Penguntit Menerima Akibatnya

543 Kata
Tidak jauh dari situ Zuka kebetulan lewat dan mengintip pertemuan tersebut. “Sepertinya nanti aku harus mengurus wanita yang bernama Milka itu karena berani berbuat kurang ajar terhadap tuan Gazan. Aku akan memberikan sedikit pelajaran agar bisa lebih sopan terhadap tuan Gazan. Tapi itu tidak penting kalau dia mati para permainan kedua ini.” Zuka pun pergi menuju kamarnya untuk menemui Gina. “Bagaimana? Apa informasi yang kau dapatkan?” Tanya Gina kepada Zuka yang baru saja memasuki kamar. “Untuk permainan berikutnya kita tidak bisa berlama - lama disini karena jalan menuju ke tempat itu hanya bisa dilalui saat malam hari.” “Kau bercanda! Apakah kau sudah lupa dengan serigala lapar yang sedang berkeliaran diluar saat ini?” “Tidak perlu khawatir karena jalan menuju tempat itu tidak seperti yang sebelumnya. Tapi aku yakin disana pasti ada rintangan lain yang tidak kalah dari serigala.” “Baiklah aku percaya padamu. Oya apakah kau bertemu dengan tim lain?” Tanya Gina. “Ya beberapa. Mereka tampak sangat mempersiapkan diri untuk mengikuti permainan panjang ini. Beberapa diantaranya adalah orang - orang yang terkenal dengan kemampuan mereka dalam bertahan hidup. Aku pernah melihat mereka di internet. Jangan percaya pada perkataan mereka!”  “Iya iya, memangnya aku bodoh sampai bisa tertipu oleh hal - hal murahan.” “Kita lihat saja nanti.” Zuka mengeluarkan kedua belatinya dan mengasahnya untuk dibawa pada permainan tersebut. Gina agak takut melihat benda itu karena sewaktu - waktu bisa saja dia yang menjadi korban. “Kau tenang saja Gina. Selama kau tidak mengingkari janji maka aku tidak akan melakukan apapun terhadap dirimu.” “Kau bukan lagi Zuka yang aku kenal. Zuka tidak sepertimu.” “Hahaha, memangnya kita pernah saling mengenal. Apa yang membuat dirimu berpikir kalau kau mengenalku?”  Gina hanyalah orang egois yang berpikir kalau orang lain bisa dikendalikan olehnya atas dasar kepentingannya sendiri. “Jadi sekarang kau mau membalasku?” Tanya Gina. “Aku tidak tertarik dengan perkara dangkal seperti itu. Masih banyak hal yang harus aku lakukan daripada  membalas dendam terhadap orang sepertimu.” Gina terdiam melihat respon Zuka yang begitu dingin.  “Kalau kau sudah selesai mengatakan sesuatu yang tidak penting, sebaiknya persiapkan barang - barangmu dan beristirahatlah yang cukup. Aku tidak mau kau memperlambat langkahku nanti.” “Mmm.” “Klak…!” Terdengar suara langkah kaki di depan pintu. Zuka memberi isyarat kepada Gina untuk diam dan matanya mengarah ke pintu. Perlahan dia melangkah menuju pintu untuk memeriksa keadaan diluar. “Cepat juga langkahnya.” Zuka melihat ke segala arah namun tidak melihat seorangpun ada disana. “Hey kau mau pergi?” Tanya Gina. “Tunggulah disini. Aku tidak suka ada yang menguping kita.”  Dengan kemampuannya Zuka dapat mengikuti bau keringat yang sangat menyengat masih tertinggal di depan pintu. “Ternyata kau disana.” Mata Zuka melirik kepada sebuah ruangan kecil yang pintunya keropos. “Hey tikus kecil, keluarlah karena ada yang harus kita bicarakan.” Zuka di depan ruangan tersebut. Beberapa kali dipanggil orang itu tidak kunjung keluar. “Kalau itu yang kau mau maka aku akan mengunci ruangan ini sehingga kau akan mati karena kelaparan disini. “Kreeek!” Terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam. “Sudah kuduga kaulah orangnya. Ada sesuatu yang harus dibicarakan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN