“Ayo Gazan, kita harus secepatnya menyusul Zuka yang baru saja berangkat beberapa jam lalu.” Gina sangat bersemangat tidak seperti biasanya.
Sama halnya dengan kelompok Zuka yang diberikan perlengkapan khusus, mereka juga membawa tas itu tanpa mengetahui apa isinya. Ketika berada di dalam ruang tertutup melihat jam pasir yang sudah bergulir, Gazan tidak ragu - ragu untuk langsung membuka tas besar tersebut.
“Sudah kuduga akhirnya mereka mengirim kita ke tempat seperti ini. Cepat kenakan pakaian yang ada di dalam tasmu!” Perintah Gazan sudah terlebih dahulu melakukannya.
“Pakaian ini?! Aku tidak bisa berenang!” Seru Gina dengan suara lemas.
“Kau tidak perlu khawatir. Selebihnya kau bisa serahkan kepadaku. Yang penting kita harus mengenakan semua ini sebelum pasir yang ada disana habis.”
Gina pun terpaksa mengenakan pakaian tersebut dengan susah payah karena keraguan yang memenuhi pikirannya. Saat pasir sudah tinggal setengah, air perlahan memenuhi tempat tersebut yang datangnya entah dari mana.
“Gazan, apa yang terjadi?!” Seru Gina yang semakin cemas.
“Tenangkan dirimu agar kau bisa berpikir dengan jernih. Aku tidak akan meninggalkan dirimu apapun yang terjadi.”
Mendengar perkataan Gazan tersebut membuat Gina kembali menafas legah. Dengan sabar Gazan membantu Gina mengenakan pakaian khusus tersebut hingga terpasang dengan sempurna. Akhirnya sebelum air mencapai pinggang mereka sudah siap dengan perlengkapan tersebut.
“Wusss!” Mereka pun kemudian diliputi oleh air dan lantai terbuka sehingga mereka saat ini sudah berada di perairan dalam yang gelap.
“Gazan, kita berada dimana? Mengapa perasaanku menjadi tidak enak?!” Gina tidak melepaskan tangannya dari Gazan yang sedari tadi berada disebelah.
Mendengar perkataan Gina membuat Gazan berpikir bagaimana mungkin seorang manusia biasa dapat merasakan bahaya. Berarti bahaya yang datang pasti lebih dari sekedar makhluk yang pernah ia hadapi.
Tangan Gina semakin kuat menggenggam Gazan yang mengambang di sebelahnya. Tapi semakin lama Gazan merasakan pegangan itu tidak normal karena kukunya Gina terasa sepertinya menusuk tangannya.
Begitu Gazan melihat wajah Gina yang sangat ketakutan, maka ia pun langsung memfokuskan pandangannya searah dengan wanita itu. Di hadapannya tampak sebuah cahaya samar - samar dari dalam kegelapan bergerak mendekati mereka. Gazan menatap cahaya tersebut dengan tenang hingga benar - benar dekat.
“Oh ternyata kau!” Gazan melihat seekor ikan purba di hadapannya dengan ukuran yang sangat besar. Ikan itu memiliki benda seperti lampu yang menggantung di kepala nya.
Binatang besar itu menatap mereka dari kejauhan dan bermaksud memakan keduanya tapi langsung terhenti begitu melihat Gazan yang menatapnya balik.
“Apa yang mau kau lakukan ikan kecil?” Kata Gazan dengan tatapan dingin seperti biasanya.
“Jangan diam saja atau aku akan memadamkan lampu di kepalamu itu. Aku tahu kau adalah manusia yang menerima kutukan. Dari matamu sangat jelas itu adalah tatapan seorang manusia. Binatang buas tidak memiliki tatapan polos seperti itu.” Gazan berenang mendekat dan menyentuh sumber cahaya terang tersebut tanpa rasa takut sama sekali.
“Kau! Aku pernah bertemu denganmu. Bagaimana mungkin kau bisa hidup sampai masa ini.”
“Gazan, kau sedang berbicara dengan siapa?” Tanya Gina yang tidak melihat siapapun di tempat itu selain ikan purba tersebut.
“Kau tidak perlu khawatir. Banyak hal yang tidak terpahami tapi tidak perlu dipahami. Yang kau lakukan cukup tidak bergerak sampai aku selesai.”
