Pengintai Yang Bersembunyi

643 Kata
Zuka langsung menundukkan kepalanya sampai tertutup oleh rerumputan agar tidak dapat dilihat oleh musuh. Dia pun memberi isyarat kepada Gina untuk menarik tali tersebut agar perbuatan mereka tidak ketahuan oleh siapapun yang sedang mengintai. Gina pun langsung melakukan apa yang diminta oleh Zuka walau tampak ragu - ragu. Beberapa saat kemudian barulah tidak lagi terdengar langkah - langkah kaki tersebut. Zuka kemudian perlahan memanjat pohon tersebut menggunakan tangan kosong. Bahkan dia pergerakannya lebih cepat daripada Gina yang tadi menggunakan sebuah tali. Gina terkejut melihat kemampuan Zuka yang dapat melakukan apa yang seharusnya harus bisa dilakukan oleh oleh pria. Begitu sampai di atas dekat dengan Gina, Zuka langsung mengambil posisi yang tepat untuk memantau pergerakan musuh. “Gina, apakah kau melihat sesuatu?” Tanya Zuka yang sedang mengeluarkan sebuah teropong dari tasnya. Tapi sayangnya Gina masih shock melihat kemampuan dari Zuka tersebut. Baginya seorang wanita hanyalah makhluk lemah yang harus dilindungi oleh seorang pria. “Ada apa denganmu Gina? Mengapa kau hanya duduk mematung disana?” Zuka terus memanggilnya dari dahan yang lain. “Oya ada apa?” Gina tersadar dari lamunannya. “Apakah ada yang salah sehingga hanya berdiri saja disana. Kita sebenarnya harus secepatnya menemukan kunci dari petunjuk yang diberikan sebelum didahului oleh yang lainnya?” “Kau! Siapa sebenarnya dirimu? Bagaimana mungkin kau dapat memanjat pohon setinggi ini begitu mudah seperti hanya menaiki sebuah meja saja?” Gina tidak melepaskan pandangannya dari Zuka yang telah membuatnya sangat takjub. “Anggap saja aku pernah mengikuti pelatihan panjat tebing dari seorang atlet profesional. Lagipula memanjat pohon ini bukanlah hal yang sulit karena jarak rantingnya yang cukup berdekatan. Jadi kau hanya perlu melangkah dengan hati - hati saja.” “Alasanmu masuk akal. Pasti aku masih belum bisa terima karena kau hanya seorang wanita dengan fisik yang tidak berbeda jauh dariku. Pantas saja kau berpikir dapat mengalahkan para lelaki itu.” Zuka sebenarnya terkejut akan reaksi Gina dan hampir tidak bisa mencari alasan yang tepat atas pertanyaan tersebut. “Hey, kembali ke pokok permasalahan. Apakah kau melihat sesuatu dari atas sini. Kita naik kesini bukan untuk bermain - main.” Zuka berusaha mengalihkan perhatian Gina yang mulai curiga terhadap dirinya. “Oh ya, aku belum melihat apapun tanda - tanda dari orang yang mengintai kita. Tapi aku percaya pada kemampuanmu dalam membaca peta tersebut. Aku dapat melihat pos pertama dari tempat ini dan seperti yang kau bilang kalau ini adalah rute terdekat untuk mencapai tempat ini.” Zuka pun tenang karena Gina mulai tidak berpikir yang aneh - aneh tentang dirinya lagi. Dengan rasa percaya itu dia tidak perlu repot - repot menjelaskan kepada Gina akan strategi kedepannya.  Demikianlah mereka menunggu sampai keadaan menjadi aman agar dapat dapat meneruskan perjalanan untuk mencari kunci menurut petunjuk pada gerbang tadi. Beberapa saat berlalu pada tengah hari mereka terpaksa makan siang di atas pohon. Setelah itu mereka pun beristirahat sejenak. “Zuka, lihat aku menemukan sesuatu disini!” Gina berteriak dan mengejutkan Zuka yang sedang mengamati keadaan. “Kau menemukan apa?” Tanya Zuka sambil berjalan dengan hati - hati mendapati Gina yang berada dibalik rimbunnya dedaunan di atas pohon yang besar itu. Zuka terkejut ketika melihat adanya suatu jalur seperti sebuah jembatan di atas pepohonan tersebut. Setiap dahannya saling terkait satu sama lain sehingga kelihatan cukup kuat untuk dilintasi manusia. “Ternyata kau ada gunanya juga.” Zuka tersenyum melihat Gina yang duduk disitu sambil berpegang kepada ranting pohon. “Apa maksudmu? Padahal aku sudah susah payah untuk menemukan tempat ini tapi kau malah berlaku tidak sopan padaku.”  “Jangan - jangan kau mau menangis dan merengek ingin pulang hanya karena perkataan seperti itu. Menyedihkan! Manusia zaman sekarang mentalnya sangat jauh dibawah kami pada zaman dahulu.” Zuka pergi mengambil perbekalan untuk dapat melanjutkan perjalanan. “Apa kata - katamu yang terakhir tadi?” Gina penasaran karena jarang sekali Zuka bersikap seperti orang tua begitu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN