apa tanpa semua tentakel itu.” Zuka pergi mengambil senjatanya yang tertancap di tanah.
Setelah itu tubuh gurita hangus sampai ke ujung - ujung kakinya. Tinta yang tadi menyebar akibat perbuatannya pun perlahan lenyap dari air seiring dengan tubuh oktopias yang sirna.
“Klang!” Dari dalam tubuh gurita itu tiba - tiba keluar sebuah benda seperti mahkota yang terbuat dari emas murni.
“Ternyata kau adalah seorang raja dari suatu negeri di zaman dulu. Pantas saja kau dikutuk menjadi makhluk yang sangat jelek. Sungguh suatu ironi seorang yang dahulu pernah berkuasa malah menjadi binatang peliharaan orang lain.”
“Grrkkk…!” Tempat itu pun langsung bergetar hebat beberapa saat setelah sang gurita mati.
Setelah Zuka mengambil benda itu ia langsung melihat sekitarnya karena tadi dia sempat melupakan keberadaan Miria yang sempat tertangkap oleh tentakel gurita.
Tiba - tiba air di dalam ruangan itu berkurang sedikit demi sedikit sampai akhirnya menjadi benar - benar kering.
“Apa yang terjadi? Tanya Miria yang berusaha bangkit saat dihampiri oleh Zuka.
“Aku tidak begitu mengerti, tapi sepertinya kura - kura ini sedang berenang di permukaan sehingga jumlah air yang ada di dalam tubuhnya keluar secara otomatis. Oya bagaimana keadaanmu?”
“Bukan aku yang seharusnya kau khawatirkan tapi dia yang ada disana.” Miria menunjuk kepada Andris yang sedang sekarat bersama dengan Sisi.
“Apa! Ternyata mereka belum mati?!” Zuka tidak tahu harus merespon bagaimana saat ini. Tapi dia pun langsung beranjak ke tempat kedua orang tersebut.
Zuka menemukan Andris sudah terluka parah dengan tulang yang menembus tubuhnya.
“Astaga kali ini kau sudah bertindak terlalu jauh. Apakah kau tidak sadar hanya dirimu saja yang manusia biasa disini. Dengan keadaan tubuhmu seperti itu bagaimana kau dapat melanjutkan permainan ini?”
Tapi sayangnya Andris yang tidak sadarkan diri tidak bisa menjawab sindiran Zuka.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?” Tanya Sisi yang sama lelahnya.
“Bahkan aku juga memiliki batasan dalam bertindak. Sepertinya kita harus merelakan dirinya karena diantara kita tidak ada yang menyembuhkan luka dan racun yang sudah masuk ke dalam tubuhnya,” kata Zuka.
“Tapi bukankah tombakmu itu memiliki kemampuan untuk menangkal kekuatan makhluk - makhluk ini?”
Perkataan Sisi langsung mengejutkan Zuka yang memang sedang memegang benda yang dimaksud. Perlahan ia pun memegang tombak itu dengan kedua tangannya dan mendekatkannya kepada tulang yang menembus tubuh Andris tersebut.
“Ssshh!” Perlahan tulang itu mengeluarkan asap seperti terbakar.
Kekuatan darah Gazan menghabiskan tulang dan semua racun yang masuk ke dalam tubuh Andris. Dan yang paling mengejutkan lubang itu pun perlahan menutup hingga kembali seperti semula.
Zuka terkejut karena seharusnya hal itu hanya berlaku bagi manusia yang memiliki kutukan saja. Namun ia menyimpan perkara itu di dalam hatinya.