“Baiklah aku percaya pada keputusanmu,” Gina tersenyum dan tangannya mulai mengendur.
Gazan terkejut karena untuk pertama kalinya ada yang mengenali dirinya setelah sekian banyak makhluk kutukan dalam permainan tersebut.
“Bagaimana kau bisa mengenali diriku?” Tanya Gazan dengan penasaran.
“Aku tidak mungkin melupakan wajah arogan penuh kesombongan itu. Kau adalah petualang pertama yang kembali dari ujung dunia. Kaulah yang membuatku ingin pergi lebih jauh lagi hingga akhirnya aku…!” Perkataan ikan itu terhenti seiring dengan tatapannya dipenuhi penyesalan.
“Jadi kau juga bertemu dengan mereka bukan? Suku terlarang yang memiliki kemampuan kutukan. Katakan padaku apa yang kau lakukan sehingga mendapatkan kutukan ini?”
“Kutukan? Ya kau benar aku dikutuk setelah tidak memperdulikan seorang b***k dengan penampilan yang menjijikkan. Saat itu aku berpikir kalau ia pastilah mengidap suatu penyakit yang menular. Oleh karena itu aku enggan memberikan pertolongan kepadanya.”
“Lalu apakah kau benar - benar ingin melahap kami? Bukankah aneh seorang manusia memakan manusia. Dari gaya bicara itu kau pasti berasal dari keluarga terhormat bukan?”
“Apa? Aku pun tidak mengerti karena itu sudah tertanam di dalam pikiranku untuk melahap siapapun yang keluar dari lubang itu.”
“Setelah itu apa yang akan terjadi pada kami?” Tanya Gazan.
“Aku akan membawa kalian sampai pada titik yang sudah ditentukan. Apabila kalian berhasil bertahan selama itu di dalam perutku, berarti kalian bisa keluar dari perairan ini dengan selamat.”
“Oh ternyata kau hanya digunakan oleh mereka sebagai alat transportasi saja. Memangnya apa yang ada di dalam perutmu?”
“Kalau soal itu aku tidak begitu mengerti. Kadang aku merasakan ada yang bergerak didalam sana. Tapi aku tidak bisa melakukan apa dalam keadaan seperti ini. Ia berada pada bagian yang tidak bisa dipaksa untuk keluar.”
“Baiklah kalau begitu aku akan membantumu untuk membersihkan perutmu darinya.”
“Benarkah? Walau dalam wujud seperti ini, aku tidak pernah berpikir ada orang yang akan menolongku. Tapi kalau kau mau melakukan itu, aku Beluga tidak akan lupa akan kebaikan siapapun.”
“Sekarang bukalah mulutmu!”
Ketika Beluga membuka mulutnya maka tekanan air langsung membawa Gazan dan Gina masuk ke dalam perut ikan besar tersebut.
“Gazan, apa yang terjadinya?! Mengapa kita malah terhisap ke dalam mulut ikan ini?” Gina berusaha menahan diri karena takut.
“Apakah kau masih percaya padaku?” Gazan memegang kedua tangan Gina yang sedang dipenuhi ketakutan.
Keresahan Gina perlahan memudar karena apa yang dilakukan oleh Gazan tersebut.
“Tentu saja aku percaya padamu. Kau tidak akan meninggalkanku.”
“Apakah kau mau ikut bersamaku ke dalam kegelapan terkelam sekalipun?” Perkataan Gazan semakin serius seiring dengan tubuh mereka yang semakin terhisap ke dalam perut ikan tersebut.
“Tapi kau tidak akan meninggalkanku bukan?” Air mata mengalir tak terbendung akibat penyangkalan diri akan ketakutan yang memenuhi hatinya.
“Kegelapan tidak akan membuatku mengingkari janji. Perkataan seorang pria adalah janji yang dibawa sampai kepada kematiannya.”
Saat itu perkataan Gazan terkejut sangat tulus hingga menembus kedalaman jiwa Gina. Tapi ia sadari sudah memeluk pria itu karena rasa nyaman memenuhi kehadirannya. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam tubuh Beluga.
“Aku jadi ingat masa - masa itu,” gumam Beluga dan langsung berbalik badan untuk meneruskan perjalanan ke titik yang sudah ditetapkan.