Ancaman Terhadap Gazan

551 Kata
Setelah Gazan dan Andris pergi meninggalkan kamar Gina, mereka langsung kembali ke kamarnya. Di perjalanan mereka bertemu dengan dua orang yang berpakaian seperti pemburu. Kedua orang itu adalah pria dan wanita yang bersenjatakan panah yang disandang pada bahunya. “Berhenti! Apakah kalian orang - orang pertama kali tiba di tempat ini? Katakan siapa kalian?” Gazan tidak mau berhenti dan terus melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan kedua orang tersebut. “Hey bodoh! Apakah kau tidak mendengarkan temanku yang sedang bertanya.” “Bukankah sebelum menanyakan nama orang lain seharus kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu. Sepertinya ditempat kau berasal tidak diajarkan etika.” Andris menatap berbalik badan dan menatap mereka. “Besarnya juga ternyata nyalimu. Padahal kalian hanya orang lemah yang beruntung, atau lebih tepatnya berbuat curang.” Si wanita menatap sinis. “Hahaha, lucu sekali mendengarnya dari orang yang datang paling akhir,” sahut Andris. “Jangan mulutmu! Kami curiga kalian pasti telah mendapatkan informasi khusus sehingga dapat berbuat curang bukan?” Wanita itu menghadang langkah Gazan dengan anak panahnya. “Kaulah yang harus menjaga mulut! Kami tidak melakukan hal memalukan seperti itu. Mungkin kami memang sedang beruntung sehingga dengan mudahnya mendapatkan kuncinya. Dari penampilan kalian seperti baru saja tiba di tempat ini. Bagaimana rasanya masih hidup setelah melewati hutan belantara?” Andris tersenyum menatap wanita tersebut. Mendengar perkataan itu membuat Gazan berbalik badan.  “Apakah begitu caramu menutupi kelemahan? Dengan berfitnah orang lain tanpa bukti.” Gazan berbicara dengan suara datar. “Dasar orang tidak tahu diri!” Wanita itu langsung mengarahkan panahnya yang siap ditembakkan kepada Gazan. “Lakukan dengan berani! Mungkin aku akan mati kalau kau cukup kuat menghujamkannya.” Gazan memegang kuat ujung anak panah tersebut dan mengarahkan ke dadanya. “Jangan main - main denganku!” Sahut wanita itu dengan suara yang murah bergetar. “Hentikan Milka! Bukan begitu cara memperlakukan seorang juara. Perkenalkan namaku adalah Natan, dan wanita yang bersamaku ini adalah Milka. Kami berasal dari tempat yang jauh sehingga tidak mengetahui budaya yang kalian anut.” Pria itu menurunkan senjata temannya. “Aku adalah Gazan.” “Aku adalah Andris. Apakah kalian sudah mendaftarkan diri untuk permainan berikutnya menuju pos dua?”  “Ya saat kami tiba disini langsung mendaftarkan diri. Setelah beristirahat sebentar kami akan langsung melanjutkan perjalanan. Sepertinya akan lebih aman menghabiskan banyak waktu diluar daripada di dalam sini. Apakah kalian sudah mau berangkat?” Tanya Natan. “Begitulah, sepertinya permainan berikutnya akan lebih menarik dibanding yang sebelumnya, jawab Andris. “Kami sudah mendengar medannya adalah tempat yang jarang dilintasi siapapun. Konon kabarnya para perlombaan sebelumnya banyak peserta yang gugur pada permainan ini.” “Wah wah wah, kalian tahu lebih banyak tentang permainan ini darimana kami.” Andris tersenyum. “Teruslah hidup sampai akhir,” kata Gazan. “Aku kira kau berharap kami lebih cepat gugur seperti tim yang lain.” “Jangan samakan aku dengan sampah - sampah itu. Aku mau bertanding dengan orang - orang kuat. Akan sangat membosankan apabila bertanding dengan orang yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri.” “Sombong sekali!” Celetuk Milka. “Sstt! Dia mengatakan yang sebenarnya. Jangan anggap remeh mereka. Bahkan dengan perlengkapan itu mereka dapat sampai kesini.” Natan melirik kepada Milka. Milka memalingkan wajahnya tidak terima dengan keadaan itu. Kemudian mereka berpisah di tempat itu dan pergi menuju kamarnya masing - masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN